#rayakankeberagaman

148 posts

TOP POSTS

Aku Annisa Safitri
Warga negara Indonesia
Dilahirkan di Surabaya
Tinggal di Ponorogo
Aku sangat menghargai perbedaan karena..
Aku,kamu, kita itu Bhinneka Tunggal Ika
#kamiindonesia
#bhinnekatunggalika #rayakanperbedaan #rayakankeberagaman

Para penata musik Film Indonesia turut meramaikan #harifilmnasional2017 .Seperti apa ya? Nantikan IMPAct Band besok #SalingKenalMakinSayang #rayakankeberagaman

Saya Lala. Ayah saya Jawa (Banyumas) - Sunda (Cirebon) yang konon ada sedikit campuran Arab-nya, sedangkan kedua orang tua ibu saya keturunan Tionghoa dari Semarang, yang kemudian menetap di Bandung. Saya lahir di Jakarta dari orang tua yang berbeda agama, kemudian dibaptis sesuai keyakinan ibu saya.

Semasa kecil, kami tinggal di salah satu kampung Betawi. Dijauhi karena memelihara anjing dan dilempari batu oleh teman sebaya hanya karena saya sipit pernah saya alami. Terus terang saat kejadian, saya tidak mengerti alasannya. Baru ketika beranjak besar dan saya tahu bahwa nama yang digunakan ibu saya sekarang bukan nama pemberian orang tuanyalah, saya mengerti. Seperti halnya sekarang saya paham mengapa ibu saya lebih suka menyembunyikan asal-usulnya, karena pernah mengalami peristiwa traumatis terkait sentimen etnis di Bandung circa 1965.

Waktu ibu saya menjadi mualaf, saya ikut belajar mengaji di rumah, sementara di sekolah saya mendapat pelajaran agama Kristen. Di usia 17 tahun kolom agama di KTP saya otomatis ditulis Islam mengikuti agama kedua orang tua saya. Padahal kalau ditanya langsung, saya lebih suka mengaku tidak beragama. Baru 10 tahun kemudian saya memutuskan untuk memeluk agama Kristen Protestan, sesuai baptisan saya, tanpa paksaan dan juga tanpa penentangan dari siapa pun.

Saya ibu bekerja sekaligus ibu yang tinggal di rumah. Saya ibu sekaligus bapak bagi anak saya semata wayang yang separuhnya berdarah Minahasa. Selain Jakarta, saya pernah tinggal di Bandung, dan kini di Bali. Saya pernah menjadi bagian dari mayoritas maupun minoritas. Namun sebagaimana setiap manusia memiliki banyak ciri dan sifat, saya menolak dilabeli berdasarkan satu hal saja.. atau diambil bagian-bagiannya lalu disortir ke dalam berbagai kotak. Keberagaman dalam diri sayalah, baik itu yang menempel sejak lahir maupun berupa pengalaman hidup, yang menjadikan saya Lala yang utuh, yang kamu kenal ini. Karenanya saya tidak mau sembunyi. Saya memilih untuk merayakan keberagaman, agar kita, anak dan cucu kita kelak, sesama Warga Negara Indonesia, tidak lagi bersembunyi dan hidup dalam ketakutan.

#rayakanperbedaan #rayakankeberagaman #bhinnekatunggalika #kamiindonesia

"Nama saya Afina. Saya orang Indonesia."
.
"Iya, tau. Indonesia mananya?" .
Ngapak (Brebes), Jawa (Solo), Sunda (Cirebon dan Karawang), Manado, dan Yaman.
Saya dilahirkan di Cirebon, dibesarkan di Merauke, Cilacap, Bandung, dan Purwokerto, oleh kedua orang tua yang juga tidak terikat pada tanah kelahiran mereka. Saya merantau di Yogya selama 5 tahun. Saya kini bekerja di Jakarta.
Bagaimana menjelaskan konsep kedaerahan pada orang yang gemar berpindah? Bagaimana menjelaskan definisi pribumi pada orang yang meyakini bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang asli? Bagaimana menjelaskan bahwa sebuah budaya dan bahasa lebih penting dari yang lain, pada orang yang rutinitasnya mendengarkan logat yang berbeda-beda?

Menjadi orang Indonesia itu lebih dari sekedar mengubah warna kulit atau rupa. Menjadi orang Indonesia itu meyakini bahwa perbedaan itu tak pernah jadi alasan untuk berpisah. .
.
.
#bhinekatunggalika #rayakankeberagaman #celebratediversity #torangbasudara

Hai, namaku Krishna Puntokaloka, mahasiswa biasa saja yang sudah memasuki kepala 2. Aku dibesarkan dalam keluarga Jawa-Muslim di sebuah kota yang terkenal akan sikap warganya yang menjunjung tinggi toleransi antar etnis dan umat beragama. Yup, Semarang.

Dibesarkan di kota seperti ini, membuatku memiliki kekaguman tersendiri melihat bagaimana keberagaman di Indonesia. Seperti foto diatas ketika kakek saya sedang dirawat di rumah sakit, tanpa penjabaran panjang lebar sudah cukup menjelaskan bagaimana keberagaman yang ada dapat menyatukan demi sebuah tujuan yang mulia. Ada perbedaan, tetapi tidak usahlah diungkit dan biarlah perbedaan itu sebagai cara Tuhan menyatukan ciptaanya.

Aku ingin Indonesia yang damai dan saling menghargai, kamu? Ayo @rayakan_perbedaan, tulis ceritamu dan biarkan orang tahu bahwa perbedaan itu indah

#rayakanperbedaan #rayakankeberagaman #akuIndonesia

Saya Kiki.
.
Saya Katholik. Saya Jawa. Saya Indonesia 🇮🇩🇮🇩🇮🇩
.
#bhinekatunggalika #rayakanperbedaan #sayaindonesia #kamiindonesia #rayakankeberagaman

Selamat hari film nasional!
Dukung terus film hasil karya anak bangsa dan Maju terus dunia perfilman indonesia. Sukses!💪
#harifilmnasional #salingkenalmakinsayang #rayakankeberagaman

Aku Fitria Yuliana.. Warna Negara Indonesia,,
Dilahirkan di Blitar
Aku muslim, begitu juga keluargaku.
Aku sangat menghargai perbedaan karena,,
Aku, kamu, dan kita itu Bhinneka Tunggal Ika.
#kamiindonesia #bhinnekatunggalika
#rayakanperbedaan #rayakankeberagaman
Mengajak untuk teman2 mengunggah foto dengan caption dan hashtag yg serupa, tunjukkan bahwa bukan slogan semata, tapi ada dalam diri kita. Mari kita rayakan keberagaman.

Bayu Agni. Pengamen. Asal: Wonosobo (Jateng). Besar di keluarga yg sebagian besar Muslim, nyokap mualaf tahun 2001. Sekolah di TK & SD Katolik, SMP-SMA-kuliah: negeri. Muslim yg gak sempurna, mendekati agnostik. Sebelas tahun hidup di Jogja, 3 tahun di Mojokerto (Jatim), 5 tahun di Jakarta, sekarang hampir setahun di Depok (Jabar). Di bawah kolong langit yg batasnya gak kejangkau nalar, di atas bumi manusia yg rahasianya gak semua kita tau, oleh kehendak Tuhan yg Maha Kreatif, perbedaan dan keberagaman itu keniscayaan. Rayakanlah! Challenge accepted! 😎 cc @indonesiafeminis #rayakanperbedaan #rayakankeberagaman #bhinnekatunggalika

MOST RECENT

Keberagaman itu...
Diibaratkan sebuah grup orkestra.
Ada berbagai alat musik, entah kah itu alat musik tiup, gesek, petik, perkusi atau yg lainnya, di bawah komando seorang conductor. Semua bersama2 berusaha menyelaraskan nada menjadi sebuah harmoni yang indah. Yg sedap didengar telinga...
Pernahkah kita bayangkan,
Apa jadinya, jika salah satu alat musik ingin tampil lebih menonjol?? Ingin bersuara lebih lantang drpd yg lain?? Apa jadinya ??? Terciptakah alunan nada yang indah..?!
Atau...bagaimana jika, berbagai alat musik itu dirubah...menjadi hanya satu macam alat musik saja...dan alat musik yg lain disingkirkan.
Akankah tercipta harmoni yg indah....?!
Marilah..kita 'mainkan' peran kita, mainkan 'alat musik' kita bersama2...krn beragam alat musik yg dipadukan bersama, dg mengikuti arahan seorg conductor...akan menampilkan...
Melody yang indah....
DIRGAHAYU KOTA JAKARTA !!
#indahnyakeberagaman #senandungsorejakarta #rayakankeberagaman #trustorchestra #untukmuindonesiaku

Kisah Kebhinnekaan Indonesia (10/10) : Gus Dur dan Rm Mangun

Menutup 10 kisah kebhinnekaan ini, rasanya kurang sreg kalau saya tidak membahas Gus Dur dan sahabat karibnya, Romo Mangunwijaya, Pr.
Kedua tokoh agama ini bertemu di jalan kemanusiaan. Romo Mangun dikenal perjuangannya membela rakyat di pinggiran Kali Code. Sementara Gus Dur sangat dikenal dalam membela kaum minoritas.

Kedua tokoh ini mewakili sosok yang eksentrik dalam agamanya. Gus Dur yang dibesarkan dalam tradisi pesantren ternyata seorang penggila musik klasik dan sepak bola. Sedangkan Rm Mangun tidak tinggal di pastoran seperti romo-romo lain, melainkan tinggal bersama rakyat.

Dalam dunia tulis-menulis keduanya saling bertukar dukungan. Gus Dur memberikan kata pengantar untuk buku Rm Mangun berjudul Menumbuhkan Sikap Religius Anak-Anak.
Gus Dur menulis, “Bagaimana mungkin kau mencapai derajat kecintaan kepada Tuhan, kaiau kau tidak mencintai manusia secara umum?”
Sementara Rm Mangun menulis kata pengantar panjang untuk buku Gus Dur berjudul Agama Keadilan. Dalam kata pengantar ini Rm Mangun membahas secara mendalam persamaan dalam ajaran agama Islam dan Katolik perihal kemanusiaan.

Rm Mangun pernah bercanda dengan menyebut Gus Dur sebagai orang Katolik yang tak pernah misa, sementara Gus Dur membalas dengan menyebut Rm Mangun sebagai orang Islam yang tak pernah Shalat.
Saat Rm Mangun meninggal pada Februari 1999, orang yang menulis obituarinya di Kompas, tak lain dan tak bukan adalah Gus Dur. Dalam obituari itu, Gus Dur menulis, “Kita kehilangan salah seorang tokoh humanis, seorang kritikus sosial yang andal sekaligus seorang pejuang agama yang gigih. Dunia terasa kosong tanpa kehadirannya.“
Rm Mangun dan Gus Dur adalah contoh tokoh agama yang sungguh membumikan nilai agama dan mengangkat kemanusiaan untuk menunjukkan kemuliaan Allah.

Lalu, bagaimana dengan kita? Bagaimana cara kita membumikan nilai-nilai agama kita dalam tindakan nyata?

Saduran dr : Tulisan Yustinus Sapto ‘Katolik tak masuk Gereja, Islam tak pernah Shalat’; Perjalanan Romo Bijak, Kompas, 11/2/1999; Catatan Romo Mangun thd Gus Dur di FB Erwinthon Napitupulu.

Kisah Kebhinnekaan Indonesia (9/10) : Mgr. Soegija dan Keluarga Soekarno

Yogyakarta, 19 Desember 1948.
Situasi mencekam. Presiden Soekarno dan wakilnya Hatta berhasil ditangkap Belanda.

Pada hari itu Mgr. Soegija melindungi seorang ibu dan dua anak balitanya di rumahnya di timur Kali Code. Di sanalah Ibu Fatmawati, Guntur kecil dan Megawati kecil menyembunyikan diri dari Belanda. Di Kali Code itu pula, sang ibu mencemaskan nasib suaminya yang entah ada di mana.

Bagi Soegija, perlindungan yang ia berikan tidak spesial. Namun saat masa sulit berlalu dan Republik Indonesia kembali berdiri, Soekarno mengingat jasa itu dan mereka menjadi sahabat.
Soekarno pernah menghadiahkan Soegija replika lukisan Heilige Maagd (Bunda Maria).
Saat mendengar kabar wafatnya Soegija di Belanda, Fatmawati menangis, sebab ia sudah mengganggap Soegija sebagai “bapaknya” yang telah menolongnya dalam masa sulit.
Soekarno sendiri tak rela jika sahabatnya dimakamkan di Belanda.
Menurutnya, Soegija telah berjasa bagi negara sehingga harus dimakamkan di taman makam pahlawan.

Meskipun sebagai uskup, Soegija tak pernah mendukung Belanda.
Seumur hidupnya, ia mengikuti jejak gurunya Van Lith, yang berpihak pada rakyat Indonesia dan menentang penjajahan Belanda.

Berkat diplomasi Soegija, Vatikan menjadi negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Diplomasinya juga membawa Soekarno berkunjung ke Vatikan tiga kali, pertama menemui Paus Pius XII, lalu Paus Johannes XXIII, dan terakhir dengan Paus Paulus VI.
Di setiap kunjungan, Soekarno menerima The Grand Cross of Pain Order, menjadi tokoh Muslim pertama yang mendapat bintang tertinggi gereja itu selama 3 kali berturut-turut.

Sedemikian hormatnya Soekarno sehingga ia langsung menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Soegija, bahkan sebelum pesawat pembawa jenazahnya tiba di Indonesia.
“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat-istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.” -Mgr. Soegija

Teman2 OMK, jangan lupa untuk menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia sesuai semboyan Mgr. Soegija ya!

Saduran : Tulisan Iwan Satyanegara Kamah, Baltyra.com

Kisah Kebhinnekaan Indonesia (7/10) : Bung Karno dan Pater Huijtink

Saat diasingkan di Ende tahun 1934, Sukarno sempat merasa bosan. Untungnya dia menemukan perpustakaan satu-satunya di biara St Yosef, tak jauh dari kediamannya.
Di biara itu, Sukarno bertemu dengan Pater Huijtink. Sejak itu, mereka bersahabat. Saking dekatnya, setiap kali meninggalkan Ende, Huijtink selalu mempercayakan kunci perpustakaan kepada Sukarno, yang memang menghabiskan banyak waktunya membaca di ruang baca biara itu.

Selain membaca, Sukarno juga suka berdiskusi dengan Huijtink. Dari banyak perbincangan, Sukarno memahami kemanusiaan lewat sudut pandang berbeda. Ia juga mempelajari ajaran Kristiani dan berdebat dengan para pastor. Sebaliknya, Huijtink banyak mendengarkan Sukarno tentang ide negara Indonesia yang merdeka. Suatu kali, Huijtink bertanya: "Bagaimana Anda menempatkan ibu Anda yang Hindu, orang Budha, dan Katolik di tanah yang kebanyakan beragama Islam?" Sukarno menanggapinya dengan serius. Ia merenung cukup lama, mencari jawaban. Beberapa tahun kemudian ia berhasil merumuskan jawabannya ke dalam Pancasila.

Sebelum Sukarno pindah ke Bengkulu tahun 1938, Pater Huijtink berkata:
"Jika suatu saat Tuan Sukarno kembali lagi ke Ende, Tuan akan datang sebagai presiden Indonesia." Dan pastor itu benar.

Sukarno kembali ke Ende tahun 1951.
Dari atas podium, Bung Karno memanggil Huijtink dan berkata:
“Dulu, aku datang sebagai orang buangan dan Pater Huijtink banyak sekali membantuku. Sekarang, aku kembali sebagai Presiden. Apa yang Pater minta dari Presiden?”
Huijtink menjawab, “Tuan Presiden, saya hanya punya satu keinginan: menjadi Warga Negara Indonesia.”
Sukarno menanggapi, “Sejak saat ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia memutuskan untuk memberikan kewarganegaraan kepada Pater Huijtink.”
Sang pastor akhirnya tercatat sebagai WNI dan mengabdikan hidup di Ende sampai wafatnya.
Saduran: Tulisan Respati Wasesa di Kumparan.com
_______________

Kawan, terimalah perbedaan, karena itulah sarana untuk belajar. Jika ingin semua orang setuju dengan kita, bagaimana caranya mau maju? Kita memang diciptakan berbeda, agar kita dapat berproses mendewasakan diri..

Aku *Suli Irawati

islam agamaku,begitupun keluargaku,

Indonesia Negaraku.
aku dilahirkan di Tangerang

aku sangat menghargai perbedaan karena ...
Aku,kamu kita itu BHINEKA TUNGGAL IKA. #kamiindonesia #bhinekatunggalika #harilahirnyapancasila
#rayakankeberagaman #pekanpancasila2017#sayaindonesia#sayapancasila

Saya lahir di ranah minang Payakumbuah,besar di tanah Melayu Pekanbaru, saya keturunan Tionghoa, punya opa beragama Konghucu, lahir sebagai anak dari seorang papi yg beragama Budha dan mami yg beragama khatolik, sekarang saya beragama protestan dengan teman mayoritas muslim, saya menikah dengan lelaki Nias tulen 😏, saya Indonesia, saya Pancasila, beragam itu indah
#haripancasila
#1junj2017
#sayaindonesiasayapancasila
#sayaIndonesia
#SayaPancasila
#rayakankeberagaman
#pekanpancasila
#nomakeup
#naturalface
#nomakeupmovement

Aku Annisa Safitri
Warga negara Indonesia
Dilahirkan di Surabaya
Tinggal di Ponorogo
Aku sangat menghargai perbedaan karena..
Aku,kamu, kita itu Bhinneka Tunggal Ika
#kamiindonesia
#bhinnekatunggalika #rayakanperbedaan #rayakankeberagaman

saya Yuravetra Ardana

saya lahir di Kediri, beragama kristen protestan begitu dgn keluargaku. saya berkebangsaan Indonesia. menjunjung tinggi satu n kesatuan Republik Indonesia. dgn negara bebagai ras, suku, n agama, saling menghormati menghargai.. selamat hari lahir Pancasila #Pancasila #BhinekaTunggalIka #model #potret #entertainer #kamiindonesia #rayakanperbedaan #rayakankeberagaman

BESOK!
.
Akan merayakan hari lahir Pancasila dengan cara mendongeng bersama kak @arnellism. Juga akan berbincang mengenai Pancasila dan penerapannya dalam dongeng bersama teman-teman lintas agama lalu buka puasa bersama. Akan ada Romo Magnis dan Alamsyah M. Djafar juga yang duduk sebagai narasumber lainnya.
.
Sampai jumpa di Graha PGI Salemba.
.
Bersatu dalam Keberagaman.
.
#Dongeng #DongengMusikal #DongengDiGereja #BukaPuasaDiGereja #HariPancasila #RayakanKeberagaman #RayakanPersatuan #SayaIndonesia #SayaPancasila

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri ku jalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
(Tanah Airku - Ibu Soed) .
.
#sayaindonesia #alwaysindonesian #scholar #groningen #netherlands #rayakankeberagaman #bhinnekatunggalika #nkri #sayapancasila #pekanpancasila

Kisah Kebhinnekaan Indonesia (6/10) : Istiqlal-Katedral, Sebuah Cerita Toleransi Sederhana

Salah satu bentuk kecil toleransi di pusat Jakarta adalah soal berbagi lahan parkir antar Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal, yang sudah berlangsung sejak tahun 1970-an. Istiqlal yang jaraknya sangat dekat dengan Katedral menjadi salah satu opsi untuk umat Katolik dalam memarkirkan kendaraan.
Umat Katolik dipersilakan untuk menggunakan lahan parkir Istiqlal seluas tiga hektare itu, khususnya pada hari raya seperti Natal dan Jumat Agung.

Bahkan, bukan hanya soal parkir, para petugas Masjid Istiqlal juga membantu para jemaat untuk menyeberang ke Katedral jika lalu lintas saat itu sedang padat.

Sementara itu umat Muslim juga memarkirkan kendaraan mereka di Katedral apabila lapangan parkir Istiqlal penuh dipakai untuk tempat Shalat Ied pada Hari Raya Idul Fitri.

Begitu sehatnya toleransi itu sehingga pengurus Katedral sering memberi makanan kepada para petugas keamanan di Masjid Istiqlal sebagai ucapan terima kasih.
Selain itu, saat Idul Fitri, umat Katedral lah yang bertugas menjadi penjaga parkir selama umat Muslim menunaikan Shalat Ied.

_____________
Ah, sepertinya keputusan Bung Karno untuk membangun Istiqlal di dekat Katedral beberapa dekade lalu adalah keputusan tepat. Keberagaman di Indonesia memang indah, kawanku, di mana umat antar-agama bukan hanya saling bertoleransi, melainkan juga saling membantu dalam kasih.

Di atas segala kebencian yang tersebar, di atas segala debat melelahkan di sosial media, selalu ingatlah kawan. Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral tetap akan berdiri kokoh dan berdampingan dalam damai di pusat Jakarta, sekokoh kebhinnekaan Indonesia yang tidak akan rusak hanya karena Pilkada.
_________
*Saduran dari: CNN Indonesia

Kisah Kebhinnekaan Indonesia (4/10) : Gus Mus dan Romo Budi

Pada bulan Agustus 2015, beredar di dunia maya foto heboh yang “mengharukan” dimana Romo A. Budi Purnomo sedang memeluk dan mencium tangan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Foto itu diambil dalam sebuah acara kebangsaan di Auditorium RRI Semarang, di mana Gus Mus dan Romo Budi diundang sebagai narasumber.
Saat diminta menjelaskan tentang kejadian itu, Romo Budi mengatakan bahwa ia sudah mengganggap Gus Mus sebagai tokoh idola dan mbahnya (kakek). Tindakan cium tangan menurutnya adalah simbol penghormatan dan persahabatan sejati. “Setiap kali berjumpa dengan Gus Mus, sebagai yang lebih muda, saya tidak hanya mencium pipi kanan pipi kiri tapi juga mencium tangan, meskipun beliau selalu tidak kerso (bersedia), ditarik (tangannya). Entah mengapa,” kisahnya dalam acara Mata Najwa bertajuk “Panggung Gus Mus” yang disiarkan Rabu (14/4/2016) malam.
Romo Budi mengaku bahwa itulah kebiasaannya jika bertemu orang yang ia hormati. Ia juga melakukan hal serupa saat bertemu dengan tokoh NU itu di Rembang tahun 2004.

Dalam acara itu, sesuai permintaan Najwa, Romo Budi dan Gus Mus berduet dalam musikalisasi puisi berjudul “Sajak Atas Nama”. Saat Gus Mus membacakan puisi karyanya, Romo Budi mengiringi dengan saksofon. Alunan saksofon ini mengejutkan banyak orang, karena melodi yang Romo Budi mainkan mirip dengan lagu syair religi “Ilahi lastu lil firdausi ahla” yang biasa dilantunkan sebagai doa memohon ampun kepada Allah SWT. Warganet bingung sekaligus takjub mendengar lagu shalawat bisa dimainkan oleh seorang rohaniawan Katolik dengan baik.



₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪
Maka...
Atas nama apa saja atau siapa saja
Kirimlah laknat kalian!
Atau atasnamaKu perangilah mereka...
Dengan kasih sayang!
____________________
Sajak atas Nama oleh KH. A. Mustofa Bisri
Rembang, Agustus 1997
₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪₪



Utk cuplikannya, sila tonton di Youtube dgn judul : Gus Mus feat Romo Aloysius Budi Purnomo dalam Sajak "Atas Nama"

Sumber tulisan dan gambar : www.nu.or.id , Insta @matanajwa

@ciacia_saratasha:Meski 'Cinanya' saya cuman keliatan kalau saya ketawa, saya 100% keturunan Cina.
Nama saya adalah Cia-Cia. Tetapi saya lahir di Bekasi dan mengenal Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Saya tidak menguasai Bahasa Mandarin. Saya tidak peduli RRC, itu bukan tanah air saya. INDONESIA lah tanah air saya. Saya makan dan minum dari tanahnya, dan saya juga akan dikuburkan di tanahnya. Saya mencintai Indonesia, dan saya yakin banyak orang (dari berbagai etnis dan agama) juga mencintai Indonesia.
Kita yang sayang Indonesia, tidak mau lagi Indonesia diadu-domba dengan sentimen Pribumi-NonPribumi, yang dilakukan penjajah Belanda zaman dulu. Yang namanya pribumi, adalah WNI semuanya, tak peduli keturunan Arab, Belanda, Cina, India, dsb. Yang disebut pribumi, adalah yang MENCINTAI INDONESIA sepenuhnya, tak peduli dimana mereka tinggal.
Karena itu, #sayajugapribumi.
Bagaimana denganmu, apakah kamu pribumi?

#pribumi #rasisme #sayatoleransi #sayapribumi #toleransi #kitaindonesia #katolikindonesia #bhinnekatunggalika #bhinekatunggalika #pancasila #cintaindonesia #aksibelaislam #aksibelaquran #nkrihargamati #belaislam #tionghoa #rayakankeberagaman #rayakanperbedaan

Most Popular Instagram Hashtags