rasionalika rasionalika

255 posts   486 followers   292 followings

Lemkaris Rasionalika  Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah International Institute for Hadith and Sciences #OneDayOneHadith #Rasionalika

ONE DAY ONE HADITH
Kamis, 30 Jumadil Akhir 1440 H/7 Maret 2019 M

Bersedekah Sesuai Kemampuan

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الزكاة
باب الصدقة فيما استطاع حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ عَنْ حَجَّاجِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ ارْضَخِي مَا اسْتَطَعْتِ
رواه البخاري.

Artinya:
Dari Asma' binti Abu Bakar (w. 73 H) radliallahu 'anhuma bahwa dia menemui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam lalu Beliau bersabda: *"Janganlah kamu berkarung-karung (kamu kumpulkan harta dalam karung lalu kamu kikir untuk menginfaqkannya) sebab Allah akan menyempitkan reziki bagimu dan berinfaqlah dengan ringan sebatas kemampuanmu".
H.R. Bukhari (w. 256 H)

Istifadah:
Hadis ini secara tidak langsung memotivasi kita untuk selalu bersedekah kepada sesama(walaupun tidak dengan jumlah yang besar), dan melarang kita untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya lalu kikir untuk mensedekahkanya.
Adapun sedekah terbaik adalah yang sesuai dengan kemampuan diri. Artinya, kita juga harus melihat kemampuan finansial diri kita. Memang sedekah yang banyak akan mendapat pahala yang banyak juga, akan tetapi jika setelah bersedekah dalam jumlah yang jauh melebihi kemampuan finansial membuat seseorang menyesal dan terbebani, hal ini justru akan mendatangkan mudharat.

Karenanya, sedekah sesuai kemampuan akan lebih menambah nilai ikhlas hingga makin sempurnalah sedekah. [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

Lembaga Bahtsul Masail Madrasah Darus-Sunnah (LBM-MDS)

Proudly Presents:
[BAHTSUL MASAIL PONDOK PESANTREN SE-JABODETABEK]

Dalam Rangka Haul ke-3 Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, MA.
📆 Hari/Tanggal: Sabtu, 9 Maret 2019
⌚ Pukul: 08.00-12.00
📍 Tempat: Aula lt. 3 Gedung Baru Pesantren Darus-Sunnah

#mengenang1000hari
#KyaiAliMustafaYaqub

ONE DAY ONE HADITH
Rabu, 22 Jumadil Akhir 1440 H/27 Februari 2019 M

Wasiat Rasulullah Saw. kepada Mu'adz

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب السهو
باب نوع آخر

أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ حَيْوَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ الصُّنَابِحِيِّ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَأُحِبُّكَ يَا مُعَاذُ فَقُلْتُ وَأَنَا أُحِبُّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَدَعْ أَنْ تَقُولَ فِي كُلِّ صَلَاةٍ رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
رواه ابن ماجه

Artinya:
Dari Mu'adz bin Jabal (w. 18 H), dia berkata; "Rasulullah Saw. memegang tanganku sambil berkata kepadaku: "Aku mencintaimu wahai Mu'adz!" Lalu aku juga berkata: 'Aku juga mencintai Engkau wahai Rasulullah! ' Lalu beliau bersabda: 'Janganlah kau meninggalkan bacaan berikut ini setelah usai shalat."Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir, bersyukur, serta beribadah kepada-Mu dengan baik."
H.R. Nasai

Istifadah:
Mu'adz bin Jabal adalah salah satu sahabat yang sangat dicintai Rasulullah Saw karena besarnya andil beliau dalam membantu dakwah Rasulullah Saw. Kecintaan tersebut Rasulullah Saw. sampaikan langsung kepada Mu'adz. Kemudian sebagai hadiahnya, Mu'adz diajarkan doa "رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ" agar dibaca setiap selesai shalat. Meskipun doa tersebut disampaikan kepada Mu'adz, perintah untuk membacanya tertuju kepada semua umat Muslim.

Dalam do'a tersebut, kita diajarkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dalam beribadah. Hal itu karena terkadang jiwa manusia merasa berat beribadah. Jika bukan karena pertolongan-Nya, manusia takkan mampu melakukannya. Kemudian ibadah yang disebutkan dalam hadis tersebut adalah zikir. Hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apa saja. Namun meski zikir adalah amalan yang paling mudah, tanpa pertolongan Allah, manusia akan merasa berat melakukannya. [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

ONE DAY ONE HADITH
Selasa, 21 Jumadil Akhir 1440 H/26 Februari 2019 M

Malaikat Berperang Bersama Rasulullah Saw.

بسم الله الرحمن الرحيم
باب قتال الملائكة معه صلى الله عليه وسلم
كتاب الفضائل

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعْدٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَنْ يَمِينِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ شِمَالِهِ يَوْمَ أُحُدٍ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا ثِيَابُ بَيَاضٍ مَا رَأَيْتُهُمَا قَبْلُ وَلَا بَعْدُ يَعْنِي جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَام.
رواه مسلم

Artinya:
Dari Sa'd bin Abi Waqqas (w. 55 H) dia berkata; "Di hari terjadinya perang Uhud, aku melihat dua orang berpakaian putih-putih. Masing-masing berada di kanan dan kiri Rasulullah Saw., yang aku tidak pernah melihat keduanya sebelum dan sesudah itu. Mereka ialah Jibril dan Mikail 'alaihimas salam."
H.R. Muslim (w. 261 H)

Istifadah:
Dalam sejarahnya, perjuangan Rasulullah Saw. dalam menyebarkan agama Islam beberapa kali harus menempuh peperangan melawan kaum kafir. Diantara peperangan awal yang terkenal dan terekam peristiwanya oleh sejarah melalui penuturan para sahabat adalah perang Badar dan perang Uhud.

Riwayat ini menyebutkan bahwa dalam perang Uhud, Sa'd bin Abi Waqqas melihat malaikat yang turut perang dalam barisan kaum muslimin. Imam Nawawi (w. 631 H) menjelaskan, hadis ini menunjukkan bahwa malaikat tidak hanya membantu orang muslim dalam perang Badar saja, namun juga perang lainnya termasuk perang Uhud.

Kemudian beliau melanjutkan, bahwa kemampuan melihat malaikat tidak hanya dikhususkan untuk Nabi. Namun juga untuk para sahabat dan para waliyullah. Hadis ini juga menunjukan keutamaan sahabat Sa'd karena beliau dapat melihat malaikat. Wallahu a'lam. [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

ONE DAY ONE HADITH
Senin, 20 Jumadil Akhir 1440 H/25 Februari 2019 M

Menjadi Pribadi yang Pemaaf

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الْبِرِّ وَالصِّلَةِ وَالْآدَابِ
بَاب اسْتِحْبَابِ الْعَفْوِ وَالتَّوَاضُعِ

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ *مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ*
(رواه مسلم)

Artinya:
Dri Abu Hurairah (w. 59 H) dari Rasulullah Saw. bersabda: "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, tidaklah seseorang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seseorang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya."
H.R Muslim (w. 261 H)

Istifadah:
Hadis di atas mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf agar mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Imam Nawawi dalam _Syarah Shahih Muslim_ mejelaskan, ada dua kemuliaan yang diperoleh oleh orang yang memberi maaf:
1. Hatinya akan menjadi lebih lembut dan lebih kuat karena ia tidak mempermasalahkan orang lain dan tidak menyimpan dendam terhadap orang yang menyakitinya;
2. Mendapat pahala yang besar di sisi Allah atas perbuatan memberi maaf yang dilakukannya.
Dalam memberi maaf, tidak ada teladan yang lebih layak untuk kita tiru melainkan Rasulullas Saw. Ada banyak kisah-kisah beliau dalam memafkan orang-orang yang menyakiti beliau, di antaranya adalah ketika beliau memilih memafkan penduduk Thaif saat malaikat Jibril menawarkan akan menghancurkan mereka dengan melemparkan gunung Qubais dan Al-Ahmar kepada mereka, namun jawaban beliau adalah , “tidak, bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yag menyembah Allah.” Begitulah Rasulullah Saw., semoga kita bisa meneladaninya; menjadi pribadi pemaaf sehingga memperoleh kemuliaan yang lebih dari Allah Swt. [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

ONE DAY ONE HADITH
Ahad, 19 Jumadil Akhir 1440 H/24 Februari 2019 M

Salah Satu Bentuk Kesempurnaan Iman

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الإيمان
باب من الإيمان أن يحب لأخيه ما يحب لنفسه

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
رواه البخاري

Artinya:
Dari Anas bin Malik (w.93 H) dari Nabi Saw., beliau bersabda: "Tidaklah beriman seseorang dari kalian, sehingga dia menyukai (kebaikan) untuk saudaranya, sebagaimana dia menyukai (kebaikan tersebut) untuk dirinya sendiri". H.R Bukhari (w. 256 H)

Istifadah:
Sebagai catatan, hadis ini sering kali dimaknai bahwa seseorang harus mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Padahal hal tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin. Contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari; ketika berfoto bersama, seseorang akan melihat foto dirinya dahulu sebelum orang lain. Oleh karenanya, pemahaman hadis ini seperti pemahaman di atas adalah kurang benar.

Ibn Hajar (w. 856 H) dalam Fath al-Baari menerangkan, bahwa yang dimaksud redaksi hadis "tidak beriman salah seorang kalian" bukan berarti murtad, tetapi yang dimaksud adalah tidak sempurna keimanan seseorang.

Sehingga dapat disimpulkan; tidak sempurna iman seseorang sehingga ia menginginkan kebaikan untuk saudaranya sebagaimana kebaikan yang diinginkan untuk dirinya sendiri. Sebagai contoh, jika seseorang menginginkan kesehatan badan untuk dirinya, maka ia juga harus senang dan mengupayakan saudaranya supaya memiliki kesehatan yang sama.

Sementara kebaikan di sini bisa diartikan sebagai kebaikan dalam urusan dunia ataupun akhirat, demikian keterangan Ibnu Hajar. Wallahu a'lam. [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

ONE DAY ONE HADITH
Sabtu, 18 Jumadil Akhir 1440 H/23 Februari 2019 M

Sanksi Hubungan Sesama Jenis

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الحدود
باب من عمل عمل قوم لوط

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيرِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ.
رواه بن ماجه

Artinya:
Dari Ibnu Abbas (w. 86 H), bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: "Barangsiapa dari kalian yang menemukan orang yang melakukan perbuatan kaum nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan obyek dari pelaku itu."
H.R. Ibnu Majah (w. 273 H)

Istifadah
Dalam hadis di atas telah dijelaskan bahwa pelaku dan obyek dari perbuatan homoseks akan dibunuh. Artinya perbuatan ini hukumnya haram. Tidak ada ulama yang menghalalkan perbuatan keji seperti ini.

Dalam kitab Tuhhfatul Ahwadzi Syarah sunan Attirmidzi, Al-Mubarakfuri menuturkan perbedaan pendapat mengenai hukuman yang diterima bagi pelaku homoseks, sebagaimana berikut:
1. Imam Syafi'i berpendapat bahwa hukum perbuatan homoseks sama seperti hukum zina, jika pelaku nya muhshan (sudah menikah) hukumannya dirajam sampai mati, tetapi kalau pelaku nya ghair muhshan (belum menikah), maka dihukum dera 100 kali.
2. Menurut Imam Malik dan Ahmad, hukum perbuatan homoseks untuk pelaku muhshan atau ghair muhshan, sanksinya adalah dirajam sampai mati.
Wallahu a'lam [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

ONE DAY ONE HADTH
Jumat, 17 Jumadi Akhir 1440 H/22 Februari 2019 M
Menjual Pohon Kurma Yang Berbuah بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب البيوع
باب من باع نخلا عليها ثمر
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ بَاعَ نَخْلًا قَدْ أُبِّرَتْ، فَثَمَرَتُهَا لِلْبَائِعِ، إِلَّا أَنْ يَشْتَرِطَ الْمُبْتَاع. (رواه مسلم)
Artinya:
Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda “barang siapa yang menjual pohon kurma yang telah berbuah, maka buahnya milik penjual, kecuali jika pembeli mensyaratkannya” H.R Muslim (w.261 H)

Istifadah:
Jual beli adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan masyarakat dari dahulu. Diantara yang mereka perjualbelikan adalah pohon dan buah-buahan.
Dalam hadis ini dijelaskan, bahwa jika seseorang menjual pohon yang sedang berbuah, maka buah tersebut adalah hak penjual.

Sedangkan bila pembeli mensyaratkan dalam transaksi untuk membeli pohon dan buahnya sekaligus, buah tersebut menjadi milik si pembeli. Demikian pula jika pohon belum berbuah ketika transaksi berlangsung, maka buah yang akan dihasilkan pohon tersebut adalah milik pembeli.
Inilah pendapat yang dipegang oleh Imam Syafii dan Jumhur ulama Fiqih sebagaimana yang dikemukan oleh Imam Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya Al-Minhaj Syarah Muslim ketika menjelaskan hadis ini.
Wallahu a'lam [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

ONE DAY ONE HADITH
Kamis, 16 Jumadil Akhir 1440 H/21 Februari 2018 M

Memperbanyak Istighfar

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار
باب استحباب الاستغفار والاستكثار منه

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ سَمِعْتُ الْأَغَرَّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ ابْنَ عُمَرَ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ.
رواه مسلم

Artinya:
Al Agharr, salah seorang sahabat Rasulullah, memberitahukan Ibnu Umar (w. 73 H), bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: 'Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat seratus kali dalam sehari.'
H.R. Muslim (875 H)

Istifadah:
Ada beberapa pendapat ulama tentang alasan Rasulullah Saw. bertaubat, padahal beliau Saw. adalah orang yang maksum, diantaranya:
1. Menurut Ibnu Al-Jauzi, meskipun Rasulullah Saw. terjaga dari dosa-dosa besar, beliau tak terlepas dari dosa kecil. Namun pendapat beliau ini menyelisihi pendapat yang kuat. Karena pendapat yang dipilih oleh para ulama adalah, Rasulullah Saw. juga terjaga dari dosa-dosa kecil.

2. Menurut Ibnu Batthal, para nabi adalah orang-orang yang berusaha beribadah semaksimal mungkin. Istighfar mereka adalah karena mereka merasa masih lalai menjalankan kewajiban.

3. Istighfar yang dilakukan Rasulullah Saw. adalah Istighfar terhadap hal-hal yang dibolehkan seperti makan, minum, tidur, dll yang dapat membuat lalai dari mengingat Allah. Hal tersebut menurut beliau adalah suatu dosa karena melihat kedudukan beliau yang sangat tinggi.

Hadis ini dengan jelas memerintahkan kita untuk bertaubat. Rasulullah Saw. saja sebagai seorang yang maksum, terjaga dari perbuatan dosa, senantiasa bertaubat kepada Allah. Lalu bagaimana dengan kita umatnya yang tak luput dari dosa? [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

🍃Tasawuf & Modernitas; peran Sufi atas berbagai persoalan dan tantangan kekinian🍃

Berbicara tentang tasawuf, biasanya stigma umum yang tergambar di benak kebanyakan orang adalah bahwa tasawuf bermakna berlepas diri sepenuhnya dari dunia. Hidup tertinggal dan tak ada gairah untuk maju, baik dalam hal ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, dll.

Bahkan ada ungkapan yang diklaim sebagai hadis Rasulullah Saw., "dunia adalah bangkai, dan yang mencarinya adalah anjing". Dari ungkapan ini seolah umat Islam harus benar-benar berlepas diri dari dunia dan hidup apa adanya. Seorang Sufi dianggap tidak layak berbicara masalah ekonomi, politik dan keduniaan. Akan tetapi cukup duduk di dalam kelambu, berdzikir dalam kesunyian dan mengasingkan diri dari kebanyakan orang.

Padahal, Rasulullah Saw. sebagai teladan dan panutan paling sempurna bagi manusia telah mencontohkan dalam hidupnya, bahwa beliau adalah pribadi yang selalu ada bersama umat dalam setiap persoalan dan tantangan yang mereka hadapi, baik dalam kapasitasnya sebagai seorang Nabi, pemimpin, maupun kepala rumah tangga. Beliau tidak meninggalkan dunia, tapi hadir di tengah dunia, merubah tatanan dan menggerakkan perubahan.

Lalu bagaimana sebenarnya peran Tasawuf atas berbagai persoalan dan tantangan yang ada saat ini?

Apa dan sejauh mana peran seorang Sufi di era kekinian?

Bisakah menjadi manusia modern dan rasional dengan tetap bertasawuf?

Saksikan kelanjutannya di: 🎊 Kajian Bulanan Lemkaris Rasionalika Darus-Sunnah🎊 👳Tasawuf dan Modernitas👳

Pemateri: Dr. Arrazy Hasyim, MA.(Ahli Hadis, Sufi dan Teolog) 🏫: Aula lt. 3 Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, Jl.SD Inpres No.11 RT: 002 RW: 009 Pisangan Barat, Ciputat Timur, Tangerang Selatan ⏰: Minggu, 14 Oktober 2018, pukul 15.20-selesai ‼ Terbuka untuk Umum‼

GRATIS

CP: 081378346251 (Panji) [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

(Serial Kajian Hasil Riset: Living Sunnah)
TEKSTUALISME MODERAT; Moderasi Berbasis Literasi (Ke-III)

Salam.. Temen-temen.. Di sesi ketiga ini, kita akan mendiskusikan genealogi mazhab tekstualisme dalam kajian hadis. Disertasi yang kita bedah akan mengantarkan kita menyisir periodesasi paradigma tekstualisme. Mulai dari era Nabi dan sahabat, era generasi pra madzhab, hingga tekstualisme di era pembukuan madzhab (pasca tadwin). Tekstualisme generasi pra-madzhab diwakili oleh 4 corak. Pertama, tekstualisme taqdiri yang dikembangkan oleh Imam Abu Hanifah (150 H). Kedua, tekstualisme 'amali yang ditawarkan oleh Imam Malik bin Anas (179 H). Ketiga, tekstualisme ushuli yang dipelopori oleh Imam al-Syafi'i (204 H). Keempat, tekstualisme atsari yang diiusung oleh Imam Ahmad bin Hanbal (241 H). Masa ini ditandai oleh proses pembukuan hadis (tadwin) yang di dalamnya tumbuh corak tekstualisme yang beragam.

Sedangkan di era pasca pembukuan hadis, nalar tekstualisme berkembang lebih beragam lagi. Di era ini setidaknya ada 5 corak. Pertama, tekstualisme dengan nalar takhriji takwil yang ditawarkan oleh Imam Ibnu Qutaybah al-Dinawari (276 H). Kedua, tekstualisme dengan nalar takhriji tanasukhi yang diusung oleh Imam Abu Bakar al-Atsram (260 H). Ketiga, tekstualisme dengan nalar takhriji tarjihi yang dipelopori oleh Imam al-Hazimi (584 H). Keempat, tekstualisme dengan nalar takhriji hiwari yang ditawarkan oleh Imam al-Zaila'i (762 H). Kelima, tekstualisme dengan nalar takhriji tawazuni yang disodorkan oleh Imam al-Sya'rani (973 H). Lantas seperti apa detail karakter khas dari masing-masing corak tekstualisme di atas? Inspirasi apa yang bisa kita petik dari "degup jantung" tradisi intelektualitas yang membentang itu?

Sambil menikmati seduan hangat secangkir kopi di malem minggu, mari kita berbincang sejenak.

Sesi 2
(Serial Kajian Hasil Riset; Living Sunnah)
TEXTUALISME MODERAT; Moderasi Berbasis Literasi (Ke-II)

Salam.. Temen-temen.. Setelah pertemuan minggu yang lalu, hampir 4 jam kita fokus mendiskusikan bab I dari disertasi Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, maka di pertemuan kedua nanti, kita akan mendiskusikan bab II. Di bagian kerangka teori ini, setidaknya ada tiga pertanyaan yang hendak diuraikan.

Pertama, apakah benar tekstualisme selalu melahirkan praktik keagamaan yang monolitik, fundamentalis, dan konservatif? Kedua, apakah benar ahli hadis cenderung tekstualis dan fundamentalis? Ketiga, tekstualisme seperti apa yang sekiranya relevan dengan konteks kekinian?
Beberapa literatur terdahulu yang relevan dibaca ulang terkait tiga pertanyaan ini adalah karya Amr Osman (2014), Robert Gleave (2012), Adis Duderija (2010), Jonathan AC Brown (2011), Barbara D. Metcall (1993), dan beberapa karya lainnya. Simpulan dari riset terdahulu ini cenderung meyakini bahwa tekstualisme adalah pangkal dari konservatisme, fundamentalisme, dan ekslusifisme.
Di satu sisi, hasil bacaan ulang dari disertasi yang kita kaji ini menegaskan bahwa tekstualisme tidak sekedar bermuara pada konservatisme, fundamentalisme, dan eksklusifisme. Lebih dari itu, tekstualisme juga membidani liberalisme, modernisme, dan inklusifisme. Dengan kata lain, tekstualisme tidak selamanya berujung pada konservatisme dan fundamentalisme.

Lantas seperti apa detailnya?

Sambil menyedu kopi hangat di malam Minggu, mari kita berbincang sejenak.

Most Popular Instagram Hashtags