lilisnurhamidah8 lilisnurhamidah8

24 posts   202 followers   314 followings

Lilis Nur Hamidah 

#Repost from @sav_savira by @BatchSave
•••
Setiap kita ingin 'naik kelas'.

Yang sekarang #mahasiswa pengen jadi #sarjana

Yang sekarang nganggur, pengen jadi karyawan.

Yang sekarang staff, pengen jadi supervisor atau manajer.

Yang sekarang entrepreneur, pengen jadi miliarder.

Yang sekarang #jomblo pengen apa hayo? Pengen nangis, pengen nikah, hehehe.

Nah, begitu kita naik level, kadar masalah pun bertambah. Betul gak? Masalah yang dihadapi seorang manajer tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang staff.

Masalah yang dihadapi seorang gubernur tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang walikota. Mana mungkin berkurang? Dengan kata lain, bertambahnya kadar masalah itu wajar.

Terus, gimana kalau ternyata nggak ada solusinya, nggak ada jalan keluarnya? Sebelum saya jawab, silakan teman-teman baca dulu analogi-analogi berikut ini.

Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa menyiapkan jawabannya?

Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan muridnya?

Mungkinkah guru memberikan #ujian melebihi kemampuan muridnya?

Mungkinkah #guru memberikan ujian dengan #niat menyusahkan muridnya?

TIDAK MUNGKIN.

Kalau guru saja sedemikian baik terhadap muridnya, apalagi Allah terhadap hamba-Nya. Jalan keluar pasti ada, insya Allah. Manusia pasti mampu, insya Allah. Berbesar hatilah saat menghadapi masalah.

Sebenarnya, masalah itu membuat kita semakin matang, semakin tangguh, semakin tawakal, semakin #kreatif dan naik derajat. Maka, tetaplah berbesar hati. Siap?

#Repost from @sav_savira by @BatchSave
•••
Tak semua orang ingin maju. Biasanya ciri mereka, "No action, more excuses."

Inilah alasan-alasan mereka.

- Saat kita menyarankan sesuatu yang baru, alasannya "Saya nggak punya ilmu, nggak punya pengalaman."

- Saat kita memberitahu ilmu dan cara-caranya, katanya "Kamu sok tahu," atau "Ah ini susah," atau "Di sana sih berhasil, di sini mah belum tentu."

- Saat kita memberitahu investasi yang besar, alasannya "Saya nggak punya uang."

- Saat kita memberitahu investasi yang kecil, alasannya "Hasilnya kekecilan, hasilnya kelamaan."

- Saat teman-temannya #sukses duluan, alasannya "Itu kebetulan saja. Nasib orang kan beda-beda."

- Dikasih gratis, murah, atau #kesempatan refund, katanya "Mau memanfaatkan saya? Mau menipu saya? Kamu pikir saya bodoh ya?"

- Dikasih motivasi, tak percaya. Dikasih bukti, katanya pamer. Saat kita berhenti memotivasi, katanya "Kamu lagi bangkrut ya?"

Begitulah, tak semua orang ingin maju. Saran saya, sekiranya Anda ingin maju, dengarlah pesan-pesan dari orang-orang sukses di sekitar Anda. Berhentilah beralasan.

Ketimbang beralasan, cobalah menerapkan tips-tips dari mereka dengan sungguh-sungguh. Bukan mustahil, kelak nasib Anda sama bahkan lebih baik daripada mereka. Yakin?

#berhasil #berani #akubisa #ilmu #fokus

#Repost from @sav_savira by @BatchSave
•••
Benarkah gadget itu berbahaya? Tidak juga. Ternyata inilah dampak-dampak #positif dan negatif #gagdet buat anak-anak.

Banyak ortu yang tidak memberikan gadget pada anaknya sebelum usia 12 tahun. Kenapa? Pertama, #gadget dapat mengganggu pertumbuhan #otak anak. Pada usia 0-2 tahun otak anak bertumbuh dengan cepat, sampailah #anak berusia belasan tahun.

Perkembangan otak anak sejak dini dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan. Nah, stimulasi dari gadget (HP, internet, TV, iPad, dll) dapat menyebabkan keterlambatan #koginitif pada anak, gangguan belajar, meningkatnya sifat impulsif, menurunnya kemandirian anak, dan tantrum.

Coba lepaskan gadget dari tangan anak kita. Apakah ia langsung mengamuk? Kalau iya, nah itu pertanda tantrum.

Kedua, tumbuh kembang yang melambat. Ini karena terbatasnya gerak fisiknya. Selain itu, paparan #teknologi sejak dini juga mengganggu kemampuan literasi dan kemampuan #akademik anak secara signifikan.

Ketiga, penelitian di Bristol University tahun 2010 mengungkapkan, gadget di tangan anak dapat meningkatkan risiko depresi, risiko kecemasan, kurang atensi, kurang fokus, kelainan bipolar, potensi autisme, dan perilaku-perilaku bermasalah lainnya.

Keempat, radiasi emisi. Pada Mei 2011, WHO memasukkan ponsel dan gadget tanpa kabel lainnya dalam kategori Risiko 2B (penyebab kemungkinan kanker). James McNamee dari Kanada mengingatkan, “Anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi dibanding orang dewasa."

So, adakah #manfaat gadget pada anak? Ada, seperti terbukanya wawasan. Tapi manfaatnya sangat sedikit. Bahaya-nya jauh lebih besar. Hati-hati.

Gila gua pas kecil cantil dan imut banget 😁

Zaman masih anak" nih 😂

.
Jangan lupa bersholawat

#sholawat #sholawatnabi #sholawatan

Best friend forever.

#lfl #l4like #bestfriend #bff

Masya Allah, indah syekali

#Repost from @anak.kuliah by @BatchSave
•••
Bahkan Einstein pun pernah berkata bahwa :
"Everybody Is a Genius, but if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing it is stupid"
-Semua orang Itu Jenius, Tapi Jika Kamu Menilai Ikan Dari Cara/Kemampuan ia memanjat pohon maka ikan itu akan berpikir dia bodoh sepanjang hidupnya-

Jika Guru menganggap bahwa muridnya gagal karena semua murid nilainya kecil.. ingat bahwa penulis yang bernama Meena Srinivasan pernah berkata bahwa
"It's Not Always What You Teach, But How You Teach It."
Ini Bukan Selalu Soal Apa Yang Kamu Ajarkan, Tapi Bagaimana Kamu Mengajarkannya. "If a child can't learn what we teach, maybe we should teach the way they learn"
-Ignacio Estrada-

Seorang Anak yang berbakat sastra, akan sangat sulit untuk mengalahkan anak yang berbakat dalam bidang ipa, jika dinilai dari kemampuan ia dalam bidang ipa, begitupun sebaliknya

Kita Hidup Di Zaman milenial, ajarkan lah anakmu sesuai zamannya, bukan membanding bandingkan antara zamanmu dengan zaman mereka.

Sudah Sepatutnya sekolah menjadi taman tempat belajar yang menyenangkan, bukan lagi menjadi tempat yang menakutkan.

Sepintar Pintarnya, serajin rajinnya kita bersekolah dan mencari ilmu hingga lulus.
namun, "apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut di pupuk?"
-Najwa Shihab-

Kita bukan generasi penerus, kita adalah generasi pengubah

Maka rubahlah pola pendidikan ke yang lebih baik.
karena Negara yang Maju, adalah negara yang pendidikannya Baik.

Oleh : Bobby Abdillah
#anakkuliah

Most Popular Instagram Hashtags