yogifajri yogifajri

266 posts   1,331 followers   808 followings

Muhammad Yogi Fajri  Makelaar Tjerita

Sisa-sisa dari sistem "Schutsluis", sebuah pintu air yang mengatur lalu-lintas kapal untuk melalui perairan yang memiliki perbedaan ketinggian. Sistem ini selesai dibangun pada 1878 untuk mengatur arus keluar masuk kapal dari Kali Baru yang merupakan sebuah jalan pintas menuju aliran Kali Semarang langsung ke Groote Boom, sebuah pelabuhan niaga di dekat Kawasan Kota Lama Semarang
.
.
.
Sebuah saksi bisu kejayaan aktivitas niaga yang menjadikan Semarang sebagai kota niaga penting di pesisir Utara Jawa. Kini tak lagi berfungsi, ditutup dan diatasnya dibangun pompa air untuk mengatasi problematika banjir. Kali Semarang tak selamanya membawa berkah bagi Kota Semarang, salah kelola berdekade-dekade lamanya, membuat lingkungan terdegradasi, jejak sejarah pun turut lenyap
.
.
.
Ilustrasi:
1. Schutsluis op Kali Baroe 1927 (KITLV)
2,3. Kondisi saat ini
4. Ilustrasi video cara kerja sistem ini, omong² saya juga tidak ada bayangan seperti apa sampai saya berkesempatan berkunjung ke negeri "pengendali air" Maret silam
.
.
.
Selengkapnya di http://yogifajri.blogspot.com/2018/09/kali-semarang-main-artery-of-commerce.html?m=0

Instalasi air bersih yang dibangun paling akhir di masa kolonial untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Kota Semarang, Sumber Kalidoh, di Ungaran. Sebelumnya, Gemeente (pemerintah Kotapraja) Semarang telah membangun instalasi air bersih di Moedal dan Ancar, keduanya di wilayah Gunung Pati pada dekade 20an. Sumber Kalidoh sendiri instalasinya diresmikan pada 18 Juni 1932 sebagaimana diberitakan oleh De Indische Courant pada 20 Juni 1932
.
.
"Semarang, 18 Juni (Aneta). Hedenmorgen heeft nabij Oengaran de aansluiting plaatsgehad van de Kali-Doh-bron met het net der Semarangsche waterleiding, welke plechtigheid werd bijgewoond door vele genoodigden en provinciale en gemeentelijke autoriteiten, zooals den gouverneur van Midden-Java, de residenten Brinks en Bijleveld en de burgemeesters van Semarang en Salatiga."
.
.
Peresmian yang dihadiri oleh pejabat-pejabat pemerintahan Provinsi Jawa Tengah, Karesidenan Semarang juga Kotapraja Semarang dan Salatiga diabadikan dengan sebuah prasasti yang ditatah disebuah batu besar di bagian belakang kompleks. Sayang kondisinya jamuran, dan lambat laun bisa sulit terbaca, mesti dapat perhatian khusus dari Pamong Budaya dan Arkeolog andalan Pemkab Semarang bung @trisubekso nih! #pdamsemarang #watermonitoringday #myheritagetrip

"Sekarang tibalah saatnja kita benar-benar mengambil nasib-bangsa dan nasib-tanah-air didalam tangan kita sendiri. Hanja bangsa jang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnja."
.
.
.
"The time has come for Us to take the fate of the nations and the fate of the fatherland in our own hands. Only the nations who dare to set their destiny on their own hands who will be able to stand firmly." .
.
.
~Ir. Soekarno, 1st President of Republik Indonesia at His speech before the proclamation of Independence, August 17th 1945
.
.
.
📷 : @harsamura - 70th RI : Histori Masa Depan
🎵 : Guruh Soekarnoputra - Melati Suci

#toward #indonesia #independenceday #bulankemerdekaan #merdeka #tujuhbelasan

Penerangan jalan jaman baheula kayak gimana ya? Mungkin kebanyakan mikir jaman simbah dulu jalanan penerangannya pake obor alias ontjor kalo pake bahasa sini. Nah, di sebuah artikel De Locomotief tertanggal 3 Juni 1901 diceritakan bagaimana penerangan jalan yang sudah "kencar²" dimasanya (kalo dibandingkan jaman sekarang mgkn masih dalam taraf remang²). Ditulis dalam artikel tersebut, "...penerangan jalan di kota Semarang yang berbahan baku gas sudah mulai menerangi jalanan kota, seperti yang terlihat di sepanjang jalan Poncol sejak tanggal 1 Juni. Jalanan kini tampak lebih indah dengan hilangnya tali² yang mengganggu pemandangan dimana sebelumnya lampu² digantungkan..."
.
.
.
Mungkin banyak dari kita yang belum tau bahwa dulu jaringan penerangan jalan dan rumah tangga awal mulanya menggunakan jaringan gas. Pada 1895 jaringan gas mulai dibangun di Semarang dengan sumber dari batu bara yang diolah di Pabrik Gas Sleko, di dekat Kawasan Kota Lama Semarang. Perusahaan Nederlandsch Indische Gas Maatschappij (NIGM) yang melakukan produksi serta distribusinya. Kelak NIGM dinasionalisasi dan menjadi PT. Gas Negara (PGN).
.
.
.
Penggunaannya sebagai sumber penerangan tergantikan oleh jaringan listrik yang mulai masif digunakan di Kota Semarang setelah dibukanya PLTA Jelok pada 1937. Namun jaringan gas kota tetap dipertahankan untuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Tempo hari saat mampir ke bekas lokasi produksi Kopi Margoredjo @dharmaboutiqueroastery, diceritakan bahwa dahulu mesin-mesin pengolah biji kopi menggunakan jaringan gas kota, sebelum akhirnya tidak aktif lagi dan kini justru menggunakan tabung gas LPG.
.
.
.
Nah, ilustrasinya kok foto rumah? Well, rumah bukan sembarang rumah bung! Rumah ini merupakan rumah dinas milik NIGM di Gang Schmalz, lebih sering disebut gang semal oleh penduduk sekitar. Dahulu dibelakang rumah ini terdapat fasilitas pengolahan gas, yang nampaknya untuk keperluan penerangan di kawasan "heuvelstad" atau Semarang atas. Hingga akhirnya hanya tersisa rumah berlanggam indisch ini yang sempat menjadi tempat nongkrong anak² gahul ibukota...Jawa Tengah 😬 ayo coba tebak!

꧋ꦄꦗꦏꦼꦩꦶꦤ꧀ꦠꦼꦂ꧈ꦩꦸꦤ꧀ꦢꦏ꧀ꦏꦼꦧ꧀ꦭꦶꦔꦼꦂ꧉ꦄꦗꦕꦶꦢꦿ꧈ꦩꦸꦤ꧀ꦢꦏ꧀ꦕꦶꦭꦏ꧉ꦯꦶꦁꦮꦱ꧀ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦮꦱ꧀꧉
.
.
.
Never think that you're the most intelligent, thus you might lose your way of life. Never act mischievous to cheat on other, thus other will not harm you. Anyone who hesitated are lost or lose. #javanese #proverb
.
.
.
P.S. my first post with Javanese letter, I thought the instagram couldn't display it but I was wrong! well, can you read it? 😉

The eighth-tallest office building in the world in the distance. #ifctower #hkskyline #skycraper #bw #throwback

Pada tahun 1910, seorang pelukis yang juga seorang arsitek Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen merancang sebuah kawasan pemukiman yang bisa jadi merupakan "real estate" yang pertama-tama di Indonesia. Moojen menyulap sebuah lahan kosong di pinggiran Weltevreden ini menjadi sebuah "tuinstad" atau kota taman. Melalui pengembangnya yakni N.V. Bouwploeg (kantornya yg skrg jadi Masjid Cut Meutia, dus sring kali disebut Masjid Boplo) mengembangkan kawasan yang diberi nama Nieuw Gondangdia, namun lebih dikenal sebagai kawasan Menteng. Perencabaan dan penataan kawasan pemukiman ini masih dipertahankan hingga kini, menjadi salah satu kawasan hijau ditengah-tengah hiruk-pikuknya Kota Jakarta.

Nah, uniknya, dikarenakan latar belakang Moojen yg seorang seniman lukis ini, Ia mendirikan sebuah perkumpulan seni bernama Bataviasche Kunstkring. Bahkan gedungnya menjadi sebuah penanda masuk kawasan Menteng dari arah utara yang memang dahulu merupakan akses utama menuju kawasan ini. Bangunan ini bergaya "Nieuwe Indische Bouwstijl" yang merupajan gaya arsitektur modern yang dikombinasikan dengan elemen lokal untuk menyesuaikan dengan iklim tropis. Dahulu pada bagian lantai dasar digunakan sebagai area komersil sedangkan di lantai atas baru digunakan untuk Bataviasche Kunstkring beraktivitas yg pada umumnya adalah mengadakan bermacam pameran seni.

Gedung ini sendiri sempat berganti² fungsi mulai dari kantor Majelis Islam A'la Indonesia pada Jaman Jepang (cikal bakal MUI) lalu sempat menjadi kantor imigrasi sepanjang dekade 50an, dus dari situlah tulisan IMMIGRASIE di fasad depan berasal. Lalu sempat terbengkalai lama bahkan dijarah, kini bangunan ini sukses direstorasi dan menjadi sebuah restoran dan bar milik Jaringan Tugu Hotel yang masih melestarikan nama lawas gedung ini, Kunstkring. #myheritagetrip

Ada yang anaknya sudah lepas dari status balita, ada yang baru aja dapet anak, ada yang sedang berencana bikin anak secara sah dan legal di mata hukum negara dan agama 😉 yang jelas, enggak riwil nanya satu sama lain soal "kenapa" atau "kapan". Berkawan setelah bertahun-tahun terkadang juga menguji kadar toleransi, karena tidak semua standardisasi kebahagiaan itu sama. Disini saya merasa beruntung masih memiliki kawan lama yang menghargai jalan hidup masing-masing kawannya, karena terkadang makin nambah usia, bergaulnya hanya dengan yang "setara" pencapaiannya baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Matur nuwun sanget genks! #oldfriendsneverdie #schoolmates

Errembault de Dudzeele et d’Orroir was a Dutch Army captains, a veteran of Napoleonic Wars and later comissioned thousand miles away from His homes to Java as "Java Oorlog" (eng: Java War) broke out in 1825 till 1830. Almost 150 years later, His diary founded by a French researchers, Henry Chambert-Loir in a flea market. One of the interested part from His diary was His records on the Battle of Plered as part of Java War, one's of the bloodiest war on Java lead by Dipanegara, a Javanese Prince that choose to revolt against Dutch possession in Java.

Errembault described the battle that occured on June 9th 1826 in “Plerette" (Plérèd), a former sultanate residence but was neglected for a long times. It has a fortification of stoned wall, 7 meters high with the length of over 1,5 kilometers. The battle starts at five in the morning with the combination of Dutch Army and "Hulptroepen" with the strength of 4.200 soldiers. They began with shelling the wall but failed to tear it down as They also got a persitent attacks from the Dipanegara troops by several howitzers and plenty of muskets that made it hard to reach by ladder. Then They found a weak perimeter that made the possibility to storms the Dipanegara troops insides this ancient fortifications.

The Dipanegara troops disintegrates as They trying to save themselves from flashing sabres from Dutch cavalry. "Then the terrible massacres begun, thousands of them were killed by our bayonets", wrote Errembault described the events that thousands of the Dipanegara troops were slaughtered on that day. The battle ended at dawn and celebrated by looting as the soldiers try to get their war trophy. As well as Errembault as in His diary He wrotes, "for me a good horses is enough, and also a good sword and a pieces of golden rings in the form of snakes with seven diamond on top of it" #liburandikbud2018

Sources: National Geographic Indonesia - Perang Dipanegara dalam Catatan Harian Serdadu Semasa

Illustration:
1. Ruins of Grand Mosque of Plered, part of the Sultanate residence still in archaeological excavations by Gajah Mada University.
2. Skecth titled "Bestorming van Pleret" by G. Kepper, depicted the Battle of Plered.

Iftaar is when families and friends gather together at sundown to break their fast, well iftaar literally translates as 'break fast'! Farewel dinner as well as family gathering also, what an evening! ☺️ #ramadhan2018

So, I dedicated this post for your first day in instagram broer @roelvandercruijsen! Finaly 😁
.
.
.
📷: @jescadewaal

Kita menatap langit, eh tebing yang sama ⛰️

Most Popular Instagram Hashtags