[PR] Gain and Get More Likes and Followers on Instagram.

#berdikari

14894 posts

TOP POSTS

Letkol Untung telah melakukan kesalahan besar dalam operasi rahasia ini dan tidak sesuai dengan perintahnya sendiri... (Buntoro, Prajurit Cakrabirawa)
ㅤㅤ
Sehari sebelum peristiwa (G30S) saya melapor langsung kepada Bapak Mayjen Soeharto, sewaktu beliau berada di RSPAD sedang menunggui putranya yang ketumpahan sup panas. Dengan laporan saya ini, berarti saya mendapat bantuan moril, karena tidak ada reaksi dari beliau.... (Kolonel Latief, Dan Brigif I/Jaya Sakti)
ㅤㅤ
Kami tidak menemukan p*nis yang dipotong, sehingga waktu membuat tulisan visum semua anggota tim forensi ini ketakutan... Sementara di luar sana sudah berkembang sangat santer cerita-cerita yang tidak benar dan terlalu dilebih-lebihkan.... (Prof. Dr. Arif Budianto, Anggota Tim Forensik Ketujuh Perwira)
ㅤㅤ
Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah dokumentasi dan rekaman berbagai kesaksian yang pernah dipublikasikan berbagai media massa mengenai tragedi 30 September 1965. Kesaksian ini penting untuk melihat peristiwa ini dari berbagai sisi. Sementara bagian keduanya merupakan kajian ulang semacam "rekonstruksi sejarah" dengan sudut pandang realitas, tentu saja dengan bersandar pada pengakuan tokoh-tokoh sejarah yang pernah terbungkam.
ㅤㅤ
Judul Buku: Siapa Dalang G30S? : Fakta dan Rekayasa G30S Menurut Kesaksian Pelaku
Penulis: A. Pambudi
Penerbit: Media Pressindo
Tebal: x+422 hlm.
Harga: 54.000 (Normal: 60.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Di masa revolusi nasional, Tan Malaka adalah sosok yang disegani. Soekarno menganggapnya sebagai guru revolusi. Hatta menyebutnya sebagai sosok yang tak mudah membungkukkan tulang punggungnya. Sebagian orang malah menyebutnya sebagai filosof Indonesia yang paling awal.
ㅤㅤ
Tetapi mengapa ia tewas dibunuh oleh sebangsanya sendiri? Siapa yang berada di balik pembunuhannya?
ㅤㅤ
Tan Malaka Dibunuh! adalah sebuah kisah sejarah yang ironis. Ditulis dengan gaya sastra-sejarah, buku ini mengurai tentang sosok, kiprah pergerakan, serta kematian Tan Malaka yang tragis di pinggir sungai Brantas pada Februari 1949. Karya ini juga merekam dengan detail krisis politik yang terjadi pada kurun waktu 1945-1949. Sebuah kurun waktu dimana sesama kelompok revolusioner di negeri ini terlibat konflik politik dan perebutan kekuasaan yang berakhir dengan kematian dan pembunuhan.
ㅤㅤ
Judul: Tan Malaka Dibunuh
Penulis: Yunior Hafidh Hery
Penerbit: Resist Book
Tebal: xxxvi+234 hlm
Harga: 58.500 (Harga Asli 62.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Hidup ini tidak boleh lari dari sekeliling yang sering
memberikan kita harapan, semangat dan jalan. Lalu
kita akan bermain dengan hukum dunia yang tidak
letih menduga dan memerhati setiap tahi yang kita
lakukan. Masih Bukan Tuhan sebuah luahan dari jiwa
yang masih tercari-cari jalan untuk terus bertahan di
dalam dunia yang tidak pernah keruan, dan kami yang
berjuang dalam jiwa yang menagih keberantakkan
untuk bertemu impian, perempuan, dan tuhan.
ㅤㅤ
Judul Buku: Masih Bukan Tuhan
Penulis: Saufir Tahir, Safwan Tahir
Penerbit: Indie Book Corner
Tebal: 238
Harga: 45.000 (Normal: 50.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Buku ini merupakan sebuah upaya untuk melihat apakah memang kudeta merupakan satu-satunya opsi yang harus ditempuh dan disepakati sebagai jalan keluar ketika demokrasi tidak berfungsi? Apakah pengambilalihan kekuasaan secara ilegal merupakan solusi ketika demokrasi ternyata justru menjadi jawaban ketika seorang megalomaniak terus menerus berkuasa? Mungkinkah kudeta tampil sebagai satu-satunya pilihan paling logis secara politik untuk mendorong perubahan demokratik?
ㅤㅤ
Penulis: Coen Husain Pontoh | Luky Djani | Vedi R. Hadiz | Andre Barahamin | Giles Ji Ungpakorn| Ted Sprague | Muhammad Ridha | Iqra Anugrah | Sapto Waluyo | Samir Amin | Muhhamad Al Fayyadl
ㅤㅤ
Judul: Ketika Demokrasi Melahirkan Kudeta
Penulis: Coen Husain Pontoh, dkk
Penerbit: Berdikari Book x Indoprogress
Harga: 62.000
Tebal: xx + 206 hlm
Dimensi: 12 x 18 cm
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan dengan diskon up to 15%, silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red

"Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat produksi yang sedikit. Bangsa kita yang puluhan jiwa jumlahnya, sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktik." ㅤㅤ (Bung Karno, dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
ㅤㅤ
Marhaenisme adalah cara dan asas perjuangan yang menghendaki hilangnya setiap kapitalisme dan imperialisme. Perjuangan Marhaenisme adalah perjuangan mewujudkan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi.
ㅤㅤ
Buku ini berisi berbagai pokok pikiran Bung Karno, Bapak Marhaen Indonesia, yang patut dipelajari kembali dalam konteks situasi bangsa sekarang. Marhaenisme selalu penting dalam latar belakang masyarakat kapitalisme global yang eksploitatif. Setitik harapan bagi buruh dan tani harus disulut, agar hak mereka tidak selalu dirampas dan keringat mereka tidak terus-menerus diperas oleh "hantu" kapitalisme.
ㅤㅤ
Judul Buku : Pokok-pokok Ajaran Marhaenisme Menurut Bung Karno
Penulis : Ir. Sukarno
Penerbit : Media Pressindo
Tebal : 99 hlm
Harga: 35.000
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan dengan diskon up to 15%, silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red

Dari sekian catatan yang tertulis, ada satu kata yang sangat dekat dengan kesenian; perlawanan. Steven Spielberg menggunakan montase ruang tiga dimensi untuk mengungkap fakta holocoust, menghisap canja bersama Tuhan dipilih Bob Marley, tapi Jim Morisson, lewat The Doors-nya, menolaj dianggap sebagai pembebas. Mereka berkarya pada masanya, dan perlawanan abadi selamanya. Seni melampaui bentuk seni itu sendiri. Ia berdiri dan menembus kehidupan sosial-ekonomi-politik.
ㅤㅤ
Rebel Notes, adalah rampaian yang terserak di tengah karya megah seniman-seniman dunia. Mereka tidak hanya berkutat dengan kuas, tubuh, dan microphone untuk membuat wujud estetik. Lebih dari itu, ada gagasan pemberontakan terhadap permasalahan dunia. Catatan ini menjadi bentuk refleksi dari karya yang mendorong perubahan sosial.
Ditulis oleh John Lennon, Kurt Cobain, Andy Warhol, Bob Dylan, Bob Marley, Elvis Presley, Jimi Hendrix, Jean Michael Basquiat, James dean, Jim morrison, Bono, Yoko Ono, Oliver Stone, Steven Spielberg, Marilyn Monroe, Pablo Picasso, Thom Yorke.
ㅤㅤ
Judul Buku: Rebel Notes (Catatan Seniman Pemberontak)
Penulis: John Lennon, dkk
Penerbit: Katalika
Tebal: i-xxiv + 160 hlm
Harga: 58.500 (Normal: 65.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan dengan diskon up to 15%, silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red

Uang datang lebih dulu, kemudia keadilan (kredo)
ㅤㅤ
Hukum seperti senapan. Menyalak untuk mereka yang tak punya apa-apa. Pencuri semangka, pisang dan sandal harus mendekam dalam bui. Di proses serius dan dikenai hukuman berat. Sebaliknya untuk para koruptor hukum mau diajak negoisasi. Para tersangkanya dibela oleh pengacara unggulan, diberi hukuman rendah dan memperoleh fasilitas istimewa dalam penjara. Kredo semua orang sama dihadapan hukum ternyata bualan. Di hadapan hukum, nyatanya uang dan kedudukan sangat menentukan. Itu pula sebabnya penegak hukum mirip wirausaha yang berbisnis perkara. Ditemani oleh undang-undang dan dikawal para makelar maka hukum jadi barang jualan. Dapat dibeli dan ditawar. Ikhtiar untuk membasmi terasa sia-sia dan tak ada gunanya. Peringkat korupsi masih tinggi, aparat tanpa nurani dan pengacara hilang etika. Dengan lampiran gambar yang lucu, buku ini mengukuhkan kembali keyakinan kita: hukum memang sudah lama hilang di negeri ini. Yang tinggal hanya fakultas hokum, pejabat hukum dan lebih banyak lagi, makelar hukum! Komplotan para bedebah itulah yang tersisa dan bekerja.
ㅤㅤ
Pengumuman: Semua adegan dalam buku ini bisa ditiru, diajarkan dan dilatihkan pada mahasiswa fakultas hukum. Dianjurkan agar saat membaca buku ini ada tidak berada dalam radius dekat dengan kantor pengadilan, kejaksaan, kepolisian atau kantor pengacara. Hasil penjuala buku ini sebagian diperuntukkan untuk makelar hukum agar bisa mengurus perkara orang miskin dengan cepat dan vonis ringan!
ㅤㅤ
Judul Buku: Keadilan Tidak untuk yang Miskin
Penulis: Eko prasetyo
Penerbit: Resist Book
Tebal: 234 hlm
Harga: 43.200 (Normal: 48.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Sudah terlalu lama guru berdiam diri terhadap apa yang dihadapinya. Walaupun UU Guru telah hadir, itu bukan jaminan kebebasan dan kesejahteraan guru. Profesi guru bukan hanya kurang dihargai tapi juga kerapkali dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dan politik.
ㅤㅤ
Kini saatnya guru kembali bahwa mengajar bukan hanya memindahkan pengetahuan, tetapi juga mendidik perlawanan. Wahai guru, jadikan siswa-siswamu orang yang tak hanya menghargai pengetahuan namun juga menghargai pekerjaanmu sebagai guru. Buatlah sistem pembelajaran yang mengenalkan realitas sosial, bukan sekedar melatih tipu menipu.
ㅤㅤ
Guru, masa depan bangsa ini ada di pundakmu. Jangan sampai kau lahirkan murid yang kelak menjadi penjahat kemanusiaan atau koruptor. Sudah lama bangsa ini merindukan guru yang mampu melahirkan siswa yang memiliki empati, kepedulian dan tanggung jawab sosial.
ㅤㅤ
Judul Buku: Guru: Mendidik Itu Melawan!
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book
Tebal: xii + 206 hal
Harga: 55.000 (Normal: 60.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Kadang-kadang sendiri rakam, sendiri jadi engineer 😂 #Mirwana #Berdikari

MOST RECENT

KORAN PERGERAKAN

Ada keunggulan Sukarno yang jarang diungkapkan: dia adalah jurnalis berpena tajam.

Di tahun 1920-an, ketika usianya masih belasan, Sukarno sudah menekuni dunia jurnalistik. Ia menerbitkan tulisan-tulisan pertamanya melalui koran Sarekat Islam, Oetoesan Hindia. Saat itu dia menggunakan nama pena dari tokoh pewayangan: Bima.

D koran itu Sukarno menulis sekitar 500-an artikel maupun komentar. Tulisan-tulisannya sangat tajam menohok kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme. “..hancurkan segera kapitalisme yang dibantu budaknya imperialisme. Dengan kekuatan Islam, Insyah Allah, itu segera dilaksanakan,” tulis Sukarno di salah satu artikelnya.

Selain melalui Oetoesan Hindia, Sukarno juga sempat menjadi redaksi di koran Bendera Islam. Belakangan, koran ini berganti nama menjadi Fadjar Asia, yang terbit tiga kali dalam seminggu. Koran ini mengambil semboyan: “Melawan Imperialisme Barat! Berjuang untuk Kebebasan Bangsa dan Tanah Air.” Di tahun 1926, Sukarno mendirikan kelompok studi bernama Algemene Studie Club. Kelompok studi ini punya koran bernama Soeloeh Indonesia Muda. Koran ini dibiayai oleh Soekarno sendiri dari honorariumnya sebagai arsitek. Di koran inilah Sukarno menerbitkan risalahnya yang sangat terkenal, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Di artikel itu Sukarno mengeritik penyakit ‘berpandangan sempit’ dan sektarian di kalangan pergerakan anti-kolonial di Indonesia.

Setahun kemudian, Sukarno mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Bagi Soekarno, PNI adalah alat politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, PNI mengambil jalan radikal dan non-koperasi (menolak kerjasama dengan pihak kolonial). Selain itu,

Tahun 1928, PNI menerbitkan koran resminya, Persatoean Indonesia. Untuk memulai koran ini, Sukarno mengumpulkan donasi sebesar 500 gulden dari cabang-cabang PNI. Persatoen Indonesia ini menjadi corong PNI untuk berbicara kepada massa-marhaen.

Baca seterusnya di: http://www.berdikarionline.com/pena-tajam-soekarno/

#SukarnoQoutes #BungKarno #Berdikari #Marhaenisme

NEOKOLONIALISME.
Pada tahun 1940-an hingga 1960-an, berbagai bentuk kolonialisme lama mengalami keruntuhan. Bentuk-bentuk penaklukan langsung, yang ditandai dengan penempatan kekuatan militer, berhasil ditaklukkan oleh kebangkitan gerakan pembebasan nasional di berbagai Negara jajahan.

Lantas, ketika imperialisme sudah terdesak, apakah mereka langsung menyerah? Bung Karno pernah bilang, “imperialisme lama atau kolonialisme lama itu hanya menyingkir sementara untuk memberi jalan kepada imperialisme dalam bentuk baru atau kolonialisme dalam bajunya yang baru.” Yang terjadi, imperialisme tidak benar-benar menyingkir. Bung Karno menceritakan, banyak Negara yang sudah meraih kemerdekaannya akhirnya menemukan kekecewaan besar. Kenapa? Sebab kemerdekaan nasional yang diraih dengan susah-payah itu gagal melikuidasi sepenuhnya kekuatan imperialisme. Akibatnya, imperialisme itu menggunakan cara-cara baru untuk mencegah Negara merdeka itu untuk mengkonsolidasikan politik, ekonomi, dan kebudayaannya.

Baca seterusnya di: http://www.berdikarionline.com/mengenal-neo-kolonialisme/

#MenangkanPancasila #BungKarno #Berdikari #IndonesiaMerdeka

Dalam beberapa hal, Tuhan sama sekali tak terjangkau rasio manusia, yakni saat Dia tertransenden dari segala bentuk deskripsi. Huston Smith
ㅤㅤ
Ironisnya, setelah menggali tradisi mistik dari arus utama kebudayaan dan menyatakannya tidak relevan dengan zaman ini, kita semua merasa hampa tanpa kehadiran hal-hal yang mistik. David Maybury-Lewis
ㅤㅤ
Judul: Kebenaran yang Terlupakan
Penerbit : Labirin (Basa-basi Group)
Harga : 63.000 (Harga Asli : 70.000)
Penulis: Huston Smith
Tebal : 328 hlm
Harga: 60.000 (Normal: 70.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Tulisan tentang Marx ini pernah diterbitkan dalam Encyclopedic, tetapi disingkat-singkat, terutama karena disensor. Bab mengenai "Taktik perjuangan kelas kaum proletar" dan "Sosialisme" bahkan dihilangkan. Selain itu banyak bagian-bagian dari tulisan ini yang kemudian disingkat dan dirubah.
ㅤㅤ
Buku ini merupakan tulisan Lenin mengemai Marx dan pemikirannya yang masih orisinil. Disajikan secara utuh dan tidak ada pengurangan maupun upaya untuk menyingkat. Tujuannya adalah untuk memberikan perspektif yang utuh dan menyeluruh dalam memahami Karl Marx dan pemikirannya.
ㅤㅤ
Sangat dianjurkan untuk membaca buku ini, sebelum membaca karya besar Karl Marx " Das Kapital", agar lebih mudah dalam memahami konsep-konsep dan pemikiran Karl Marx.
ㅤㅤ
Judul: The Teachings of Karl Marx
Penulis: V.I. Lenin
Penerbit: Cakrawangsa
Tebal: 86hal
Harga: 42.500 (Normal: 50.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Apakah benda itu bernilai karena menilainya, ataukah kita menilainya karena benda itu bernilai?
ㅤㅤ
Dua aliran utama dalam filsafat nilai (aksiologi) muncul untuk menjawab pertanyaan di atas. Aliran objektivisme berpendapat, benda itu bernilai, terlepas apakah kita menilainya atau tidak. sebaliknya aliran subjektivisme berpandangan, benda itu bernilai karena kita menilainya. Dua aliran yang berlainan ini sampai sekarang masih nyata.
ㅤㅤ
Buku Pengantar Filsafat Nilai karya Fondizi, filsuf produktif asal Amerika Latin, ini merangkum berbagai persoalan pokok dalam aksiologi, dan menunjukan jalan yang mengarah pada penyelesaian atas konflik tanpa ujung dalam bidang ini.
ㅤㅤ
Judul: Filsafat Nilai
Penulis: Risieri Frondizi
Penerbit: Pustaka Pelajar
Tebal: xvi+206 hlm
Harga: 45.000
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Aksi galang dana untuk rohingya bertajuk charity game bersama ukm PERSADA

_________
#BEMKMUNIDA
#Berdikari
#UnidaBogor
#saverohingya
#charitygame

Dalam The Crowd, salah satu karya klasiknya dalam bidang psikologi sosial pada tahun 1986, Le Bon melakukan penyelidikan penting seputar mentalitas massa. Kemudian dalam karya selanjutnya berjudul The Psychology of Revolution, Le Bon mencoba mengamati secara lebih dekat terkait subjek dan analogi tentang perilaku kelompok sebagai sebuah penyakit infeksisebuah penyakit yang dapat menular dari satu ke orang lain, melenyapkan individualitas, dan melahirkan irasionalitas.
ㅤㅤ
Dalam buku ini, Le Bon meneliti psikologi revolusi secara umum yang mencakup agama, politik, dan kualitas mental serta emosional dari para pemimpin gerakan. Dalam buku ini, sebagian besar contohnya diambil dari sejarah Prancis, dengan penekanan khusus pada Revolusi Prancis: meliputi asal-usul, aspek afektif, mistis, dan pengaruh kolektifnya, serta konflik antara pengaruh leluhur dan prinsip-prinsip revolusioner.
ㅤㅤ
Studi tentang Revolusi Prancis yang menghiasi sebagian besar isi buku ini mungkin akan mencabut lebih dari satu ilusi Anda, dengan membuktikan bahwa buku-buku yang menceritakan sejarah Revolusi sesungguhnya berisi banyak legenda yang sangat jauh dari kenyataan.
ㅤㅤ
Judul Buku: Psikologi Revolusi
Penulis: Gustave Le Bon
Penerjemah: Alifa Hanifati Irlinda
Penerbit: Forum
Tebal: xvi+316hal
Harga: 76.500 (Normal: 85.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Letkol Untung telah melakukan kesalahan besar dalam operasi rahasia ini dan tidak sesuai dengan perintahnya sendiri... (Buntoro, Prajurit Cakrabirawa)
ㅤㅤ
Sehari sebelum peristiwa (G30S) saya melapor langsung kepada Bapak Mayjen Soeharto, sewaktu beliau berada di RSPAD sedang menunggui putranya yang ketumpahan sup panas. Dengan laporan saya ini, berarti saya mendapat bantuan moril, karena tidak ada reaksi dari beliau.... (Kolonel Latief, Dan Brigif I/Jaya Sakti)
ㅤㅤ
Kami tidak menemukan p*nis yang dipotong, sehingga waktu membuat tulisan visum semua anggota tim forensi ini ketakutan... Sementara di luar sana sudah berkembang sangat santer cerita-cerita yang tidak benar dan terlalu dilebih-lebihkan.... (Prof. Dr. Arif Budianto, Anggota Tim Forensik Ketujuh Perwira)
ㅤㅤ
Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah dokumentasi dan rekaman berbagai kesaksian yang pernah dipublikasikan berbagai media massa mengenai tragedi 30 September 1965. Kesaksian ini penting untuk melihat peristiwa ini dari berbagai sisi. Sementara bagian keduanya merupakan kajian ulang semacam "rekonstruksi sejarah" dengan sudut pandang realitas, tentu saja dengan bersandar pada pengakuan tokoh-tokoh sejarah yang pernah terbungkam.
ㅤㅤ
Judul Buku: Siapa Dalang G30S? : Fakta dan Rekayasa G30S Menurut Kesaksian Pelaku
Penulis: A. Pambudi
Penerbit: Media Pressindo
Tebal: x+422 hlm.
Harga: 54.000 (Normal: 60.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Uang datang lebih dulu, kemudia keadilan (kredo)
ㅤㅤ
Hukum seperti senapan. Menyalak untuk mereka yang tak punya apa-apa. Pencuri semangka, pisang dan sandal harus mendekam dalam bui. Di proses serius dan dikenai hukuman berat. Sebaliknya untuk para koruptor hukum mau diajak negoisasi. Para tersangkanya dibela oleh pengacara unggulan, diberi hukuman rendah dan memperoleh fasilitas istimewa dalam penjara. Kredo semua orang sama dihadapan hukum ternyata bualan. Di hadapan hukum, nyatanya uang dan kedudukan sangat menentukan. Itu pula sebabnya penegak hukum mirip wirausaha yang berbisnis perkara. Ditemani oleh undang-undang dan dikawal para makelar maka hukum jadi barang jualan. Dapat dibeli dan ditawar. Ikhtiar untuk membasmi terasa sia-sia dan tak ada gunanya. Peringkat korupsi masih tinggi, aparat tanpa nurani dan pengacara hilang etika. Dengan lampiran gambar yang lucu, buku ini mengukuhkan kembali keyakinan kita: hukum memang sudah lama hilang di negeri ini. Yang tinggal hanya fakultas hokum, pejabat hukum dan lebih banyak lagi, makelar hukum! Komplotan para bedebah itulah yang tersisa dan bekerja.
ㅤㅤ
Pengumuman: Semua adegan dalam buku ini bisa ditiru, diajarkan dan dilatihkan pada mahasiswa fakultas hukum. Dianjurkan agar saat membaca buku ini ada tidak berada dalam radius dekat dengan kantor pengadilan, kejaksaan, kepolisian atau kantor pengacara. Hasil penjuala buku ini sebagian diperuntukkan untuk makelar hukum agar bisa mengurus perkara orang miskin dengan cepat dan vonis ringan!
ㅤㅤ
Judul Buku: Keadilan Tidak untuk yang Miskin
Penulis: Eko prasetyo
Penerbit: Resist Book
Tebal: 234 hlm
Harga: 43.200 (Normal: 48.000)
ㅤㅤ
Untuk melakukan pemesanan silahkan download aplikasi Berdikari Book di Play Store atau melalui www.berdikaribook.red/

Uuuu... Di Hati Ini Cuma Ada Dirimu
Uuuu... Di Dalam Mimpi Masih Ada Bayangmu
Uuuu... Disini S'lalu Masih Memikirkanmu
Uuuu... Disini Aku Gelisah Ingin Tahu

Uuuu... Disana Kamu Gak Ada Kabarnya
Uuuu... Disini Hampir Bosan Menunggumu
Uuuu... Disana Kamu Kemana Saja
Uuuu... Disini Aku Resah Sangat Ingin Tahu😚😚
.
.
.
.
.
#slank #fotodalamdompetmu #slankers #slanky #piss #plur #anakmami #berdikari #slankdotcom #slankerspolokarto #slankerssukoharjo #slankersjateng #slankersindonesia #slankersnusantara #slank_nggak_ada_matinya

|| Soeharto Dan Peristiwa G30S 1965 ||
--------------------------------------
Dalam sejarah yang disusun oleh Orde Baru, Gerakan 30 September (G30S) digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Gerakan yang dipimpin oleh Kolonel Untung itu dituding berniat merebut kekuasaan pemerintahan yang sah.

Namun, tudingan itu tidak pernah terbukti. Bahkan pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), yang mengadili pentolan G30S dan tokoh-tokoh PKI, gagal membuktikan tuduhan tersebut. Malahan, berbagai kesaksian dan penelitian terbaru mengenai peristiwa tersebut justru membantah tudingan tersebut.

Kini, setelah Orba runtuh, perlahan-lahan kebenaran terkuak. Keabsahan Soeharto sebagai ‘pahlawan’ dalam kejadian tersebut mulai dipertanyakan. Belakangan, ada banyak analisa yang mengaitkan Soeharto dalam G30S tersebut.

Dari berbagai analisa itu, saya menyimpulkan ada tiga hal yang cukup mendasar. Pertama, Soeharto sudah mengetahui rencana G30S. Kedua, beberapa aktor kunci G30S adalah anak buah atau, setidaknya, dikenal sebagai ‘orang dekat’ Soeharto. Ketiga, G30S hanya dalih bagi Soeharto untuk menghabisi PKI dan menggulung kekuasaan Soekarno.

Yang pertama jelas menarik. Informasi bahwa Soeharto sudah mengetahui rencana G30S berasal dari Kolonel Abdul Latief, salah seorang aktor penting dalam G30S. Dalam pledoinya Kolonel Latif mengungkapkan, dua hari sebelum peristiwa Gestok, Ia dan keluarganya mengunjungi keluarga Soeharto. Saat itu, ia sempat menanyakan isu Dewan Jenderal kepada Soeharto. Soeharto mengaku sudah mendengar isu itu dari anak-buahnya dari Jogja bernama Subagyo. Soeharto menyatakan akan dilakukan penyelidikan.

Reaksi dingin Soeharto menimbulkan tanda-tanya. Sebagai Panglima Kostrad, yang bertanggung-jawab atas keselamatan pemerintahan dan Presiden, Soeharto seharusnya bereaksi aktif terkait laporan tentang rencana kudeta Dewan Jenderal itu.
.
.
|| Lanjutan Kolom Komentar || 👇👇👇👇

Most Popular Instagram Hashtags