#rayakankeberagaman

MOST RECENT

#Repost @ciacia_saratasha (@save.repost) Saya @ciacia_saratasha , dan saya siap mengikuti Student Interfaith Peace Camp Jakarta 2018 (4-6 Mei 2018)😁✌️

Cia sangat percaya, tahap awal dlm mewujudkan perdamaian adalah DIALOG, terbuka utk mempelajari yg berbeda, memahami pola pikir yg biasa kita anggap asing. Tdk utk mencampuradukkan ajaran agama, namun utk membangun jembatan persatuan sebagai INDONESIA.
Kami memilih menjadi #peacemaker. Bagaimana denganmu? ☮️

Info lanjut : www.yipc.org
@yipcindonesia

#yipcindonesia #SIPCregional2018 #sayatoleransi #toleransi #islam #kitaindonesia #katolik #katolikindonesia #kristen #beranidamai #bhinnekatunggalika #bhinekatunggalika #pancasila #nkrihargamati #aksibelaislam #belaislam #belaalquran #omkindonesia #kamitidaktakut #antiterorisme #belajarcintaIndonesia #rayakanperbedaan #rayakankeberagaman #gusdur #kebhinnekaan #gusdurian #keberagaman

Saya @ciacia_saratasha , dan saya siap mengikuti Student Interfaith Peace Camp Jakarta 2018 (4-6 Mei 2018)😁✌️

Cia sangat percaya, tahap awal dlm mewujudkan perdamaian adalah DIALOG, terbuka utk mempelajari yg berbeda, memahami pola pikir yg biasa kita anggap asing. Tdk utk mencampuradukkan ajaran agama, namun utk membangun jembatan persatuan sebagai INDONESIA.
Kami memilih menjadi #peacemaker. Bagaimana denganmu? ☮️

Info lanjut : www.yipc.org
@yipcindonesia

#yipcindonesia #SIPCregional2018 #sayatoleransi #toleransi #islam #kitaindonesia #katolik #katolikindonesia #kristen #beranidamai #bhinnekatunggalika #bhinekatunggalika #pancasila #nkrihargamati #aksibelaislam #belaislam #belaalquran #omkindonesia #kamitidaktakut #antiterorisme #belajarcintaIndonesia #rayakanperbedaan #rayakankeberagaman #gusdur #kebhinnekaan #gusdurian #keberagaman

Masi de bes minggu ini, mungkin bulan ini bahkan... buat @uber_idn & @gojekindonesia... #rayakankeberagaman macam ini ya... jangan kalian cari plis “driver”-nya. Apalagi kalian hukum. Ya plis? Tx sebelumnya... 🙏🏽

Pelangi menghiasi cakrawala
Perpaduan beragam warna
terlihat indah di mata.. Variasi suara melantunkan
puji-pujian dalam suatu paduan
terdengar merdu nadanya :
Rayakan keberagaman.. #rayakankeberagaman #streetartindramayu
#Repost @ary_awg

Pelangi menghiasi cakrawala
Perpaduan beragam warna
terlihat indah di mata

Variasi suara melantunkan
puji-pujian dalam suatu paduan
terdengar merdu nadanya :
Rayakan keberagaman..
Rayakan keberagaman.. #rayakankeberagaman #streetartindramayu

Sampai bertemu lagi Cirebon! Perjalanan pulang ditemani alunan @gudrobbrs dari album 2500 kalori.

Matur nuwun sanget teman teman @gusduriancirebon @_cinemacirebon dan keluarga besar #institutfahmina "Gus Dur begitu dicintai karena ia sangat mencintai semua umat sepanjang hidupnya". (Sewindu Haul Gus Dur)

#AhuParmalim #documentary #film #collaborative #agamaleluhur #penghayat #parmalim #haulgusdur #sewinduhaulgusdur #gusdurian #cirebon #Indonesiaberagam #rayakankeberagaman

Hari ini aku kembali menulis.
..
Selama 6 bulan diamku, banyak hal terjadi di Indonesia. Kebanyakan membuatku pesimis. Misalnya, keributan di medsos yg penuh emosi dan tak kunjung selesai. Korupsi yg meraja rela. Di dunia nyata dan maya, orang saling melapor, saling teriak SESAT.
..
Banyak orang baik mulai lelah dan menyerah, mulai mundur. Yg tertinggal adalah yg berkoar-koar serta para hakim mahabenar dan mahasuci. Sementara kaum minoritas mulai pesimis.
..
"Sudahlah,' demikian kata temanku, 'Indonesia sudah tak layak ditinggali. Mari cari negara lain yg lebih damai dan mengenal moral. Kamu pintar, Cia. Ayo kuliah di luar negeri dan tak perlu kembali. Hidup jauh lebih aman dan damai."
..
Sangat menggoda bagiku. Terlintas dalam pikiranku untuk berhenti menulis. Buat apa? Mereka tak menghargaimu. Kafir. Cina. Cewek. Tapi kawan.. Bukankah dulu, negeri ini dikenal damai, ramah, toleran dan berakhlak? Inilah tanah air kita. Dan jika memang terangnya sedang meredup, maka mari kita nyalakan kembali. Jika persaudaraan sebangsa sedang rusak, bukankah kita wajib merajutnya kembali? ..
Tidak, kawan. Hatiku tidak akan meninggalkan Indonesia. Aku memilih untuk lanjut. Dengan mimpi bahwa tanah airku ini kembali damai, bermoral, harmonis dan maju, aku memulai kembali. Apakah kawan mau berjuang bersamaku?
.
.
______
#sayatoleransi #toleransi #kitaindonesia #katolik #katolikindonesia #kristen #bhinnekatunggalika #bhinekatunggalika #pancasila #cintaindonesia #nkrihargamati #aksibelaislam #belaislam #belaalquran #romomangun #sejarahIndonesia #omkindonesia #kamitidaktakut #Indonesiatidaktakut #antiterorisme #belajarcintaIndonesia #bubarkanfpi #bubarkanhti #rayakanperbedaan #rayakankeberagaman #gusdur #kebhinnekaan #abdurrahmanwahid #gusdurian #keberagaman

Memperingati Sewindu Haul Gus Dur & Kyai Kyai Cirebon.
Pemutaran Ahu Parnalim, film dokumenter dari @cicilia_maharani dan @carlesbutarbutar dipersembahkan oleh Cinema Cirebon, Gus Durian Cirebon dan Institut Studi Islam Fahmina dan @kampunghalaman__

Pukul 18.30 WIB
Institut Studi Islam Fahmina.
JL.Swesembada No 15, Karangmulya, Kota Cirebon.
Sampai bertemu nanti malam teman- teman Cirebon, kita rayakan Keberagaman!
Salam Hangat
Kampung Halaman.
#berbedabekerjasama
#rayakankeberagaman
#gusdurian
#mudatoleran
#menjagakewarasan #documentary #collaborative #film #multiculture #younginterfaith #agamaleluhur #parmalim #ahuparmalim #tobasamosir #youth #indonesianyouth #remaja #remajaindonesia #socialmobility #youthactivecitizen #youthanfeducation

Melawan Kekerasan Seksual


Tabumania, masih ingat kasus persekusi bernuansa seksual yg dialami pasangan muda di Cikupa, Tangerang? Penghakiman massa yg memaksa pasangan tersebut mengaku berbuat cabul dgn diarak, ditelanjangi dan disebarkan videonya, menunjukkan bahwa kekerasan seksual terjadi bukan karena atribut atau identitas yang melekat pada diri korban, namun karena pikiran pelaku untuk merendahkan martabat dan hasrat menguasai. Serupa pada situasi konflik dimana perkosaan jadi senjata utk menaklukkan


Kekerasan seksual dapat berupa tindakan kontak fisik maupun non-fisik yg menyerang dan merendahkan otonomi tubuh dan seksualitas. Ia bisa ditunjukkan lewat ujaran, gerak-gerik dan tindakan. Kekerasan seksual jadi bagian sejarah bangsa. Di masa penjajahan Jepang, perempuan Indonesia dieksploitasi seksual sebagai jugun ianfu. Saat transisi pemerintahan, kekerasan seksual terjadi, seperti Tragedi 1965 dan Tragedi Mei 1998, tak terkecuali di daerah konflik bersenjata, seperti Aceh, Poso, Maluku, Papua dan Timor Timur. Dari 15 bentuk kekerasan seksual yg dikenali Komnas Perempuan, ada 9 bentuk yg masuk ke dlm Rancangan UU Penghapusan


Kekerasan seksual terus bertransformasi bentuk mengikuti perkembangan era. Di tengah masifnya informasi digital, kekerasan seksual daring (online) tak dapat dihindari, seperti mempublikasikan data personal (doxing), penguntitan lewat media sosial (cyber stalking), penyebaran foto/video utk balas dendam yg disertai intimidasi atau pemerasan (revenge porn). Hal ini makin meneguhkan bahwa persoalan dasar, yakni sistem patriarki dan heteronormatif, masih kuat di masyarakat. Ia hanya berpindah medium saja, dari offline ke online.

Di edisi bulan ini, Qbukatabu ingin mengajak Tabumania mengenali berbagai bentuk kekerasan seksual. Mengenali bentuknya adalah salah satu perlawanan. Selanjutnya, terus menerus membicarakannya, mencari keadilan dan pemulihan bagi korban, termasuk bangkit bersama-sama sbg penyintas, selayaknya terus dirayakan #Qbukatabu #LawanKekerasanSeksual #RuangBelajarSeksualitas #16HAKTP #DesemberBergerak #Ayobergerak #RayakanKeberagaman #StopKekerasanBerbasisGender

First look of 'Di Balik Topeng' (Behind the Mask) event poster, designed by @adriennawallis.

This #BengkelTariAyuBulan production will feature a solo 'Pangawit Tapel' opening mask dance by maestro dancer Bulantrisna Djelantik, followed by performances of mask dance 'Hudoq' from Kalimantan, Sundanese mask dance 'Kelana Kasmaran', Betawinese mask dance 'Topeng Kedok Ekspresi', and Balinese mask dance 'Topeng Telek Jauk'.
.
#Savethedate: Sunday 22nd October 2017 starts 3:30PM at Galeri Indonesia Kaya.

#Jakartaperformance #BehindtheMask #DiBalikTopeng #MaskDanceseries #GaleriIndonesiaKaya #Hudoq #TopengKelana #TopengBetawi #TopengTelek #senitaritopengnusantara #bhinnekatunggalika #kenalitarimu #hargaibudayamu #rayakankeberagaman #BengkelTariAyuBulanproduction

#dancevid
Berproses: berlatih Topeng Telek menyamakan gerakan dulu tanpa memakai topeng.

Tari klasik Topeng Telek lengkap dengan Jauk akan dipentaskan para penari Bengkel Tari AyuBulan di Galeri Indonesia Kaya pada 22 Oktober mendatang. Selain tari topeng dari Bali akan ada tari-tari topeng dari provinsi di Nusantara lainnya.

#BehindtheMask #DiBalikTopeng #TopengTelek #dancesofBali #MaskDanceseries #rampak #guyub #stronglegskindhearts #senitaritopengnusantara #AyuBulanDance #rayakankeberagaman #BengkelTariAyuBulan

#upacarabendera #hutri72 ala anak-anak Komunitas #tanahombak #purus #kotapadang #sumbar #rayakankeberagaman #indonesia #merdeka #merahputihberkibar #beritasatutv. Meski tanpa lapangan, tanpa seragam, tanpa tiang bendera bertali, mereka tetap semangat merayakat hari kemerdekaan..

Keberagaman itu...
Diibaratkan sebuah grup orkestra.
Ada berbagai alat musik, entah kah itu alat musik tiup, gesek, petik, perkusi atau yg lainnya, di bawah komando seorang conductor. Semua bersama2 berusaha menyelaraskan nada menjadi sebuah harmoni yang indah. Yg sedap didengar telinga...
Pernahkah kita bayangkan,
Apa jadinya, jika salah satu alat musik ingin tampil lebih menonjol?? Ingin bersuara lebih lantang drpd yg lain?? Apa jadinya ??? Terciptakah alunan nada yang indah..?!
Atau...bagaimana jika, berbagai alat musik itu dirubah...menjadi hanya satu macam alat musik saja...dan alat musik yg lain disingkirkan.
Akankah tercipta harmoni yg indah....?!
Marilah..kita 'mainkan' peran kita, mainkan 'alat musik' kita bersama2...krn beragam alat musik yg dipadukan bersama, dg mengikuti arahan seorg conductor...akan menampilkan...
Melody yang indah....
DIRGAHAYU KOTA JAKARTA !!
#indahnyakeberagaman #senandungsorejakarta #rayakankeberagaman #trustorchestra #untukmuindonesiaku

Kisah Kebhinnekaan Indonesia (10/10) : Gus Dur dan Rm Mangun

Menutup 10 kisah kebhinnekaan ini, rasanya kurang sreg kalau saya tidak membahas Gus Dur dan sahabat karibnya, Romo Mangunwijaya, Pr.
Kedua tokoh agama ini bertemu di jalan kemanusiaan. Romo Mangun dikenal perjuangannya membela rakyat di pinggiran Kali Code. Sementara Gus Dur sangat dikenal dalam membela kaum minoritas.

Kedua tokoh ini mewakili sosok yang eksentrik dalam agamanya. Gus Dur yang dibesarkan dalam tradisi pesantren ternyata seorang penggila musik klasik dan sepak bola. Sedangkan Rm Mangun tidak tinggal di pastoran seperti romo-romo lain, melainkan tinggal bersama rakyat.

Dalam dunia tulis-menulis keduanya saling bertukar dukungan. Gus Dur memberikan kata pengantar untuk buku Rm Mangun berjudul Menumbuhkan Sikap Religius Anak-Anak.
Gus Dur menulis, “Bagaimana mungkin kau mencapai derajat kecintaan kepada Tuhan, kaiau kau tidak mencintai manusia secara umum?”
Sementara Rm Mangun menulis kata pengantar panjang untuk buku Gus Dur berjudul Agama Keadilan. Dalam kata pengantar ini Rm Mangun membahas secara mendalam persamaan dalam ajaran agama Islam dan Katolik perihal kemanusiaan.

Rm Mangun pernah bercanda dengan menyebut Gus Dur sebagai orang Katolik yang tak pernah misa, sementara Gus Dur membalas dengan menyebut Rm Mangun sebagai orang Islam yang tak pernah Shalat.
Saat Rm Mangun meninggal pada Februari 1999, orang yang menulis obituarinya di Kompas, tak lain dan tak bukan adalah Gus Dur. Dalam obituari itu, Gus Dur menulis, “Kita kehilangan salah seorang tokoh humanis, seorang kritikus sosial yang andal sekaligus seorang pejuang agama yang gigih. Dunia terasa kosong tanpa kehadirannya.“
Rm Mangun dan Gus Dur adalah contoh tokoh agama yang sungguh membumikan nilai agama dan mengangkat kemanusiaan untuk menunjukkan kemuliaan Allah.

Lalu, bagaimana dengan kita? Bagaimana cara kita membumikan nilai-nilai agama kita dalam tindakan nyata?

Saduran dr : Tulisan Yustinus Sapto ‘Katolik tak masuk Gereja, Islam tak pernah Shalat’; Perjalanan Romo Bijak, Kompas, 11/2/1999; Catatan Romo Mangun thd Gus Dur di FB Erwinthon Napitupulu.

Kisah Kebhinnekaan Indonesia (9/10) : Mgr. Soegija dan Keluarga Soekarno

Yogyakarta, 19 Desember 1948.
Situasi mencekam. Presiden Soekarno dan wakilnya Hatta berhasil ditangkap Belanda.

Pada hari itu Mgr. Soegija melindungi seorang ibu dan dua anak balitanya di rumahnya di timur Kali Code. Di sanalah Ibu Fatmawati, Guntur kecil dan Megawati kecil menyembunyikan diri dari Belanda. Di Kali Code itu pula, sang ibu mencemaskan nasib suaminya yang entah ada di mana.

Bagi Soegija, perlindungan yang ia berikan tidak spesial. Namun saat masa sulit berlalu dan Republik Indonesia kembali berdiri, Soekarno mengingat jasa itu dan mereka menjadi sahabat.
Soekarno pernah menghadiahkan Soegija replika lukisan Heilige Maagd (Bunda Maria).
Saat mendengar kabar wafatnya Soegija di Belanda, Fatmawati menangis, sebab ia sudah mengganggap Soegija sebagai “bapaknya” yang telah menolongnya dalam masa sulit.
Soekarno sendiri tak rela jika sahabatnya dimakamkan di Belanda.
Menurutnya, Soegija telah berjasa bagi negara sehingga harus dimakamkan di taman makam pahlawan.

Meskipun sebagai uskup, Soegija tak pernah mendukung Belanda.
Seumur hidupnya, ia mengikuti jejak gurunya Van Lith, yang berpihak pada rakyat Indonesia dan menentang penjajahan Belanda.

Berkat diplomasi Soegija, Vatikan menjadi negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Diplomasinya juga membawa Soekarno berkunjung ke Vatikan tiga kali, pertama menemui Paus Pius XII, lalu Paus Johannes XXIII, dan terakhir dengan Paus Paulus VI.
Di setiap kunjungan, Soekarno menerima The Grand Cross of Pain Order, menjadi tokoh Muslim pertama yang mendapat bintang tertinggi gereja itu selama 3 kali berturut-turut.

Sedemikian hormatnya Soekarno sehingga ia langsung menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Soegija, bahkan sebelum pesawat pembawa jenazahnya tiba di Indonesia.
“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat-istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.” -Mgr. Soegija

Teman2 OMK, jangan lupa untuk menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia sesuai semboyan Mgr. Soegija ya!

Saduran : Tulisan Iwan Satyanegara Kamah, Baltyra.com

Kisah Kebhinnekaan Indonesia (7/10) : Bung Karno dan Pater Huijtink

Saat diasingkan di Ende tahun 1934, Sukarno sempat merasa bosan. Untungnya dia menemukan perpustakaan satu-satunya di biara St Yosef, tak jauh dari kediamannya.
Di biara itu, Sukarno bertemu dengan Pater Huijtink. Sejak itu, mereka bersahabat. Saking dekatnya, setiap kali meninggalkan Ende, Huijtink selalu mempercayakan kunci perpustakaan kepada Sukarno, yang memang menghabiskan banyak waktunya membaca di ruang baca biara itu.

Selain membaca, Sukarno juga suka berdiskusi dengan Huijtink. Dari banyak perbincangan, Sukarno memahami kemanusiaan lewat sudut pandang berbeda. Ia juga mempelajari ajaran Kristiani dan berdebat dengan para pastor. Sebaliknya, Huijtink banyak mendengarkan Sukarno tentang ide negara Indonesia yang merdeka. Suatu kali, Huijtink bertanya: "Bagaimana Anda menempatkan ibu Anda yang Hindu, orang Budha, dan Katolik di tanah yang kebanyakan beragama Islam?" Sukarno menanggapinya dengan serius. Ia merenung cukup lama, mencari jawaban. Beberapa tahun kemudian ia berhasil merumuskan jawabannya ke dalam Pancasila.

Sebelum Sukarno pindah ke Bengkulu tahun 1938, Pater Huijtink berkata:
"Jika suatu saat Tuan Sukarno kembali lagi ke Ende, Tuan akan datang sebagai presiden Indonesia." Dan pastor itu benar.

Sukarno kembali ke Ende tahun 1951.
Dari atas podium, Bung Karno memanggil Huijtink dan berkata:
“Dulu, aku datang sebagai orang buangan dan Pater Huijtink banyak sekali membantuku. Sekarang, aku kembali sebagai Presiden. Apa yang Pater minta dari Presiden?”
Huijtink menjawab, “Tuan Presiden, saya hanya punya satu keinginan: menjadi Warga Negara Indonesia.”
Sukarno menanggapi, “Sejak saat ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia memutuskan untuk memberikan kewarganegaraan kepada Pater Huijtink.”
Sang pastor akhirnya tercatat sebagai WNI dan mengabdikan hidup di Ende sampai wafatnya.
Saduran: Tulisan Respati Wasesa di Kumparan.com
_______________

Kawan, terimalah perbedaan, karena itulah sarana untuk belajar. Jika ingin semua orang setuju dengan kita, bagaimana caranya mau maju? Kita memang diciptakan berbeda, agar kita dapat berproses mendewasakan diri..

Saya lahir di ranah minang Payakumbuah,besar di tanah Melayu Pekanbaru, saya keturunan Tionghoa, punya opa beragama Konghucu, lahir sebagai anak dari seorang papi yg beragama Budha dan mami yg beragama khatolik, sekarang saya beragama protestan dengan teman mayoritas muslim, saya menikah dengan lelaki Nias tulen 😏, saya Indonesia, saya Pancasila, beragam itu indah
#haripancasila
#1junj2017
#sayaindonesiasayapancasila
#sayaIndonesia
#SayaPancasila
#rayakankeberagaman
#pekanpancasila
#nomakeup
#naturalface
#nomakeupmovement

Most Popular Instagram Hashtags