[PR] Gain and Get More Likes and Followers on Instagram.

#senirupakontemporer

가장 최근의

Seni Kaligrafi Islam – D. Sirojuddin A.R.
.
Buku ini mengurai asal-usul kaligrafi dan pembentukan gaya-gaya khas beserta tokoh-tokohnya sejak masa awal Islam hingga masa kontemporer. Penjelasan mengenai rumus dan gambar-gambar para kaligrafer juga dicantumkan untuk memberi gambaran yang lebih terperinci tentang seni kaligrafi. Melalui buku ini kita akan mengetahui posisi kaligrafi dalam peradaban Islam sehingga kita akan lebih arif memandang warisan agama yang selama ratusan tahun menduduki posisi terhormat.
.
.
.
#bukusenirupa #senikaligrafi #kaligrafiislam #seniislam #senirupaislam #karyaseni #sejarahkaligrafi #senirupakontemporer

Fauzie Asad
Bekasi, 1968
.
1, Fauzi Asad selain menjadi pematung, anak ketiga dari 6 bersaudara ini juga melukis. Ia memandang seni sebagai bahasa universal yang tanpa batas. Dengan karyanya, Fauzie mengekspresikan seluruh apa yang dialami dan dirasakan dalam jiwanya dengan sentuhan dan balutan seni kontemporer. .
2, Fauzie belajar di Akademi Desain dan Interior Jakarta pada 1987 hingga lulus 1988. Pada tahun 1989 sampai 1994 ia melanjutkan studi di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Kemudian pada 1997 sampai 1998 ia belajar dan bekerja di Seni Patung Laboratory, di Luigi Corsanini, Carrara, Italia. .
3. Beberapa beasiswa didapatkannya. Salah satunya dari Pemerintah Kerajaan Liechtenstein untuk Studi Seni Rupa dan Budaya secara mandiri di Berlin, Paris, dan London (2000-2001). Beasiswa pertama VP-Bank Kultursipendum dari VP-Bank di Vadus, Liechtenstein. .
4. Pameran tunggal Fauzie pernah digelar di beberapa negara seperti Indonesia, Amerika Serikat, Yunani, Liechtenstein, Swiss, dan Jerman. Selain itu ia juga aktif berpartisipasi dalam pameran kelompok di beberapa negara. .
5. Dalam hal seni, Fauzie mengagumi China. Saat mengikuti Symposium Seni Patung Internasional VII di Changchung 2004, ia menuturkan pelbagai pengalaman dan pengamatannya tentang budaya, khususnya dunia seni rupa China hingga menjadi yang terbaik di dunia. .
6. Lewat karyanya, Fauzie berharap dapat menjadikannya monumen kesadaran manusia. Bahwa ternyata kita masih berada di satu sisi bumu. Karena itulah manusia harus menjaga perdamaian dan persahabatan di manapun berada, termasuk seniman yang diharapkannya juga membangun kebersamaan. . . . .
#tokohsenirupa #bukusenirupa #senirupakontemporer #senirupa #faktaseni #seniman

The Indonesia Idea karya @galam_zulkifli. Lukisan yang kompleks, bukan hanya teknik dan warna, tapi juga makna historik dan kontroversi yang mengiringinya. Nyaris dua tahun dikerjakan secara intensif hingga mencapai sempurna dan lengkap. Di INIseum, lukisan ini bisa dilihat dengan menggunakan lima mata dalam tiga keadaan: gelap total, gelap dengan ultraviolet, dan terang. Video 60 detik ini merangkum seluruh proses pembuatan The Indonesia Idea atau ID yang dikerjakan sejak 2016 itu.
#theindonesianidea
#galamzulkifli
#indonesiaidea
#iniseum
#lukisanbandara
#soekarnohattaairport
#bandarasoetta
#masterpiece
#galerinasional
#senirupakontemporer
#lukisanindonesia
#arsipsenirupa
#indonesiabuku
#sejarahindonesia
#RI
#indonesia

Budi Ubrux
Yogyakarta, 1968
.
1, Manusia Koran dari Bantul. Julukan itu lekat dengan Budi Ubrux. Seniman yang menggunakan koran sebagai material dalam lukisannya. Material koran dipakainya sejak 1999. Budi begitu lihai memainkan keindahan setiap lipatan, lekukan, dan detail-detail koran. Ia menggunakan korang sebagai kekuatan visual.
.
2, Dia menjadikan koran sebagai fakta sosial. Menjadi topeng sekaligus tempat persembunyian manusia-manusia kota dengan masalah-masalah yang dihadapinya. Ketelitian dan observasi yang mendalam serta akurat dibutuhkan untuk menciptakan detail karyanya. Huruf demi huruf pada karyanya dibuat sedemikian detail.
.
3, Pelbagai koran digunakan Budi untuk membungkus objek-objek lukisannya. Tidak hanya koran dalam negerim, tetapi memakai koran-koran terbitan luar negeri. Setiap koran memiliki tekstur yang berbeda sehingga tekstur karyanya pun akan berbeda.
.
4. Budi mulai berkarya dengan koran antara tahun 1997-98, ketika gejolak sosial dan politik bergema melalui kata-kata yang memenuhi halaman koran. Koran mempunyai dampak mendalam pada kebudayaan Indonesia. Terlebih setelah memasuki era reformasi yang menjamin kebebasan pers.
.
5. Melalui koran Budi menyerap kebisingan perkotaan, politik dan sosial dengan rinci kemudia menuangkannya di atas kanvas. Lukisan Budi menunjukan kecenderungan menonjolkan kekuatan bentuk dengan komposisi yang diperhitungkan dan rasional.
.
6. Karyanya tidak sebatas menyajikan wacana tekstual yang indah dinikmati dari nilai struktural (nilai intraestetis) dan nilai simbolisnya (nilai ekstra estetis) semata. Namun lebih menawarkan kesadaran yang kontekstual, atas kepekaannya dalam merespon kondisi sosio kultural.
.
7, Dari bahasa visualnya, terekam keterasingan dalam karya-karya Budi. Sejumlah figur terkadang saling membungkus atau menutup koran dalam berbagai konfigurasi. Kehadiran figur dalam lingkaran komunitas itu bukan atas nama eksistensi dirinya, melainkan orang lain yang seluruh tubuhnya dikepung oleh media, yaitu koran.
.
.
.
.
#tokohsenirupa #faktasenirupa #senirupa #bukusenirupa #senikoran #bukusenirupa #senirupakontemporer

@Regranned from @jurnalkarbon - Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~

Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~

Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~

http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~

Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~

Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~

#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #gudangsarinahekosistem - #regrann

Peran Biennal dan museum (kita) yang sakit-sakitan.
Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~

http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~
• • •
#Repost @suryodarmomel @bertotukan
• • •
@Regranned from @jurnalkarbon - Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~

Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~

Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~

http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~

Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~

Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~

#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #gudangsarinahekosistem - #regrann

Tulisan Edo 💜💚❤🙏🙏🙏 #Repost @bertotukan • • •
@Regranned from @jurnalkarbon - Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~

Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~

Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~

http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~

Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~

Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~

#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #dirdhoadithyo #gudangsarinahekosistem - #regrann

Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~
Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~
Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~
http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~
Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~
Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~
#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #gudangsarinahekosistem

Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~
Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~
Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~
http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~
Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~
Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~
#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #gudangsarinahekosistem

Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~
Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~
Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~
http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~
Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~
Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~
#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #gudangsarinahekosistem

@Regranned from @jurnalkarbon - Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~

Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~

Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~

http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~

Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~

Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~

#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #gudangsarinahekosistem - #regrann

Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~
Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~
Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~
http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~
Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~
Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~
#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #gudangsarinahekosistem

Terbaru di RUBRIK TELAAH Jurnal Karbon, “Demam Bienial: Gejala, Sumber dan Mutasinya” oleh Dirdho Adithyo ~

Berangkat dari hendak menelaah JIWA: Jakarta Biennale, Dirdho Adithyo di dalam tulisannya ini mencari tahu latar sejarah kemunculan peristiwa bienial-bienial di dalam seni rupa kontemporer kita. Dirdho menyatakan bahwa bienial adalah gejala khas seni kontemporer yang dimungkinkan pula dengan kemunculan gejala globalitas. Bersamaan dengan itu, ia menunjukan pula bahwa kemunculan gejala bienial ini melegitimasi pula kemunculan kurator sebagai bintang. Namun demikian, ada perbedaan yang begitu besar—meskipun juga tidak sedikit kesamaannya—antara bienial-bienial di mancanegara dan bienial-bienial di dalam negeri. Demikian Dirdho Adithyo, “apabila di negara-negara Barat, peristiwa bienial dianggap penting karena berhasil melegitimasi karya-karya seni kontemporer ke dalam kanon museum, maka, sebaliknya, di dalam negeri, peran bienial penting sebagai pengganti museum yang keberadaannya sakit-sakitan.” Tulisan ini juga memaparkan perihal hubungan ideologi dan kurasi di dalam sebuah bienial. ~

Baca selengkapnya di RUBRIK TELAAH www.jurnalkarbon.net. Atau di bio ig @jurnalkarbon ~

http://jurnalkarbon.net/web/id/telaah/demam-bienial-gejala-sumber-dan-mutasinya/ ~

Saat ini hanya tersedia di dalam Bahasa Indonesia. ~

Silahkan mengirimkan tulisan Anda atau ide tulisan Anda untuk Jurnal Karbon melalui surel jurnalkarbon@gmail.com ~

#bienial #senirupakontemporer #documenta #kurator #kajianseni #kajiansenirupa #senirupaindonesia #sejarahsenirupa #jurnalkarbon #ruangrupa #gudangsarinahekosistem

#sold Dua Seni Rupa - Sanento Yuliman | 175k
.
"Dalam abad pluralisme yang kini semakin mewujud, seni rupa 'yang lain' itu bukan lagi seni rupa marjinal, tapi seni rupa yang membawa kebedaan dan justru itu merupakan elemen diskursif wacana seni rupa, dalam dataran yang sama sekali baru. Keyakinan bahwa nilai-nilai seni rupa tidak universal, yang muncul sudah pada 1970-an, ketika ia berpulang tahun 92, sudah menjadi nyata" Jim Supangkat - Pengantar.
.
Dalam keragaman tulisannya, Sanento menyangkal pandangan serba tunggal, yang menganggap hanya ada satu seni rupa (dengan satu tata acuan), dan hanya ada satu masyarakat, yaitu masyarakat seluruh (global) yang dibayangkan sebagai masyarakat yang utuh dan padu.
.
Demikianlah, bagi ia, sejarah seni rupa kita bukan rentang satu garis lurus. Berbagai tradisi seni rupa dalam masyarakat kita mempunyai kalan sejarah berbeda-beda. Sebagian kini punah, sebagian hampir punah, sebagiannlagi menyesuaikan diri dengan perubahan, bahkan berkembang.
.
#senirupaindonesia #bukusenirupa #bukuduasenirupa #sanentoyuliman #jimsupangkat #wacanaseni #sejarahsenirupa #senimanindonesia #senirupakontemporer #diskursus

MENIMBANG RUANG MENATA RUPA - Mikke Susanto | 125k
.
Sejauh ini buku paling representatif terbitan indonesia terkait Manajemen Seni
.
Buku penting untuk pengelola seni. Buku Menimbang Ruang Menata Rupa membekali kurator, seniman, pemilik galeri, mahasiswa seni, kolektor, pengelola museum dan pecinta seni lainnya untuk menata dan mengelola ruang pameran.
.
Buku ini memperluas wawasan dalam mendesain ruang wajah dan tata pameran seni rupa. Kajian di dalamnya berisi tentang pengertian dan jenis pameran, ruang pamer, karya seni , kreasi dan kurator, siasat public dan media massa, pembuatan portofolio perupa dan strategi teknis lainnya.
.
#bukusenirupa #manajemenseni #mikkesusanto #sejarahseni #pasarseni #ekologiseni #senirupaindonesia #artmanagement #artorganizer #senirupakontemporer #globalart

Dari Kandinsky Sampai Wianta:
Catatan-catatan Seni Rupa (1975-1997) - Siti Adiyati |
.
Buku ini berisikan tulisan-tulisan Siti Adiyati yang mencakup 6 buah esai dan 32 tulisan dari peristiwa, pameran, dan pasar seni rupa. Siti Adiyati merupakan salah satu seniman dalam perhelatan JIWA: Jakarta Biennale 2017 dengan menampilkan karya “Eceng Gondok Berbunga Emas” (1979). Buku “Dari Kandinsky Sampai Wianta, Catatan-catatan Seni Rupa (1975-1997)” diterbitkan sebagai publikasi dan catatan-catatan sejarah dari pergerakan seni rupa di Indonesia dan juga beberapa peristiwa seni rupa Internasional dalam periode 1975 hingga 1997. Buku ini dilengkapi oleh dokumentasi-dokumentasi karya seni yang dibahas di dalamnya.
.
Atiek, begitu panggilan akrab Siti Adiyati, membagi buku ini menjadi dua bagian. Bagian pertama menghadirkan tulisan tentang Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (dan juga menjadi anggota dari gerakan tersebut), pasar seni rupa di Paris, pameran retrospektif Kandinsky, sensasi piramida kaca museum Louvre, hingga ulasan-ulasan pelukis-pelukis Indonesia seperti Hendra, Affandi, Sudjojono, Srihadi, Mochtar Apin, hingga Dede Eri Supria. Pada bagian kedua, Atiek menghadirkan tulisan-tulisan dengan tema lebih luas, di seputar kritik seni, gerakan seni dan hubungan seni, dan kebudayaan. Kita akan diajak untuk mengetahui bagaimana proses seniman-seniman bekerja, bagaimana mereka mencari, bertahan dan berusaha keluar dari jebakan masing-masing. Ia memperhatikan kelindan antara kehidupan seniman dan karyanya, antara secercah pikiran dan pasang-surut mood mereka. Tulisan Siti Adiyati adalah catatan-catatan yang menarik untuk disimak dalam melihat perkembangan dunia seni rupa, khususnya di Indonesia.
.
#bukusenirupa #senirupaindonesia #gsrb #sejarahsenirupa #senirupakontemporer #bookart #artbook #bookofart #bookaboutart

Seni Setelah Tahun Dua Ribu – Achille Bonito Oliva |
.
Achille, pada saat buku ini ditulis masih mengajar sejarah seni di Sapienza University, Rome pada bab awal buku bersibuk memetakan berbagai kecenderungan peristiwa seni yang paling menarik di dunia barat atau gerakan-gerakan penting yang dianggap avant garde , dilanjut gejala trans-avantgardia yang kebetulan penggagas utamanya adalah dia sendiri, terutama mengulas karakter seni ke-Eropa-an dan lawannya: seni dengan karakter ke-Amerika-an. Ia bertutur bagaimana terjadi berbagai transformasi dalam bentuk, sejarah seni dan pemaknaan serta kehadiran produk seni di masyarakat barat yang berpengaruh terhadap apa yang disebut “seni rupa dunia” sejak tahun 1960an.
.
Langgam tulisan Achille hendak bicara banyak bahwa peta seni sejagad telah bergeser, terutama setelah era 2000. Seni rupa dunia, karena desakan berbagai penemuan teknologi, media massa internasional, kesadaran reflektif seniman terhadap globalisasi sekaligus pengukuhan kembali seni lokal mengadopsi apa yang disebut sebagai munculnya trend glokal: sebuah dialog yang muncul karena arus lokal yang bertemu dengan arus utama seni kontemporer barat. Menurut Achille, peristiwa ini karena pengaruh berbagai “kritisisme” gerakan seni dunia barat sendiri.
.
Dalam sub bab dua, terutama dalam pembahasan diaspora seni, dengan memikat Achille mengemukakan pendapatnya bahwa akhir abad 20 ini didominasi munculnya ketegangan yang dianggap globalisasi sekaligus tribalisasi. Dalam ranah seni, ini artinya para seniman secara luwes tak hendak menolak internasionalisasi atau bersikukuh menemukan “yang berakar lokal dan individual saja”, namun kedua strategi ini dilakukan berjalan bersisian dalam ekspresi visual mereka dengan memakai berbagai contoh seniman tak hanya di dunia barat.
.
#bukusenirupa #teoriseni #sejarahsenirupa #senirupaindonesia #bukusenirupa #achillebonitololivo #senirupakontemporer #contemporaryart #artglobal

What I Really Love to Do is Trivial - Bunga Jeruk |
.
Pameran seni rupa patung keramik bertajuk 'What I Really Love To Do Is Trivial', bercerita tentang kehidupan anak di masa sekarang.
.
#emmitangallery #bungajeruk #sculpture #ceramic #emmitanart #bukusenirupa #senirupakontemporer #sejarahsenirupa #artbook #artaboutbook #bookofart

ENDORPHIN | Kumpulan Cerita dan Rupa | R.E. HARTANTO
.
Seorang pembunuh bayaran disewa untuk menghabiskan nyawa seseorang. Ia menghabiskan waktu seribu tujuh puluh enam hari sampai akhirnya menemukan bahwa targetnya ternyata sudah mati dan menjadi hantu. Wajah hantu itu sangat mirip dengan nenek si pembunuh yang dicintainya, yang sudah wafat bertahun-tahun lalu. Pembunuh itu pensiun dari pekerjaannya lalu menetap di pedesaan dan menjadi penulis sampai meninggal. Kisah-kisah dalam buku ini ditemukan di pondok tempatnya tinggal.
.
.
.
#endorphin #rehartanto #mojok #bukusenirupa #kisahrupa #senirupakontemporer #cerpensenirupa

Turning Targets: 25 Tahun Cemeti -
.
Pendiri Cemeti Art House, Mella Jaarsma mengatakan, buku ini ditulis untuk membantu masyarakat khususnya generasi muda dalam mengenal sejarah perkembangan seni rupa di Indonesia utamanya seni kontemporer.
“Lewat buku ini kita bisa mengetahui bagaimana persepsi para seniman terhadap waktu berkaryanya, bagaimana sejarah teritorial yang berjalan di Indonesia saat ini,”
.
Sebagian besar isi buku ini berupa artikel yang mengulas sejarah Cemeti Art House, sejarah kolonial, proyek seni, persoalan infrastruktur, manajemen perkembangan seni rupa, dimensi waktu, residensi, kurasi, dan penelitian dalam menciptakan karya yang terbagi dalam 17 artikel.
.
Dalam pembuatan buku ini melibatkan beberapa pakar sebagai tim penyusun yang terdiri dari seniman, kurator, peneliti, penulis, direktur artistik, dan sejarawan. Beberapa penulis mancanegara seperti dari Malaysia, Singapura, Belanda dan Australia juga turut andil.
.
Mella berharap buku ini dapat menginspirasi dan menstimulasi kreativitas masyarakat khususnya generasi muda, serta menyuguhkan perspektif pemahaman baru tentang perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. "Agar seni rupa bisa menjadi cara untuk menghargai, menghormati serta menghayati kebudayaan yang ada. Bukan hanya ajang pasar industri saja, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri,”papar Nindityo Adipurnomo yang juga merupakan arsitek dibalik berdirinya Cemeti.
.
#cemetiarthouse #galericemeti #rumahsenicemeti #sejarahsenirupaindonesia #senirupakontemporer #yayasansenicemeti #mellajaarsma #nindityoadipurnomo #indonesianart

가장 인기있는 인스타그램 해시 태그