marketeers marketeers

824 posts   14,952 followers   63 followings

Marketeers  Official Instagram of Indonesia's #1 Marketing Media & MICE 📩: info@marketeers.com

Jangan Biarkan Mereka Berkata “Boo”! Pernahkah Anda merasa sangat marah dengan sebuah brand, entah karena produk, pelayanan, atau hal lain, sampai-sampai Anda “mengamuk” di depan umum? Mungkin agak mempermalukan diri Anda di depan orang-orang. Lalu, Anda mulai menyumpahi semoga brand-nya bangkrut, cepat tutup, dan macam-macam. Secepat kilat Anda langsung mengambil smartphone dan mulai mengadukan pengalaman buruk ini ke social media. Protes keras pokoknya. Jangan sampai kejadian dengan brand Anda, ya!

Anda juga perlu menyadari bahwa proses recovery dari customer yang sangat kecewa itu sangat mahal. Dan, terlebih lagi, mereka bisa dengan mudahnya memengaruhi customer Anda yang lain. Anda kehilangan bukan cuma customer yang kecewa, tetapi juga customer yang terpengaruh.

Pola pembelian customer dulunya sangat sederhana: Aware, Attitude, Act, dan Act Again. Orang kenal, suka, lantas beli, dan beli lagi. Disebut proses 4A. Proses ini sangat individual. Maklum, dulu konektivitas tidak sehebat sekarang.
Pada dasarnya, ada 3 perubahan besar dari 4A menjadi 5A.

Dulu, customer memutuskan sendiri attitude terhadap brand. Pada dasarnya, pilihannya cuma suka atau tidak. Sekarang, proses attitude terpecah menjadi 2 bagian: appeal dan ask. Artinya, jika customer tertarik, mereka terlebih dahulu bertanya-tanya sebelum menyatakan suka atau tidak.

Dulu, loyalitas biasanya dilihat dari pembelian kembali. Jika customer membeli sebuah brand lebih dari sekali, biasanya dianggap lebih loyal terhadap brand tersebut. Ini tetap ada benarnya. Tapi sekarang, loyalitas tertinggi dilihat dari keaktifan merekomendasi sebauah brand.

Sekarang, ada konektivitas ask-advocate antara customer yang bertanya dengan customer yang menjawab dengan rekomendasi. Konektivitas ini tidak seimbang. Sering kali lebih banyak yang bertanya ketimbang yang merekomendasikan sebuah brand. Konektivitas ini tentu saja bisa berbuah bagus (jika brand direkomendasikan positif) dan jelek (jika brand direkomendasikan negatif). Proses 5A yang lebih sosial ini mempunyai implikasi besar terhadap cara kerja pemasar. Pendekatan vertical, misalnya dengan beriklan, yang biasanya dominan harus dilengkapi dengan pendekatan horizontal, misalnya dengan social media.

Inilah the F-Factor! Family, Friends, Fans, Followers.

Semua komunitas F ini lebih dipercaya ketimbang brand. Sejak beberapa tahun yang lalu, riset MarkPlus selalu menunjukan bahwa 9 dari 10 orang lebih percaya rekomendasi orang lain ketimbang klaim yang dibuat oleh brand.

Nah, apakah sekarang positioning masih relevan?

Masih, tapi perlu dikombinasikan dengan confirmation dan clarification. Positioning perlu untuk menciptakan appeal. Tapi, pemasar juga perlu mendapat konfirmasi dari komunitas. Caranya? Klarifikasi karakter brand Anda. Jadi, ketika calon customer bertanya pada komunitasnya, komunitasnya akan mendukung brand Anda.

Seperti Majalah Marketeers.

Teknologi baru senantiasa memberikan new experience bagi konsumen zaman now. Salah duanya adalah Virtual Reality dan Augmented Reality. Banyak brand saat ini memanfaatkan kedua teknologi tersebut dalam rangka memperkenalkan produk baru yang harapannya berujung pada pembelian.
Peritel IKEA, misalnya, menggunakan teknologi AR untuk memperkenalkan produknya. Hanya dengan memindai marker AR, konsumen bisa langsung melihat simulasi produk yang mereka inginkan. Bila sesuai, mereka kemungkinan besar akan membelinya. Dan, Majalah Marketeers mulai edisi Februari yang lalu juga menggunakan AR untuk menyajikan konten-konten yang lebih visual. Hanya dengan memindai sampul dan halaman bertanda AR melalui smartphone beraplikasi Blippar, Anda bisa melihat tayangan video atau animasi di dalamnya.

#100IdeSales

Volume Lebih, Lebih Enak.

Menawarkan produk dengan ukuran atau volumenya lebih besar merupakan pengertian strategi upsize. Dengan upsize ini, konsumen akan mendapatkan sesuatu yang lebih ketimbang ukuran normal atau reguler.
Carl’s Junior @carlsjrindonesia pernah melakukan hal ini. Resto burger premium asal California ini pernah menggelar promo free upsize dari combo small ke medium atau dari medium ke large burge. Tapi, program ini dilakukan dengan kolaborasi dengan brand lain, seperti Kartu Kredit BCA dan Flazz.

#100IdeSales

Mengubah Pendirian, Menambah Pendapatan.

Menawarkan beberapa nilai lebih dari sebuah produk ketimbang produk lain merupakan kunci dari penjualan sistem up selling. Di sini, konsumen ditawarkan produk lain yang memiliki kelebihan – bisa dari sisi manfaat, fitur, ketahanan, dan sebagainya – ketimbang produk lain.
Misalnya, Anda sedang mencari sebuah laptop merek A dengan spesifikasi tertentu. Sesampainya di outlet, penjaga toko menawarkan laptop B yang memiliki keunggulan lebih, fitur yang lebih cocok dengan kebutuhan Anda, meskipun harganya sedikit berbeda. Karena Anda merasa laptop B lebih memiliki value yang dicari, Anda akhirnya memutuskan membeli untuk produk yang lebih mahal.

#100IdeSales

Melakukan segmentasi menjadi pondasi dari sebuah strategi marketing. Segmentasi sangat bermanfaat untuk menjaga fokus sebuah bisnis. Selain itu, dengan melakukan segmentasi, seorang pemasar bisa memaksimalkan anggaran marketing agar tepat sasaran dan efektif. Dan, satu hal yang penting adalah tidak ada satu pun pemasar yang bisa menyasar semua segmen. Jika pun ada, pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit dan upaya yang tidak biasa.

Baca selanjutnya di marketeers.com

Foto: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Usai mengekspansi pasar Korea Selatan Mei lalu, PT Multi Bintang Indonesia (Persero) Tbk (Multi Bintang) sedang agresif dalam mengeksplorasi pasar baru untuk ekspor, yakni Amerika Serikat. Dengan ekspansi ini berarti Bir Bintang akan tersedia di empat benua di dunia seperti Asia, Eropa, Australia, dan Amerika. “Kami sangat bangga bahwa Bir Bintang, yang diracik oleh putra-putri terbaik Indonesia, akan berada di empat benua di dunia,” kata Presiden Direktur Multi Bintang Michael Chin seperti dikutip dari keterangan resmi Multi Bintang.

Baca selanjutnya di marketeers.com

Foto: Bir Bintang

AirAsia mengumumkan untuk bermitra dengan Palantir sebagai mitra strategis dalam hal pengolahan data. Palantir adalah perusahaan yang berbasis di Palo Alto, California yang memiliki spesialisasi di bidang analisis big data.

Nantinya, Palantir akan bekerja sama dengan AirAsia untuk menjalankan proyek pengolahan data pada platform mereka di berbagai fungsi bisnis AirAsia selama lima tahun ke depan. Fungsi-fungsi ini mencakup pengalaman pelanggan, penjualan produk-produk inflight, manajemen rute dan pendapatan, keuangan, keamanan, operasional penerbangan, perencanaan jaringan, kargo, manajemen rantai pasokan, komersial dan pengembangan karyawan.

Baca selanjutnya di marketeers.com

Foto: Air Asia

Pesan dari pendiri Astra ini dapat menjadi inspirasi kita semua. Dalam menjalankan suatu usaha, pikirkan juga manfaat apa yang dapat kita datangkan melalui usaha tersebut kepada lingkungan sekitar kita.

Pesan dari Om Liem ini menyiratkan bahwa, kita tidak boleh dikuasai uang. Justru kita harus mampu mengendalikan uang yang kita miliki, untuk mendatangkan manfaat.

Jangan berpikir bahwa pekerjaan yang Anda jalani saat ini membosankan. Pekerjaan yang Anda kerjakan saat ini akan mempersiapkan Anda pada momen-momen penting pada karir Anda yang bisa jadi terlewat jika Anda tidak siap saat momen tersebut datang.

Most Popular Instagram Hashtags