[PR] Gain and Get More Likes and Followers on Instagram.

#kisahrupa

MOST RECENT

ENDORPHIN | Kumpulan Cerita dan Rupa | R.E. HARTANTO
.
Seorang pembunuh bayaran disewa untuk menghabiskan nyawa seseorang. Ia menghabiskan waktu seribu tujuh puluh enam hari sampai akhirnya menemukan bahwa targetnya ternyata sudah mati dan menjadi hantu. Wajah hantu itu sangat mirip dengan nenek si pembunuh yang dicintainya, yang sudah wafat bertahun-tahun lalu. Pembunuh itu pensiun dari pekerjaannya lalu menetap di pedesaan dan menjadi penulis sampai meninggal. Kisah-kisah dalam buku ini ditemukan di pondok tempatnya tinggal.
.
.
.
#endorphin #rehartanto #mojok #bukusenirupa #kisahrupa #senirupakontemporer #cerpensenirupa

#kisahrupa
.
Sudah Kelaparan, Lukisan Hilang
.
Ketika Hendra Gunawan sudah merasa hidup dari seni lukis, pada tahun 1940 ia berani menikahi Karmini. Wanita suda ini adalah keponakan Syafei Soemardja, seorang budayawan ternama. Hendra bermukim di rumah Gang Pabaki, kawasan Pasir Koja, Bandung. Rumah yang kemudian jadi studionya selama banyak tahun.
.
Lalu ada sebuah kisah yang terjadi pada tahun 1944. Pada suatu kali Hendra bersama teman-teman pelukis lain seperti Angkama, Tjatja Hidayat, dan Popo Iskandar sedang membuat sketsa di Bandung. Mereka merekam keprihatinan bangsa, mencatat kesengsaraan rakyat. Seperti wanita-wanita yang berbaju karung goni atau karet, sepeda dengan “ban buta”, dan daerah Kosambi yang dipenuhi gubuk.
.
Dalam panas udara dan situasi perut yang melilit, tiba-tiba hendra kejang-kejang dan terkapar karena kelaparan. Kemudian jatuh pingsann. Semalam suntuk Hendra tergolek di tempat tidur. Namun peristiwa ini tidak menundukkannya. Esoknya ia malah menjemput Popo untuk membuat sket lagi.
.
Dengan perut yang lapar Hendra menciptakan lukisan. Mengejutkan, lukisan itu memenangkan hadiah seni lukis terbaik dalam kompetisi pelukis Bandung yang diadakan Keimin Bunka Sidhoso, (lembaga kesenian Pemerintah Pendudukan Jepang).
.
Pada zaman Jepang karya-karya Hendra sangat banyak dicipta. Namun karya-karya tersebut sebagian besar musnah. Ada yang hilang. Ada yang hangus terbakar api revolusi. Ada yang dipakai untuk menutup celah-celah rumah, karena sebagian terbuat dari triplek. Sementara setumpuk lukisan Hendra yang dibungkus kertas kopi tebal, pernah diselamatkan dengan cara dikubur oleh Chaerul Saleh, negarawan yang akhirnya jadi Wakil Perdana Menteri RI. Namun lukisan itu hancur setelah digali kembali.
.
.
#peristiwasenirupa #senirupa #rupaseni #bukusenirupa #hendragunawan #lukisan #pendudukanjepang #sejarahsenirupa #lukisandikubur #lol

MENANAM PADI DI LANGIT | PUTHUT EA |
.
Buku ini adalah sebuah petikan hasil wawancara dan riset yang disampaikan dengan gaya penulisan novel. Berkisah tentang tiga orang bernama Bob, Teddy, dan Toni, seniman muda Indonesia, dan bagaimana kiprah mereka dalam menghasilkan karya serta dikenal masyarakat luas.
.
Ketiga pemuda itu bertemu di ISI, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, dan keputusan untuk berkuliah seni rupa mendapat tantangan dari keluarga mereka. Namun, pada akhirnya mereka pun menimba ilmu di tempat itu, dan berkarib di sana. Perjalanan mereka dalam hal berkesenian tidak hanya dipaparkan melalui sudut pandang mereka saja, namun di buku ini, secara luas dijelaskan tentang kiprah seni lukis di kancah lokal maupun nasional. Tidak hanya membahas dari sudut pandang sejarah seni saja, karena latar yang disajikan adalah era Soeharto, otomatis pengaruh politik kental tersaji di sini. Sudut pandang politis tentu saja memengaruhi kiprah mereka, apalagi saat rezim Soeharto berakhir. Semua kalangan mahasiswa muda berperan dalam penggulingan rezim, dan para seniman mengambil peran melalui seni.
.
seni berbicara dengan nyaring dan dengan bahasa yang lain saat suara dibungkam. Seni juga mampu memberikan kritik sosial dengan cara yang elegan. Seperti: saat lahan pertanian sudah tidak ada lagi, mungkin itu saatnya kita menanam padi di langit. Bagaimana bisa? Pancal!
.
.
#menanampadidilangit #puthutea #bobsick #teddy #toni #kisahrupa
#perupa #novelsenirupa #bukusenirupa

#kisahrupa
.
Rumah Imajinatif Nashar
.
Sebagai pelukis Nashar tak pernah punya rumah tetap, sehingga harus tidur di sejumlah ruang publik yang kalau malam tidak dipakai. Namun Nashar paling sering tidur di Balai Budaya, sebuah ruang pameran di Jln. Gereja Theresia 47, Jakarta Pusat. Pada siang hari ruang ini dipakai untuk pameran. Setelah pameran tutup pukul 21.00, sepojok ruang jadi milik Nashar. Ia sering tidur di lantai dengan kasur tipis atau tikar. Apabila dingin ia memasang dua atau tiga meja, yang sering tingginya tidak sama untuk tempat tidurnya.
.
Seperti yang ditulis oleh La Pesse dalam karangan Nashar Tetap Nashar (Dwimingguan Mutiaraa, 7 – 20 November 1984), Nashar pernah diusir oleh pengelola Balai Budaya, Radjab Ranggasoli. Padahal Nashar sudah mendiami “istananya” itu selama belasan tahun. Sehinggu untuk dua jenak Nashar bingung dan hidup luntang-lantung.
.
Atas “nasib properti” Nashar ini banyak orang lantas menghubung-hubungkan dengan tandatangan lukisan Nashar. Tandatangan pelukis ini berupa logo yang merangkai huruf N dan H. Bentuk itu ditambahi garis segitiga di atasnya yang menyerupai atap. Hingga tandatangan itu seperti gambar rumah. Adakah tandatangan itu gambaran gedung utopia, merupakan refleksi keinginnannya untuk memiliki rumah tinggal?
.
Sampai meninggal Nashar tak pernah menjawab soal sepele ini. Lantaran ia tak pernah dendam pada kemiskinan dan penderitaan. Sekaligus ia tidak memperdulikan kesengsaraan.
.
.
#peristiwasenirupa #senirupa #rupaseni #nashar #bukusenirupa #ceritanashar #kemiskinan #tandatangan #rumahimajinatif

#kisahrupa
.
Sopir yang Jadi Kolektor dan Legislator
.
I Nyoman Rudana, kelahiran 1948, memulai karirnya sebagai house keeping di Hotel Hyaat Bali. Menjelang tahun 1970-an ia punya mobil sederhana yang bisa dipakai untuk membawa turis. Jadilah ia sopir yang merangkap pemandu wisata para turis yang datang ke Bali. Minatnya atas seni lukis mendorong nalurinya untuk membawa para turis ini ke berbagai artshop dan galeri seni rupa di Ubud, Batuan, Denpasar, dan sebagainya.
.
Dari artshop dan galeri itu ia menerima komisi. Lama-kelamaan ia merasa, alangkah indahnya apabila bukan ia yang diberi komisi, namun ia yang memberi komisi. Pada tahun 1974 ia mencoba membuka artshop dan komunitas seni rupa tradisional Bali di kediamannya, di Sanur. Ratusan turis yang dulu pernah dipandunya dihubungi, untuk berbelanja di tempatnya.
.
Usaha Rudana berhasil, tahun 1978 ia mendirikan galeri di Jln. Cok Rai Pudak, Ubud, di atas tanah seluas 1000 meter persegi. Galeri ini terus berkembang sehingga sekarang luasnya melampaui 2 ha. Atas dukungan istrinya, Wayan Olasthini, Rudana lalu mendirikan Museum Rudana di lahan itu, tahun 1995.
.
.
#peristiwasenirupa #bukusenirupa #senirupa #ceritasenirupa #inyomanrudana #kolektorseni #bali #ubud #museumrudana

#kisahrupa
.
Unsur Kebetulan Mewarnai Kaca Patri
.
Ini cerita tentang Brian Yaputra, seniman dan pengusaha seni kaca patri terkenal di Indonesia. Pada suatu hari ia sedang berada di pesawat Cathay Pasific jurusan Shanghai-Hongkong. Brian merasa terganggu oleh penumpang di sebelahnya, yang sedang menderita batuk. Untuk mengatasi batuknya itu Brian memberikan permen pelega tenggorokan kepadanya. Penumpang itu menerima. Sejenak kemudian terjadilah dialog. Rangkaian percakapan itu diselingi acara tukar kartu nama. Dari kartu nama itu Brian tahu bahwa pria tersebut adalah Dr. Tau Ho, Ketua Asosiasi Arsitek Hongkong.
.
Brian lalu menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah membuat seni kaca patri. Tau Ho sedikit terperanjat. Setelah melakukan komunikasi lanjut, beberapa minggu kemudian Tau Ho menyatakan bakal datang ke Jakarta. Hanya sehari, khusus untuk mengunjungi Eztu Glass Art. Brian tentu menyambutnya. Kesan baik Tau Ho atas profesionalitas Briant dan kinerjanya segera dimanifestasikan dalam bentuk pemesanan.
.
Hubungan Eztu Glass Art dan dunia internasional pun mulai terjalin. Setelah itu, sejumlah gedung lain di Hongkong terjamah produk seni kaca patri Eztu Glass Art. Sampa akhirnya pihak Disneyland Hongkong mengetahui. Setelah diadakan penelitian reputasi, kantor pusat Walt Disney di Amerika Serikat pun melakukan pemesanan untuk Disneyland Hongkong. Maka sejak tahun 2000 Disneyland Hongkong terhiasi produk Eztu Glass Art yang molek gilang gemilang.
.
Brian bertanya, adakah yang tahu bahwa seni kaca patri di Disneyland Hongkong itu made in Indonesia?
.
.
.
#peristiwasenirupa #bukusenirupa #senirupa #tokohsenirupa #brianyaputra #senikacapatri #disneyland #disneyhongkong #eztuglassart #madeinindonesia #cintaprodukdalamnegeri #merdeka

#kisahrupa
.
Cedera Mata Doyo Prawito
.
Doyo Prawito, kelahiran Surabaya 1947, merasa hidupnya berangkat dari mata. Maklum ia pelukis. Dan atas mata ini ia punya sepercik sejarah yang susah dilupakan. Ketika ia akan berangkat ke Prancis tahun 1970, sebagian Kota Surabaya sedang dilanda penyakit mata. Doyo terkena juga, tetapi karena tiket pesawat sudah di tangan Doyo harus tetap berangkat. Ia lalu ke Jakarta. Dari Jakarta, dengan mata yang gatal dan mulai memerah, ia menuju ke Paris. Di pesawat Doyo bolak-balik ke toilet untuk membersihkan matanya. Pesawat transit di Singapura selama semalam. Esok harinya di pesawat Doyo melihat belasan penumpang itu mengenakan kacamata hitam, termasuk Doyo. Rupanya penumpang itu mendapat “cendera mata” atau tertular penyakit mata Doyo.
.
Di Paris, Doyo bekerja sebagai penjaga pintu masuk asrama kecil para mahasiswa. Setelah dapat uang sekadarnya, ia lantas sewa kamar kelas pembantu. Atapnya pendek dan miring, sehingga ia tak bisa berdiri apabila harus beristirahat atau tidur. Pada 1971 Doyo akhirnya berhasil masuk Ecole National Superieur des Beaux Arts, Paris.
.
Dalam karirnya Doyo memperoleh 15 penghargaan dari Prancis, Italia, dan Spanyol. Termasuk hadiah Oscar de Montecarlo 1984, yang pernah diberikan kepada Salvador Dali dan Marc Chagall. Ia meninggal karena kecelakaan jalan raya di Krian, Jawa Timur, pada 2 November 1987, sepulang dari tugas menjadi juri kompetisi foto di Yogyakarta. .
.
.
.
.
#peristiwasenirupa #bukusenirupa #senirupa #rupaseni #cenderamata #doyoprawito #pelukis #lukisan #paris #prancis #oscar #penghargaan #tekadkuat

#kisahrupa
.
Arie Smit, Young Artist dan Kerja Rodi
.
Arie Smit, kelahiran Zandaam, Belanda 15 April 1916, dikenang sebagai pendidik seni lukis yang luar biasa di Bali. Pada tahun 1960 ia mengumpulkan puluhan anak Dusun Penestanan, Desa Ubud, Bali untuk diajari melukis. Umur anak-anak itu sekitar 6 sampai 12 tahun. Hasrat, Arie mengajar didorong rasa prihatin melihat dusun mereka yang sungguh miskin. Ayah mereka umumnya buruh tani, dan anak-anak tersebut tidak bersekolah. Kerjanya setiap hari hanya mengangon bebek.
.
Untuk melaksanakan pengajaran gratis itu Arie lalu meminta izin kepada orang tua anak. Namun para orang tua itu menolak karena tidak ada yang mengangon bebek. Akhirnya Arie pun membayar pengangon bebek orang dewasa untuk menggantikan anak-anak itu. Jirih payah Arie tidak sia-sia. Puluhan anak itu melukis dengan penuh gairah. Oleh Arie perkumpulan itu dinamai Young Artist. Bahkan lukisan anak-anak itu sangat laku dalam penjualan. Alhasil, Dusun Penestanan yang semula melarat menjadi kaya dan sejahtera.
.
Sampai tahun 2000 an aliran Young Artist telah beranak-pinak dan jadi aliran terbesar dalam dunia seni rupa Indonesia. Beberapa pelukisnya, seperti Ketut Soki, Made Sinteg, Ngurah KK, Nyoman Londo, Nyoman Tjakra, Ketut Tagen dll dicatat sebagai pelukis istimewa.
.
Arie Smit adalah anak keluarga kaya di Belanda yang memiliki perusahaan Smit Expeditie yang berdiri 1791. Belajar seni rupa di Akademi Rupa Rotterdam. Namun ia terkena wajib militer dan dikirim ke Indonesia sebagai serdadu yang menangani topografi. Ketika Belanda ditaklukan Jepang pada tahun 1942 Arie terkena kerja rodi, di antaranya membangun rel kereta api di Birma. Kisah kerja paksa ini diangkat dalam film berjudul “The Bridge on the River Kwai”. Film ini disutradarai David Lean, dibintangin William Holden dan Jack Hawkins, dan menggondol 7 Oscar.
.
.
.
.
.
.
#peristiwarupa #bukusenirupa #senirupa #pendidikanseni #ariesmit #youngartist #kerjarodi #pialaoscar #film #lukis #generasimuda

#kisahrupa
.
Cerita Komik “Sie Djien Koei”
.
Salah satu komik paling terkenal di Indonesia adalah komik silat Tiongkok “Sie Djin Koei” yang pernah dimuat secara bersambung di majalah Star Weekly, antara 1954 – 1961. Komik “Sie Djin Koei” terdiri atas 700 halaman, dan dikerjakan selama 7 tahun. Dengan begitu, komik ini mencatat rekor terlama dalam penciptaan.
.
Mengapa begitu lama, ini disebabkan sistem kerja yang dipercayakan P.K. Ojong, pemimpin redaksi Star Weekly. Sistem kerja itu mempersilakan Siauw untuk membuat komik secara berangsur. Hari ini Siauw mencipta komik untuk edisi minggu depan. Minggu depannya lagi untuk edisi minggu berikutnya. Begitu terus dorong mendorong. Cara kerja ini memang mengandung risiko. Sekali Siauw sakit dan tak bisa mencipta, urusan keluarga, atau mogok kerja, maka lowonglah “Sie Djin Koei” dalam sebuah edisi.
.
Tapi ternyata “musibah” tak pernah terjadi. Komik yang per halamannya berukuran 1 plano (8 kali folio) dan dikerjakan dengan tinta Cina dan mopit itu terus tersetor tanpa jeda. “Ajaib, selama tujuh tahun saya nyaris tak pernah sakit, “ kisahnya.
.
Uniknya, penciptaan setting komik hebat itu hanya berangkat dari imajinasi Siauw Tik Kwei belaka. Karena ketika menciptak ia belum pernah berkunjung ke daratan Tiongkok. Siauw Tik Kwei baru berkesempatan ke Kuilin pada 1983 atas sponsor Tjokro Atmojo, kolektor seni lukis dan penerbit komik pada tahun 60 an. Siauw sungguh tercengang melihat Kuilin yang menyimpan 100.000 bukit indah.
.
Namun negeri Tiongkok justru mendekatkan dirinya pada maut. Kala itu Tiongkok sedang musim dingin. Ketika masih di Kuiling dadanya sudah terasa terganggu. Sepulang dari sana jantung Siauw bengkak dan ia pun menderita sakit berbulan-bulan. Pada 16 April 1988 ia wafat. Cita-citanya untuk melukis tuntas pemandangan Kuilin di atas kanvas pun sirna.
. . . . .
#komikstrip #peristiwasenirupa #bukusenirupa #senirupa #senikomik #tahilalat #sejarahkomik #siauwtikkwei

#kisahrupa
.
Diplomasi Maut Seniman Maestro
.
Hendra Gunawan (1918-1983) terbilag sangat pandai berdiplomasi saat bernegosiasi soal lukisan yang akan dijualnya. Di sebuah surat ditulisan tangan yang ditujukan kepada Ir. Ciputra pada Februari 1983, ia menulis:
.
“Walau Pak Cip sudah mahir berenang di baja pijar atau baja dingin, tapi tetap yang kami nilai dari pribadi Pak Cip, bukan dolarnya, melainkan manusia seni budaya yang telah pernah mengangkat ratusan bahkan kelak ribuan seniman dari neraka kesengsaraan kerja cipta seni.
.
Termasuk saya adalah seniman yang hanya bisa hidup melukis terus dengan makan dari sisa-sisa makanan yang terciprat pada taplak meja makan orang-orang kaya. Ini bukan berarti bahwa karya saya tidak bertingkat jejeran tertinggi di Asia, tapi memang pematangan seni saya membutuhkan kepahitan yang paling tidak enak di lapisan bukki kloset tingkat Ciliwung, sedang karya cipta Pak Cip dibutuhkan untuk pencakar langit ke – 7. Tapi toh bertemu di tempat yang sama dan cukup mulia. Di Taman Budaya Ancol Jaya.”
.
Ir. Ciputra akhirnya menjadi kolektor ratusan lukisan Hendra Gunawan. Koleksinya itu diformulasikan dalam buku Hendra Gunawan, A Great Modern Indonesia painter (2001), ditulis oleh Agus Dermawan T dan Dr. Astri Wright.
.
.
.
.
.
#peristiwaseni #bukusenirupa #senirupa #hendragunawan #IrCiputra #lukisan #diplomasi #diplomasiseni #artsy

#kisahrupa .
Darah Revolusi Nyoman Ngendon
.
Selain melukis dalam gaya tradisional, Ngendon juga sempat melukis dengan gaya realis naturalis. Ini adalah dampak dari pergaulannya dengan para seniman modern yang ia temui di Yogyakarta. Ia memang pernah ke Yogyakarta sebagai orang Indonesia pergerakan pada tahun 1935. D
.
Di Yogyakarta ini ia sempat berkenalan dengan sejumlah pelukis, yang pada beberapa tahun kemudian menjadi angora Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi), organisasi pelukis pejuang yang didirikan oleh Sudjojono dan Agus Djaya pada tahun 1938 di Jakarta.
.
Kembali ke Bali, Ngendon menyatakan bersatu hati dengan Persagi. Heroisme ala Persagi inilah yang membuat Ngendon bersemangat menciptakan poster-poster perjuangan mengusir penjajah di Bali. Semangat Ngendon menyebabkan serdadu penjajah terus mengawasinya.
.
Ngendon juga dikenang sebagai pejuang. Ia menjadi tentara di bawah Resimen I Ngurah Rai. Karena pandai melukis, maka ia ditugaskan di seksi penerangan.
.
Nasib Malang menimpa pelukis pejuang ini. Pada suatu hari di tahun 1946 ia ditangkap tentara NICA di kuburan Dentiyis, Batuan. Tragedi ini semakin memiriskan ketika banyak saksi bercerita bahwa setelah ditembak jenasahnya diseret dengan truk di jalan Sukawati.
.
Karya cipta Ngendon istimewa, tapi tidak banyak ditemui masyarakat pencinta seni Bali di Indonesia. Karena sebagian besar dibawa oleh kolektor asing. Di antaranya disimpan oleh antropolog Margaret Mead dan Gregory Bateson dari Amerika Serikat. Institusi Mead pernah membawa koleksinya untuk dipamerkan di Museum Arma, Ubud. Karya Ngendon juga dipajang di museum Eropa, seperti Rijkmuseum voor Volkenkunde-Leiden, Belanda.
.
.
#peristiwasenirupa #bukusenirupa #artstory #pejuangkemerdekaan #nyomanngendon #pelukisbali #bali #pulaubali #senimanbali #sejarahbali #penjajahan #art

#kisahrupa
.
Yang Hilang yang Dilelang.
.
Pada lelang Christie’s di Singapura edisi 26 Maret 1995 muncul satu karya Ida Bagus Poleng. Lukisan ini diklaim sebagai salah satu barang curian yang terjadi di Studio Gus Made pada tahun 1986.
.
Keluarga Gus Made meminta Christie’s untuk membatalkan lelang. Sebaliknya, Christie’s meminta keluarga Gus Made memberikan bukti laporan kehilangan dari polisi, bersama dokumentasi foto lukisan yang raib. Keluarga Gus Made tak punya bukti-bukti itu. Pihak Gus Made pun kalah. Lukisannya tetap dilelang dan terjual cukup mahal.
.
Peristiwa lain yang lebih menghebohkan adalah munculnya koleksi Departemen Pendidikan & Kebudayaan RI di lelang Christie’s Singapura edisi 6 Oktober 1996. Lukisan itu ciptaan Raden Saleh, “Potrait of a Dutch Governor Wearing the Willems Order” dan karya Basoeki Abdullah, “Nude”.
.
Kedua karya tersebut lama hanya tertumpuk di gudang Museum Nasional. Begitu melihat katalogus Christie’s, Menteri P & K Wardiman Djojonegoro meminta Christie’s membatalkan lelang. Seperti biasa Christie’s meminta bukti.
.
Keuletan Wardiman, dengan menyodorkan arsip-arsip, nampak berbuah. Christie’s akhirnya mau dan berhasil merayu agar vendor mau menyerahkan lukisan itu kepada Negara Indonesia.
.
Padahal vendor itu membeli dari kolektor dan kolektor Singapura itu membeli dari orang Indonesia. Sementara, tetap dalam kode etik, vendor tidak dipertemukan dengan P & K.
.
Yang ajaib, tepat pada lot lukisan Basoeki Abdullah, lampu ruang lelang mati selam hampir satu menit. Hal yang belum pernah terjadi dalam pelelangan Christie’s di Asia. Ada yang mengatakan Almarhum Basoeki Abdullah marah.
.
.
.
#peristiwasenirupa #bukusenirupa #lelanglukisan #lukisanhilang #lukisandicuri #artstory #christie’s #basoekiabdullah #wardiman #idabaguspoleng

#kisahrupa
.
Suatmadji
.
Suatmadji adalah perupa Jogja dari Generasi Seni Rupa Baru. Selain dikenal sebagai pelopor seni tahun 1970-an, seniman kelahiran Yogyakarta 25 Maret 1953 ini juga pionir gaya fotorealisme yang umumnya mengedepankan tema kebudayaan urban.
.
Ia biasa bermain-main dengan gambar, kolase, menempel, mengopi, dan cetak-mencetak. Sepanjang karir lulusan STSRI ASRI ini telah mengikuti pelbagai pameran baik di tingkat nasional maupun internasional.
.
Peraih Mendali Emas di Morinaga Singing the Princes of Mother Society Prize, Medali perunggu Unesco dalam Drawing Contest di Tokyo dan Seni Lukis Remaja Internasional dalam Olimpiade di Jerman barat tahun 1972 ini ditahbiskan sebagai perupa (sekaligus karyanya) “menjadi dan mimliki” tanda khusus di zamannya.
.
Ia dinilai berpengaruh pada masa tertentu sekaligus menjadi pelaku sejarah dan telah memberi sumbangan terjadinya hubungan antara seni rupa dan dimensi di luar dirinya.
.
.
#bukusenirupa #suatmadji #profilseniman #biografitokoh #biografiseniman #senimanjogja #asri #faktaseniman

#kisahrupa .
Guruh Soekarnoputra Memrotes Christie’s
.
Ini cerita tentang lelang Christie’s di Singapura edisi 26 Maret 1995. Kala itu lukisan pastel Basoeki Abdullah, “Gadis Bali Berdoa”, siap dilelang dengan harga estimasi $ 20.000 – 25.000. Dari written bids lukisan berukuran dua jengkal ini sudah ditawar $ 50.000 dan di floor diprediksi akan mencapai $ 70.000.
.
Namun mendadak datang protes dari Guruh Soekarnoputra. Anak presiden Sukarno ini mengatakan lukisan itu adalah koleksi ayahnya yang lama tergantung di rumahnya.
.
Alkisah, pada 1972-1974, Guruh pergi dari rumah itu untuk belajar arkeologi di Amsterdam. Sepulang dari studi, Guruh terkejut karena lukisan itu sudah tidak ada di tempatnya. Sampai akhirnya muncul di Christie’s.
.
Guruh meminta Christie’s untuk tidak melelangnya. Bukti bahwa lukisan itu milik keluarga Sukarno adalah buku Koleksi Presiden Sukarno susunan Dullah, volume II, halaman 118. Di situ lukisan tersebut tercantum.
.
Lewat serangkaian dialog, akhirnya Christie’s membatalakan lelang. Namun permintaan lain, agar penggugat dipertemukan dengan vendor tak bisa dituruti. Sehingga lukisan itu mungkin tak kembali kepada Guruh.
.
Philip Ng, managing director Christie’s kala itu mengatakan ada kode etik dari rumah lelang mana pun untuk tidak menyebutkan vendor. Lebih dari 200 tahun Christie’s memegang kode etik itu. Kode etik ini logis karena jika vendor boleh bertemu dengan siapa saja, pembelian bisa dilakukan langsung tanpa perantara lelang.
.
.
#peristiwasenirupa #bukusenirupa #lukisan #lelang #guruhsoekarnoputra #lelanglukisan #christie #artforum #artstory #kodeetik #basoekiabdullah

#kisahrupa
.
Soal Nama dan Ihwal Bunuh Membunuh
.
Pendokumentasian seni rupa di Indonesia ternyata belum akurat. Buktinya, dalam katalog Pameran Besar Seni Visual Indonesia “Exposigns” yang diselenggarakan dalam rangka 25 tahun Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, pelukis Abas Alibasyah ditulis “almarhum”. Padahal Abas, seniman terkenal kelahiran Purwakarta 1928, masih segar bugar. .
Ironisnya, Abas adalah mantan rektor dari Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, cikal bakal ISI. “Wah, saya dibunuh murid-murid,” kata Abas yang enggan menonton pameran tersebut. Soal “bunuh-membunuh” ini juga terjadi atas I Ketut Murtika. Pelukis potensial asal Batuan, Bali ini bahkan beberapa kali meninggal dunia. Informasi meninggal itu pertama muncul dalam artikel yang ditulis pengamat seni dari Eropa. .
Disebut di situ bahwa Murtika yang lahir 1952, meninggal 1995. Tulisan ini menjadi acuan sejumlah galeri yang menjual karyanya. Pada suatu kali Murtika tahu berita salah ini, lantas meluruskan berita itu dengan menunjukan diri bahwa ia masih hidup. .
Tahun 2006 terbit buku Bali Bravo – Leksikon Pelukis Tradisional Bali 200 Tahun. Buku ini juga memakai informasi dari pemilik galeri yang masih menyangka Murtika sudah mati, sehingga disebut Murtika sebagai pelukis Almarhum. .
Murtika lagi-lagi meralat data ini. Dalam buku yang sama terbitan 2007, Murtika hidup lagi. Karena berkali-kali meninggal, ada yang menyarankan agar ia ganti nama dengan I Ketut Urip. Kata Urip artinya hidup.
.
.
.
#peristiwaseni #bukusenirupa #AbasAlibasyah #Ketutmurtika #peristiwasenirupa #senirupabali #isiyogyakarta #dikiramati #gantinama

#kisahrupa
.
Keuletan Pande Wayan Suteja Neka
.
Pada tahun 1980-an, Pande Wayan Suteja Neka, pendiri Museum Neka di kawasan Sangingan, Ubud, Bali, ingin melengkapi koleksi museumnya dengan lukisan Ida Bagus Made Poleng. Namun keinginan ini tak pernah menjadi kenyataan, karena Neka tak pernah diberi kesempatan membeli oleh pelukisanya. Ida Bagus Made memang dikenal sebagai pelukis yang sangat menghargai lukisannya.
.
Pada suatu hari datanglah seorang kolektor Belanda yang ingin membeli selembar lukisan koleksi Neka yang tidak dijual. Karena kolektor itu terus mendesak, Neka mau menjual lukisan itu dengan syarat. Syaratnya, kolektor tersebut harus bisa mendapatkan lukisan Gus Made yang berjudul “Sabung Ayam”, berukuran 70 x 57 cm. Lukisan ini bertarikh 1971 dan sudah lama diincar Neka. Neka berjanji akan membarter lukisan “Sabung Ayam” itu dengan lukisan yang diinginkan kolektor.
.
Taktik Neka ternyata berjalan dengan apik. Kolektor Belanda itu berhasil membeli lukisan yang dimaksud. “Sabung Ayam” pun tergantung di museum. Di hari kemudian Gus Made akhirnya tahu bahwa lukisan tersebut ada di Museum Neka dan ia tahu cara Neka menadapatkannya. Gus Made marah besar, ia bersumpah tidak mau berbicara dengan Neka seumur hidupnya. Sampai dirinya tutup usua pada 1999, sumpah itu nampaknya sukses dijalani.
.
Suteja Neka memang ulet mengejar lukisan yang diingini. Pada akhir 1989 ia memburu lukisan Affandi, “Perahu Kusamba” (1973) dan “Potret Diri” (1978) di Manila, Filipina. Sehari setelah urusan selesai, Neka dan istrinya menikmati kota Manila. Tiba-tiba pemberontakan Makati meletus. Neka buru-buru masuk hotel, dan tersandera di hotel itu beberapa hari.
.
.
.
#bukusenirupa #sutejaneka #kisahlukisan #kisahsenirupa #kisahseniman #ceritaseni #tokohsenirupa #senirupaindonesia #baliart

#kisahrupa
.
Lukisan Saya Tidak Layak Naik Dokar
.
Ida Bagus Made Poleng, biasa dipanggil Gus Made, kelahiran Tabesaya, Ubud, Bali, 1915. Dikenal sebagai pelukis yang sangat menghormati karya-karyanya. Jarang ada kolektor Indonesia yang bisa membeli lukisannya, walaupun kolektor itu mau membayar berapa pun harganya. Alasannya, kolektor Indonesia membeli untuk segera dijual lagi. Jadi, oleh Gus Made, kolektor Indonesia dianggap kurang mencintai karya yang dibelinya. Ini berbeda dengan kolektor Barat, yang menuru Gus Made benar-benar mencintai lukisan Bali. .
Pada tahun 1956 Presiden Sukarno datang ke studio Gus Made dan membeli sebuah lukisan. Selesai transaksi Bung Karno ingin membawa langsung lukisan itu, namun karena sayang, Gus Made masih menahannya. Pada sore berikutnya datanglah utusan Bung Karno untuk mengambil lukisan tersebut. Gus Made dengan berat hati menenteng karyanya menuju kendaraan utusan. Namun, begitu ia melihat bahwa kendaraan itu dokar, ia mengundurkan langkah dan lantas balik lagi ke rumahnya. “Lukisan saya tidak layak naik dokar,” ujarnya dengan wajah marah.
.
Keesokan harinya mobil Presiden datang menjemput lukisan itu. Gus Made pun memberikannya dengan bahagia. Lukisan tersebut berjudul “Mohon Berkah”, termuat di buku Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Sukarno susunan Lee Man Fong jilid I.
.
.
.
#bukusenirupa #madepoleng #gusmade #leemanfong #kisahlukisan #pelukisbali #ceritaseniman #kisahseniman

#kisahrupa .
Dan Semua Dipanggil Made!
Di Bali nama sering dianggap kurang penting. Jika seseorang bernama Ida Bagus Made Togog, ia dipanggil Made, bukan Togog. Apabila bernama Ida Bagus Made Tibah, ia juga akan dipanggil Made, bukan Tibah. Padahal untuk dunia seni lukis nama itu sangat penting. Lantaran nama mempersepsikan gaya lukisan, kualitas lukisan, bahkan harga lukisan. Di Bali, pelukis yang memakai nama Ida Bagus Made sangat banyak. Berikut beberapa di antaranya yang ternama.
.
Ida Bagus Made Poleng, lahir 1915 di Banjar Tabesaya, Ubud, meninggal tahun 1999. Ida Bagus Made Nadera, kelahiran antara 1910 – 1915 di Banjar Tegallingah, Desa Bedahulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Ida Bagus Made Togog, lahir di Banjar Geriya, Batuan, Sukawati, 1913, meninggal 1989. Ida Bagus Made Widja, lahir 1912 di Banjar Geria Siwa, Batuan, meninggal 1992. Ida Bagus Made Tibah, lahir di Batuan tahun 1916, mulai melukis tahun 1934 dalam bimbingan I Nyoman Ngendon, meninggal tahun 1968.
.
Lalu Ida Bagus Made Tantera, dilahirkan di Batuan pada 1913, meninggal 1987. Ada juga Ida Bagus Made Djatasura, lahir di Batuan 1913, meninggal 1946. Lalu Ida Bagus Made Mergeg, dilahirkan di Batuan 1949, pada umur 15 tahun mulai melukis dengan belajar sendiri. Ida Bagus Made Lanus, dilahirkan 1918 di Batuan dan meninggal 1980. Ida Bagus Made Bala, lahir 1920 di Batuan, karyanya dikoleksi oleh Moseum fur Volkenkunde, Bassel, Swis. Sekali lagi, hampir semua pelukis itu punya panggilan Made. .
.
.
#bukusenirupa #pelukisbali #kisahpelukis #ceritaseniman #ceritaseni #sejarahseni #madelanus #madebala #mademergeg #madedjatasura #madetantera #madewidja #madepoleng #madenadera

#kisahrupa .
Protes Nama Ida Bagus Made!
.
Pada tahun 1989 pelukis terkenal dari Bali, Ida Bagus Made Nadera protes. Ia ingin meluruskan pengetahuan publik mengenai nama dirinya dan nama rekannya, Ida Bagus Made Poleng. Kesalahan itu muncul ketika ia membuka kembali buku “Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Sukarno Jilid IV”. Buku yang terbit tahun 1964 itu mencatat bahwa lukisan nomer 5, yang berjudul Tarian Bali, adalah karya Ida Bagus Made, tanpa menyebut kata Nadera.
.
Sementara publik selama ini menganggap bahwa nama Ida Bagus Made identik dengan Ida Bagus Made Poleng. Dengan begitu, selama 25 tahun masyarakat menganggap lukisan tersebut adalah karya Poleng. “Orang selalu bertanya, mengapa lukisan Pak Nadera tak ada dalam buku koleksi Sukarno, saya katakan ada di buku keempat, lukisan nomer lima. Tapi orang tidak percaya.
.
Akhirnya saya tidak terima dengan kenyataan ini. Saya bertekad ingin mengulang lagi lukisan yang ada dalam buku tersebut. Dalam lukisan itu akan saya tulis: Koleksi Presiden Sukarno,” Ujar Nadera.
Maka pada tahun 1990, di atas kanvas berukuran 140x180 cm, Ida Bagus Made Nadera mencipta lukisan berjudul “Sunda Upasunda”. Lukisan yang mirip dengan yang ada di koleksi Presiden Sukarno, menceritakan pertikaian dua raksasa kaka beradik. Di satu sisi lukisan itu tertulis: Koleksi Presiden Sukarno.
.
.
.
#bukusenirupa #kisahseniman #ceritalukisan #kisahlukisan #madenadera #madepoleng #pelukisbali

#kisahrupa
.
Kehidupan Nadera yang Heboh
Ida Bagus Made Nadera adalah pelukis besar Bali. Ia dilahirkan antara tahun 1910-1915 di Banjar Tegallinggah, Desa Bedahulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Pendidikan formal hanya ditempuh sampai kelas dua Sekolah Rakyat. Namun karena reputasinya yang luar biasa, pada 1988 ia mendapat hadiah Wijaya Kusuma dari Kabupaten Gianyar. Ia juga memperoleh anugerah seni Dharma Kusuma dari Pemerintah Derah Bali.
Nadera pernah bekerja di Kantor Distrik, yang disebut Kantor Kecamatan di Blahbatuh. Di sela-sela waktu kerja kantor ia melukis. Karya-karya Nadera dengan cepat menghadirkan kualitas. Sehingga ia diminta untuk bekerja sebagai “asisten” seorang guru seni di Sekolah Rakyat. Tetapi tidak berlangsung lama karena guru itu tiba-tiba dialihtugaskan menjadi pemungut pajak. Uniknya, Nadera ikut jadi pemungut pajak setelahnya. Ketika temannya belajar membaca kitab-kitab kuno agama Hindu dalam bahasa Kawi, ia juga ikut-ikutan. Bahkan sampai ahli dalam hal ini. .
Tahun 1936 ia mendengar ada kelompok seni lukis Pita Maha. Ia pun bergabung. Rudolf Bonnet dan Walter Spies, pendiri organisasi itu menugasi Nadera melukis di atas kanvas sepanjang 9 yard atau 8 meter. Sebuah karya yang sampai sekarang dianggap terpanjang dalam sejarah seni lukis tradisional Bali.
.
Kehidupan Nadera termasuk heboh. Apalagi soal perkawinannya. Pada tahun 1942 ia menikah dengan Ida Ayu Made Pangga. Berlangsung sebentar dan bercerai. Kemudian menikah lagi dengan Ida Ayu Alit. Awet dan membuahkan tujuh anak. Menikah ketiga kalinya dengan Ida Ayu Oka, dikaruniai seorang putra. Keempat kalinya mengawini Ida Ayu Candri. Kelima atau yang terakhir, ia menyunting Desak Rai, memiliki seorang anak. Di dunia seni lukis Bali, riwayat perkawinan Nadera termasuk yang paling heboh. .
.
#bukusenirupa #madenadera #pelukisbali #senimanindonesia #profilseniman #biografitokoh #ceritasenirupa #kisahseniman

Most Popular Instagram Hashtags