[PR] Gain and Get More Likes and Followers on Instagram.

kmlcom_9293 kmlcom_9293

34 posts   331 followers   15 followings

❤ Kemillovers  · I ❤ U KevinjuliojessicaMila ·

Bagian 28
"Hati-hati ya sayangnya Daddy," ucap Kevin mengusap kedua rambut twinsnya. Mila tersenyum dan mengecup pipi Kevin. "Aku pergi dulu, aku akan pulang secepatnya,"ucap Mila mengusap lengan Kevin. "Iya sayang aku juga ga lama kok perginya." Mila mengangguk dan meninggalkan Kevin.
Kevin sendiri sekarang berada di tempat kerjanya dulu, karena sekarang Kevin sudah tidak kerja atas permintaan Mila. "Pagi," sapa Kevin kepada mandornya. "Kevin, udah sehat kamu?" tanya mandor Kevin. "Puji Tuhan sudah Pak, bahkan lebih dari sehat," jelas Kevin. "Alhamdulillah kalau gitu." "Ya udah Pak, saya mau ketempat Rico dulu," ucap Kevin. Sang mandor tersenyum dan mengangguk.
*****
"Daddy!!" teriak Mila tersenyum saat melihat Kevin sedang berada di ruang tamu. "Jangan lari-lari ah bie, nanti kamu jatuh," omel Kevin. "Maaf-maaf," ucap Mila nyengir. "Kok kamu cepet banget perginya?" tanya Mila lagi. "Heem, aku cuma ketemu Rico mau ngembaliin uang yang pernah aku pinjam ke depannya," jawab Kevin mengelus pipi Mila. "Kamu ngembaliin pake uang apa?" "Aku ngembaliin pake gaji aku selama ini sebelum aku keluar dan mencari pekerjaan yang lebih layak agar kedua twins kita gak malu. Karena aku takutnya twins akan malu saat teman-temannya tahu jika ayahnya kedua twins kita hanya seorang buruh kuli bangunan," ucap Kevin yang membuat hati Mila mencelos. Mila memeluk Kevin. "Aku tidak pernah mengajarkan kedua twins kita seperti itu. Mereka akan menerima keadaan kamu apa adanya, tapi ada benernya kamu berhenti menjadi buruh bangunan karena pekerjaan itu berbahaya. Oh ya bukannya aku malu memiliki lelaki yang hanya buruh bangunan, tapi aku tidak mau kamu kenapa-kenapa karena aku cinta kamu. Di saat kamu sakit aku akan ikut merasakan kesakitan itu," jelas Mila menatap dalam Kevin. Mereka saling menatap hingga kedua daging kenyal itu menyatu menciptakan decapan panas yang berakhir di ranjang.

Next(?)

Suka sama cerita ini, konfliknya gak terlalu berat dan tetap bisa diterima pembaca dengan baik. Bahkan pembaca bisa menghayati banget. semangat terus👍#giveawayKemil #giveawaySabila

Hallo? Gimana kabarnya? Ada yg kangen? To the point aja ya, sebenernya gue ndiri udah enggak dapet feel cerita yang ada. Gimana sih kalau buat yg baru aja? Pada setuju?

Bagian 27 "Pagi Daddy," sapa riang kedua twins Kevin yang membuat Kevin tersenyum begitu lebarnya. "Aduh twins Daddy udah cantik-cantik, mau kemana sayang?" tanya Kevin. "Calleta sama Lesa mau sekolah Daddy di antel sama pacal Mommy," ucap Carreta sedikit menggoda Kevin. Kevin sendiri sedikit mengerut mendengar jawaban Carreta yang menggodanya. "Apakah anak Daddy ini sedang mengerjai Daddy? Kalau iya jawabannya untuk sekarang Daddy tidak bisa bermain dengan kalian dulu karena kaki Daddy belum sembuh, jadi tunda dulu ya sayang untuk menggoda Daddy," ucap Kevin. Twins tertawa mendengar jawaban Kevin yang begitu aneh di telinga mereka berdua. "Oho sepertinya Mommy melewatkan sesuati yang penting dari kalian bertiga apakah itu?" tanya Mila yang tiba-tiba datang. "Mommy kepo deh," ucap Carresa. "Biarin dong sayang," ujar Mila. "Mommy bikin kita bikes deh," ucap twins. "Bikes?" tanya Mila dan Kevin bingung. "Bikin kesel!" Mila melongo mendengar jawaban twinsnya. "Kalian tau dari mana ucapan itu sayang?" tanya Kevin yang mengerti kekagetan Mila. "Itu Daddy nonton televisi, nonton sinelton," jawab Lesa. "Sayang kalian itu belum boleh nonton sinetron yang aneh-aneh," jelas Kevin. "Karena tidak baik untuk kalian," lanjut Kevin. "Kan enggak sengaja liat Daddy," ucap Leta cemberut. "Sengaja atau enggak tetep nggak boleh ya sayang, sekarang kalian berangkat ya. Hati-hati di jalan ya," ucap Kevin mengecup pipi kedua twinsnya. "Kamu enggak ikut?" tanya Mila kepada Kevin. Kevin menggeleng. "Aku ingin mengunjungi temanku sepekerjaanku dulu," jawab Kevin. "Ya udah hati-hati. Langsung balik jangan lama-lama." Kevin mengangguk dan mengecup kening Mila.

Bersambung...

Bagian 26 "Tidak penting kamu sekaya dulu dan sekaranv kamu hanya seorang buruh bangunan yang aku butuhkan darimu adalah hatimu, bukan yang lainnya," jawab Mila mengecup telapak tangan Kevin yang ia genggam dengan sayang. "Tapi aku sangat malu denganmu dan anak-anak kita," jelas Kevin. Mila tersenyum. "Kenapa harus malu, heum? Kita jalani semuanya dengan ikhlas dan aku yakin dua twins kita tidak malu memiliki kamu. Apalagi mereka sangat dekat denganmu sebelumnya dan aku yakin mereka sangat senang memiliki Daddy sepertimu," jelas Mila. Kevin membawa Mila ke pelukannya dan menghujami Mila dengan kecupannya. "Kamu tahu, kamu itu adalah wanita sempurna yang harusnya mempunyai lelaki sempurna tidak sepertiku..." ucapan Kevin terhenti begitu saja saat Mila membungkam bibirnya dengan lumatan bibir mungil Mila. "Apapun yang kamu ucapkan semua itu tidak berguna sama sekali, karena aku yakin Tuhan sudah mengatur semua takdir kita. Apapun yang terjadi aku akan selalu mencintai kamu karena kamu adalah priaku, napasku, jantungku, dan seluruh jiwaku. Hanya kamu yang bisa membuat aku jatuh cinta semakin dalam. Kamu harus tahu, banyak pria di luar sana memang mau bersamaku, namun tak ada yang bisa mendapatkan aku karena posesifnya kedua twins kita sepertimu," jelas Mila. "Satu lagi, aku sangat bersyukur bisa bertemu kamu kembali padahal aku tidak yakin bisa bertemu kamu kembali dan memiliki kamu seutuhnya sekarang," lanjut Mila. Mata Kevin berkaca-kaca. "I love you bie," ucap Kevin. Mila tersenyum. "I love you too," balas Mila bersamaan dengan penyatuan daging kenyal nan lembut menghantarkan kerinduan yang begitu besar dua insan yang terpisahkan beberapa tahun ini.

Next(?)

Bagian 25 "Kenapa bie? Apa kau memang sudah tidak mencintai aku lagi? Apa kamu punya yang lebih baik dari aku bie?" tanya Kevin pelan. "Ak-" Mila tak bisa melanjutkan kata-katanya. "Sudahlah bie tidak usah di jawab sepertinya memang seperti itu, kamu memiliki penggantiku dan aku ikut senang jika begitu. Kamu akan bahagia dengan penggantiku daripada aku yang hanya buruh bangunan yang tidak memiliki uang banyak," lirih Kevin. "Hei." "Sudah tidak papa Mila, lebih baik kamu pergi dari sini daripada nanti lelakimu tahu. Aku tidak enak, aku tidak sebanding dengannya dan kamu." "Kamu ngomong apa?" tanya Mila lembut. "Sudahlah Mila, aku malu," lirih Kevin. Mila memeluk Kevin dengan kasih sayang. "Kamu ingin aku pergi di saat kita memiliki ikatan yaitu dua putri kembar kita, iya?" tanya Mila mengusap pipi Kevin. "Mak-," Kevin bingung dengan ucapan Mila hanya menatap Mila bingung. "Mereka," Mila menunjuk twins yang sedang tertidur. "Mereka adalah putri kita," ucap Mila mengusap pipi Kevin. "Jadi selama ini-," Kevin tak kuasa menahan tangisnya, ternyata selama ini Mila berjuang membesarkan anaknya sendiri. Astaga dosa besar dirinya dan akhirnya ia mendapatkan karma dengan kehilangan apa yang ia miliki dulu. "Sudah bie, ini adalah jalan Tuhan," Mila merengkuh Kevin ke dalam pelukannya. "Maafkan aku!" "Kamu tidak salah, hubungan kita yang salah," ucap Mila lembut. Kevin menggeleng. "Hubungan kita tidak ada yang salah bie, namun keadaan yang salah. Aku mencintaimu bie," lirih Kevin. Mila mengangguk. "Aku benar-benar mencintaimu," ucap Kevin sekali lagi. Mila mengangguk. "Mila, aku benar-benar mencintaimu," ucap Kevin kesal. Mila tersenyum. "Iya bie enggak usah di ulangi juga. Aku selamanya mencintai kamu," jawab Mila. Kevin tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa bertemu dengan Mila dan di tambah selama ini ternyata ia telah dekat dengan putri kembarnya yang sangat menggemaskan. "Senyum mulu, awas kesambet baru tahu rasa," canda Mila. "Aish!! Sudahlah bie, aku sangat mencintai kamu." "Aku lebih cinta kamu, puas?" tanya Mila. Kevin mengangguk. "Tapi.." "Tapi apa bie?" "Tapi aku tidak sekaya dulu, bahkan sekarang aku miskin dan tak bisa membahagiakan kamu," jls Kevin.

Bersambung.

Bagian 24
#Skip
"Bagaimana dokter dengan keadaannya?" tanya Mila to the point. Dokter tersenyum. "Untungnya kakinya yang terkena bukan tubuhnya yang lain. Jika yang terkena bagian tubuhnya yang lain mungkin akan lebih parah. Saya jelaskan, kaki retak karena tertimpa kayu itu sehingga membuat Pak Kevin harus bedrest," jelas dokter membuat Mila tersenyum lega. "Luka di keningnya dok?" "Tidak ada masalah apapun Bu Mila, jadi ibu dan anak-anak tenang saja. Malah Pak Kevin sekarang sudah sadar." "Puji Tuhan, syukurlah," ucap Mila bersyukur. "Mari bu, saya duluan." "Terimakasih dok," ucap Mila. "Sayang, kalian pindah di dalem ya kalau masih ngantuk," Mila mengusap pipi twins dengan lembut. "Eegghh... Mommy gendong," ujar Carresa manja. Mila hanya mengangguk dan menggendong Carresa, sedangkan Carreta sendiri memilih berjalan sendiri dengan mata yang setengah tertutup membuat Mila tersenyum geli. "Kevin," panggil Mila lembut. Kevin menatap Mila tak percaya, air matanya begitu saja keluar. Mila menaruh Carresa ke sofa dengan pelan. Ia lalu menghampiri Kevin dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat merindukan lelakinya dan sekarang lelakinya ada di depan matanya. "Ini kamu bie?" lirih Kevin memegang pipi Mila pelan. Mila mengangguk. "Ini aku." "Aku merindukanmu bie," Kevin menarik Mila dalam pelukannya dan mengeratkan pelukannya."Aku juga merindukanmu bie,""kenpa kau meninggalkan ku?," tanya Kevin sambil mngelus punggung Mila yang sedikit menindih tubuhnya.Mila melepaskan pelukannya dan menatap manik hitam, tajam laki-laki yang sangat ia cintai ini."aku tidak meninggalkan mu,tapi?" "Tapi apa bie?," Mila berdiri dan menundukkan kepalanya." Kau yang membuat ku meninggalkan mu," ucap Mila pelan.Kevin kembali menarik Mila dlam pelukannya."maafkan aku bie,sungguh maafkan aku," "sssttttt, aku sudah memaafkan kamu bie, aku sudah memaafkan mu dari dulu,""aku sangat mencintaimu,"ucap Kevin kembali, Mila hanya diam dalam pelukan Kevin melihat Mila tidak merespon apa-apa Kevin melonggarkan pelukannya menatap Mila." Knapa?" tanya Mila."kau tidak mencintaiku lagi?" tanyanya. Mila hanya diam dan menatap Kevin dalam. "Kenapa bie? Apa kau memang sudah tidak mencintai aku lagi?" Bersambung...

Bagian 23 "Ayolah Mommy sekarang kita belangkat," ujar twins menarik tangan Mila. "Sebentar sayang, Mommy ambil dulu pesenan kalian," ucap Mila. "Ayo Mommy cepetan, Callesa udah enggak sabar," rengek Carresa. Mila hanya menghela napas. "Ya udah ayo," ajak Mila membawa twins masuk ke dalam mobil.
"Kevin!" "Ya Rik ada apa?" tanya Kevin bingung. "Dicariin tuh sama dua anak, kayaknya sih kembar," ujar Riko. Kevin mengangguk-angguk. "Makasih ya Rik," ucap Kevin. Ia langsung berjalan mencari twins. "Carreta," panggil Kevin lembut. "Uncle Kev!!" teriak Carreta berlari menghampiri Kevin. "Dek awas!!" teriak orang yang di atas. Kevin menatap atas dan ada sebuah serpihan kayu penyanggah yang akan terjatuh. Ia menatap Carreta dan kembali ke atas lagi. "Carreta awas sayang!!" teriak Kevin berlari menghampiri Carreta sebelum kayu besar memghantam tubuh mungil Carreta. Bugh!! "Uncle Kev," teriak Carreta histeris melihat tubuh Kevin tergeletak tak sadarkan diri. Mila yang mendengar teriakan Carreta langsung berlari menghampiri Carreta dengan Carresa. "KEVIN!!" teriak Mila. Carresa dan Carreta saling berpelukan. "Kevin, bangun Kev!" Mila memangku kepala Kevin dan mengusap darah yang keluar dari kening Kevin. "Bie bangun bie!" teriak Mila. Semua orang berkumpul. "Bawa dia ke rumah sakit!!" teriak Mila panik. Beberapa orang menggotong Kevin masuk ke dalam mobil Mila. "Pak, cepetan langsung rumah sakit!!" isak Mila. "Mommy, Uncle Kev enggak papa kan Mom?" isak twins. "Berdoa untuk Daddy ya sayang," ucap Mila pelan. "Dad-dy?" "Iya sayang, ini Daddy, Uncle Kev adalah Daddy twins," jelas Mila menatap wajah Kevin yang pucat pasi. "Jadi Uncle Kev itu Daddy twins," ucap twins berkaca-kaca. "Paman cepeten, Calleta ndak mau Daddy kenapa-kenapa. Ayo paman ngebut," ucap Carreta menatap sopir kesayangannya. "Iyo nona, paman sudah ngebut. Nona berdua berdoa ya untuk keselamatan ayah kalian." "Kita beldua selalu beldoa untuk Daddy, ayo paman cepat. Twins enggak mau Daddy kenapa-napa," rengek twins. "Bie, aku mohon kamu bangun. Tatap mata aku bie. Ayo mau bie," isak Mila mengusap pipi Kevin.
Bersambung...

Bagian 22 "Mommy!!" "Hallo twins, itu dicariin Kiya," ucap Mila mengecup pipi twins bergantian. "Mama sama Papa ke sini?" tanya twins girang. Mila mengangguk dan tersenyum. "Papa kan emang di sini terus nak, Mama yang baru dateng sama Kiya sayang," jelas Mila. "Iya Mommy, Mommy tellalu celewet," kesal Carresa menggemaskan. "Astaga anak Mommy pinter banget sih," ucap Mila. Twins tertawa. "Kan kita sekolah Mommy jadi pintel," ujar Carreta. "Oh ya Mommy tadi twins ketemu om ganteng, namanya uncle Kev," sahut Carresa. "Uncle Kev?" tanya Mila terdiam. "Iya dan sepeltinya cocok menjadi Daddy twins." "Kamu ngomong apaan sih sayang, mending twins masuk dan main-main sama Mama dan Kiya," ucap Mila. "Ayo Mommy kapan-kapan ketemu Uncle Kev ya, Uncle Kev baik dan ganteng," ujar Carresa. Mila mengangguk. "Emang Uncle Kev kerja dimana sayang?" "Di sana Mommy," Carreta menuju tempat pekerjaan Kevin. "Uncle Kev tulang bangunan sayang?" tanya Mila tak percaya. "Sepeltinya Mommy, kalena Uncle Kev bilang seperti itu," ujar Carreta. "Ya udah kapan-kapan kita kesana ya, ngasih makan siang untuk Uncle Kev," ucap Mila. Twins mengangguk dengan gembira. "Hole makasih Mommy." Mila hanya bisa tersenyum dan membawa kedua kesayangannya ini untuk masuk ke dalam rumah.
********
Hari berikutnya adalah hari yang cerah, Kevin memulai harinya dengan bekerja. Seperti biasa ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Weh udah dateng aja lo Kev," ucap Riko. Kevin tersenyum. "Lo kenapa sih Kev? Enggak kayak biasanya," ujar teman Kevin lainnya. Lagi-lagi Kevin hanya tersenyum. Entah mulutnya hanya ingin berdiam dan tak mau bergerak. "Sengklek nih bocah kayaknya emang," kesal Riko. Kevin tersenyum dan melenggang mulai bekerja.
Sementara itu Mila dan twins memulai harinya dengan sarapan bersama. "Mommy jangan lupa dengan janjinya ya," ujar Carreta. "Iya sayangnya Mommy nanti Mommy siapin, sekarang anak Mommy sarapan dulu ya," jelas Mila. "Ih kalian belisik, Lesa makannya jadi enggak khusyukkan," bibir Carresa sudah manyun lima centi. Mila dan Carreta hanya tersenyum geli. "Ayolah Mommy sekarang kita belangkat," ujar twins menarik tangan Mila.
Bersambung...

Bagian 21
Keesokan harinya, Kevin berjalan-jalan mengeliling taman komplek yang dekat dengan tempat kerjanya. "Loh om ganteng," Kevin seketika menengok. "Kamu lagi nak," ucap Kevin tersenyum. "Oh ya nama aku Calleta om, panggilannya Leta," ucap Carreta. "Oh nama kamu Calleta?" "Bukan om Calleta. Pake l," ucap Carreta yang ingin mengucapkan huruf 'R' sangat susah. Kevin bingung. "L? R?" "L om" ucap Carreta cadel. "L?" Carreta menggeleng. "R?" Carreta seketika mengangguk. "O nama kamu Carreta, nama om Kevin," ucap Kevin menggendong Carreta. "Kamu sama siapa ke sini?" tanya Kevin. Carreta baru saja ingin membuka suaranya, namun ada seseorang yang lebih dulu berteriak. "Om lepasin Calleta dia kembalan Lesa om, hiks... jangan culik dia om. Om kan ganteng kembaliin Leta," Kevin dan Carreta mengeryit bingung dan saling tatap. "Kembaran kamu?" tanya Kevin. Carreta mengangguk. Kevin berjongkok dan menatap Carresa. "Callesa kenapa sih?" "Kamu itu gimana sih? Dicaliin Mommy tau," ujar Carresa kesal. "Oh ya om nama dia Callesa," ucap Carreta. Kevin mengangguk. "Hai Carresa nama om Kevin," ucap Kevin. "Om ganteng deh," ucap Carresa genit membuat Kevin mengingat Mila yang selalu merajuk. Cepat-cepat Kevin menggelengkan kepalanya kuat-kuat menghilangkan bayangan Mila dari otaknya. "Om sakit ya?" tanya twins panik. Kevin menatap twins dengan senyuman. "Om baik-baik saja, sebaiknya kalian kembali ke Mommy kalian. Om masih ada kerjaan," jelas Kevin. Twins mengangguk. Cup!! Mereka berdua bersama-sama mengecup pipi Kevin membuat Kevin merasakan getaran aneh dan kehangatan yang menjalar ke tubuhnya. "Hati-hati om ganteng. Twins sayang om, telimakasih," twins berlari pergi meninggalkan Kevin yang mematung. Perlahan Kevin sadar dan menghela napas pelan. "Kenapa aku merasa dekat dengan mereka Tuhan," batin Kevin pelan. Ia berjalan gontai kembali ke tempatnya bekerjanya. "Lo dari mana aja Vin? Udah makan?" tanya Riko teman sepekerja Kevin. Kevin mengangguk walau sebenarnya ia belum makan apapun, namun entah kenapa ia tak napsu makan sama sekali. "Lanjut kerja yuk, biar cepet-cepet balik ke Jakarta," ajak Riko. Kevin hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.

Bersambung...

Bagian 20
"Mommy ada di lumah om, aku di sini sama babysistel." "Baiklah-baiklah, ya sudah kamu kembali sana, nanti dicariin babysister kamu gimana? Hati-hati ya sekali lagi," ujar Kevin mengukir wajah cantik balita itu. Balita itu mengangguk. Cup!! "Telimakasih om ganteng," balita itu mengerlikan matanya membuat Kevin terkekeh geli.
******
"Mbak gimana sih? Saya kan sudah bilang jangan lepas pengawasannya sama twins sekarang gimana? Carreta hilang mbak!" isak Mila. "Maaf nyonya." "Gampang mbak bilang maaf, gimana sekarang Carreta mbak. Ya ampun mbak!" "Mommy jangan malah-malah, Lesa jadi takut," ucap Carresa memeluk Mila. Mila membalas pelukan Carresa. "Maafin Mommy ya sayang, Mommy panik. Carreta hilang sayang," ujar Mila menggendong Carresa keluar untuk mencari Carreta. "Loh kalian mau kemana?" tanya Ricky bingung. "Carreta hilang bang," isak Mila. Ricky membelalak matanya. "Kok bisa?" tanya Ricky panik. "Mbak Nani lalai." "Kita cari Carreta, sini biar abang yang gendong Carresa," ujar Ricky memindahkan Carresa ke gendongannya. "Ayo bang!" Mila berjalan keluar duluan. "MOMMY!!" "Ya ampun Carreta kamu darimana aja sih sayang? Mommy panik sayang," Mila memeluk Carreta yang baru saja menaruh sepedanya. "Maafin Calleta ya Mommy, tadi Calleta main di taman," ucap Carreta mengusap air mata Mila. "Mommy jangan nangis, Leta jadi sedih," sambung Carreta. Mila mengukir senyuman. "Ya udah sekarang masuk dan lutut Carreta kenapa?" tanya Mila. "Tadi Leta jatuh Mom dali sepeda dan ada om ganteng yang nolongin Leta," jelas Carreta. Mila dan Ricky mengeryit bingung. "Om ganteng?" "Iya Mom," Carreta mengangguk. "Kamu tahu namanya?" tanya Mila. "Enggak Mom, tadi Leta lupa nanyain namanya," ucap Carreta polos. "Bawa masuk dulu aja Carreta nya Mil, kasian kakinya nanti infeksi," jelas Ricky membuat Mila mengangguk dan membawa Carreta masuk untuk di bersihkan lukanya.

Bersambung...

Bagian 19
Kevin sendiri ingin sekali ke rumah sahabat-sahabat Mila, namun ia malu dan tak tahu harus menaruh muka dimana yang ia tahu sekarang hanya kesendiriannya. "Bos," panggil Kevin menunduk. "Kevin." "Iya, ada apa bos manggil saya? Saya dipecat ya bos?" tanya Kevin takut. Bos Kevin tertawa. "Tidak kamu salah." "Lalu?" "Kamu saya panggil ke sini karena saya ingin mengirimkan kamu dan beberapa orang yang lain untuk ikut ke luar jawa membangun sebuah mall," ujar bos Kevin. "Maksudnya bos?" tanya Kevin bingung. "Kamu ya saya kirim ke Bali untuk membuat bangunan mall yang megah dan saya yakin kamu bisa." "Tapi..." "Semuanya sudah di urus sama perusahaan kotraktor di sana, jadi kamu tenang saja," Kevin hanya mengangguk mengerti tanda ia setuju. Menjadi buruh bangunan merupakan pilihan satu-satunya Kevin karena ia mau membangun semua masa kejayaannya lagi dari nol kembali. Ia mau semuanya tidak ada campur tangan siapapun, namun dari kerja kerasnya sendiri. Hasil jerih payahnya yang ia dapatkan ini sebenarnya hanya untuk membahagiakan Mila. Tapi semua tinggal angan-angan saja karena Kevin tahu Mila pasti sudah bahagia dengan orang lain. Kevin telat tiba di Bali, di pulau yang memiliki banyak destinasi wisata dan entah kenapa ia terlalu bahagia bisa sampai di pulau ini. Saat ini ia sedang berjalan-jalan mengeliling komplek tempat ia tinggal bersama teman-teman yang satu pekerjaan dengan dirinya. Bruk!! "Nak, kamu tidak papa? Ada yang luka?" tanya Kevin panik saat melihat anak kecil jatuh dari sepedanya. "Aku baik-baik saja om, om tidak usah khawatil. Mommy bilang kalau jatuh enggak boleh mengelualkan ail mata kalena nanti jadi jelek," celetoh balita perempuan yang sangat menggemaskan di mata Kevin. "Om bilang apa kamu jawab apa sayang, kamu terlalu pintar," ucap Kevin mengukir senyuman manis. "Aku memang pintal, om balu tau ya." "Ish om gemes sama kamu," Kevin tertawa. "Om jangan teltawa lebal-lebal nanti ada lalat masuk di mulut om loh." Kevin menatap balita itu. "Kamu kok sendiri, mana Mommy kamu?" tanya Kevin. "Mommy ada di lumah om, aku di sini sama babysistel." Bersambung...

Bagian 18
"Mom, sepeltinya di situ mau di bangun deh," ujar Carresa. Carreta sendiri mengangguk tanda setuju dengan ucapan Carresa. "Iya sayang di situ mau dibangun sebuah mall," jelas Mila. Carreta dan Carresa mengangguk mengerti. "Ya udah deh Mom, mending kita belanja aja," ucap Carresa. "Calleta mau beli ice cleam Mommy," rengek Carreta. Mila hanya mengangguk. "Tapi nanti ya sayang, kita beli yang lain dulu," ujar Mila menggandeng kedua twinsnya memasuki sebuah supermarket.
Sementara di tempat lain, Kevin bekerja keras untuk melanjutkan hidupnya. Setelah bercerai dengan Adara hidupnya melarat hingga membuat dia kehilangan hartanya. #Flashbackon "Ada apa?" tanya Kevin saat salah satu orang asing berada di depannya. Satria." "To the point aja!" "Jadi gini anak yang di kandung istri elo, maksud gue Adara adalah anak gue. Adara mau menikah denganmu karena harta yang elo miliki. Gue dan Adara sebenarnya udah nikah beberapa bulan sebelum lo menikahi Adara. Adara dipaksa mau menikah dengan lo karena keadaan keuangan Papa Adara yang menipis hingga terpikir pikiran licik itu. Lo mau nyalahin gue boleh, karena waktu itu gue cuma orang biasa dan tak mempunyai harta yang banyak seperti elo," ucap Satria. Kevin mengepalkan kedua tangannya. "Mana buktinya?" tanya Kevin tajam. Satria memperlihatkan sebuah rekaman percakapan antara Papa Adara dan Adara. kevin mengeraskan kedua rahangnya. Brak!! "Kurang ajar!" teriak Kevin marah. "Cepat urus istri lo dan gue akan melayangkan surat cerai untuknya." "Jangan gegabah, elo enggak akan bisa jika menyeraikan Adara yang sedang mengandung, tunggu dia sampai lahiran," jelas Satria. Kevin menatap tajam Satria dan berjalan pergi. #Flashbackoff. "Kevin dipanggil bos," ucap temannya. Kevin yang sedang mengaduk-ngaduk semen menatap bingung. Apa dia akan dipecat? Ya Tuhan jangan sampai. Jika kalian ingin bertanya kenapa Kevin tidak mencari Mila? Jawabannya adalah Kevin selalu mencari Mila lima tahun terakhir ini, namun tak ada hasil hingga membuat harapannya pupus. Dibayangannya mungkin Mila telah bahagia dengan lelaki lain dan ia sadar sekarang ia sedang mendapat karma apa yang dulu ia lakukan, yaitu menyakiti Mila.

Bersambung...

Bagian 17
#Skip5tahunkemudian
"Callesa jangan ganggu aku," kesal Carreta kepada Carresa yang mengganggu ia menggambar. "Calleta ngapain sih? Ayo sini main boneka-bonekaan sama Lesa, jangan cuma gambal enggak jelas kayak gitu," ujar Carresa kesal. "Callesa bisa diem enggak sih, Leta mau gambal yang bagus. Jangan ganggu Leta dulu bisa enggak sih." "Ini anak Mommy kenapa sih, kok pada ribut gini sih?" tanya Mila. "Itu Mommy Calleta masa enggak au di ajak main ama Lesa cih," Carresa mengerucutkan bibirnya. "Mommy, Callesa yang ganggu Leta, Leta tan mau buat gambal yang bagus," protes Carreta. Mila tersenyum melihat anak-anaknya yang mulai tubuh menjadi balita yang aktif, bahkan keduanya twinsnya itu sangat aktif. Carreta yang lebih dominan mengikuti kesukaan Kevin dan Carresa yang menyukai apa yang disukai olehnya. "Sudah-sudah, Carreta gambar apa sih sayang? Sampai-sampai Carresa dicuekin, Mommy boleh liat enggak?" tanya Mila. "Enggak usah Mom, gambal Leta jelek," ucap Carreta menggeleng. "Kan Mommy belum liat sayang," ujar Mila. "Tapi Mommy angan ketawa ya," ucap Carreta. Mila hanya mengangguk dan menerima kertas gambar Carreta. Matanya seketika berkaca-kaca saat melihat gambaran Carreta. Gambaran keluarga bahagia, ada Mommy-Carreta-Carresa-Daddy. "Mommy angan nangis, Leta salah ya?" tanya Carreta sedih. Mila menggeleng dengan pelan. "Enggak sayang," ucap Mila memeluk kedua twinsnya. "Mommy kami ayang Mommy," ucap twins membuat air mata Mila jatuh begitu saja. Begitu pintarnya kedua twinsnya yang membuat tahun demi tahun ia lewati dengan sabar dan tegar. "Mommy juga sayang sama twins," ujar Mila mengecup pipi gembul mereka berdua. "Oh ya habis ini kita jalan-jalan ya, bilangnya kan twins mau sekolah, kita beli keperluan sekolah ya," lanjut Mila aambil menghapus air matanya yang jatuh. "Mommy nanti beli buku gambal sama lautan ya, lautannya Leta udah lusak," ujar Carreta. Mila mengangguk dan menggandeng keduanya masuk ke kamar mereka untuk bersiap-siap. "Kalian bisa sendirikan?" "Ia Mommy kita bisa kok, kita udah besal," jawab Carresa. "Ya udah Mommy ambil tas dulu ya sayang," Keduanya mengangguk dan Mila dengan cepat mengambil tasnya di kamar.

Bersambung...

Bagian 16 "Kamu masuk sana sayang, Adara membutuhkan kamu," ujar Mama Kevin mengusap lengan Kevin. Kevin tersenyum sinis. "Butuh gue? Ngaca ya, anak yang dikandung dia itu bukan anak gue bodoh!!" Plak! Satu tamparan bersarang di pipi Kevin. Kevin tidak merasa kesakitan namun ia hanya tersenyum sinis. "Lo semua itu cuma mau harta gue, emang gue bodoh? Mau harta gue kan? Ambil aja gih semua yang penting gue mau cerai dari anak brengsek lo itu," ucap Kevin menatap tajam Papa Adara. "Kamu ngomong apa sih nak?" tanya Mama Adara bingung. "Udah deh jangan sok bingung gitu!" ucap Kevin tertawa miris. "Kamu ngomong apa sih Vin!!" ucap Papa Adara. "Diem deh lo bajingan, lo tuh udah bau tanah, bangkotan dan cuma gila harta. Gue malu udah kenal elo pada. Camkan kata-kata gue ini. Ambil semua kekayaan gue yang gue mau adalah cerai dari wanita jalang lo itu!" teriak Kevin. "Kamu!!" "Surat cerai akan gue siapin dan inget anak yang dilahirkan wanita jalang itu bukan anak gue, jadi inget karma masih berlaku," ucap Kevin berjalan pergi entah kemana tujuannya. Hartanya sudah habis karena memang ini keinginannya agar ia terbebas dari keluarga biadab mantan istrinya itu. Tujuan utama hidupnya saat ini adalah menemukan sahabat sejatinya yaitu Mila. Callysta Mila Widjadja yang ia butuhkannya. Ia sudah menyadari perasaannya yang hanya untuk Mila seorang bukan orang lain.
Sementara itu Mila telah diperbolehkan pulang bersama twins kesayangannya. "Sekarang twins Mommy tidur ya, Mommy mau beres-beres dulu ya sayang," ucap Mila mengecup kedua kening twins. Mila menatap wajah twins. Tiba-tiba ia sangat merindukan Kevin dan ingin memeluk pria itu dan mengatakan jika buah hatinya telah lahir dengan sempurnanya, namun semua tinggallah cerita karena ia tak mungkin mengatakan itu pada Kevin. Ia yakin Kevin telah bahagia bersama istri dan anaknya yang juga lahir di dunia ini. "Mommy rasa, Mommy akan selalu bahagia melihat wajah kalian dan Mommy rasa, Mommy tidak bisa melupakan wajah ayah kandung kalian," ujar Mila berkaca-kaca, namun dengan cepat ia mengengadah kepalanya ke atas dan mengedip-ngedipkan dengan pelan agar ia tidak menangis.

Bersambung...

Bagian 15
"Mereka gue pikir lebih mirip Kevin deh Mil," ucap Herfiza pelan. Mila mengangguk mengsetujui ucapan Herfiza. "Udahlah Mil, gue boleh gendong twins enggak?" ucap Ricky yang sedikit tidak suka dengan nama Kevin, karena Kevin sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya hancur kehidupannya dan harus melahirkan putrinya sendirian tanpa ada suami yang menemaninya. "Boleh aja Ric," ucap Mila tersenyum. Ricky mengambil Carresa dan Fandy mengikutinya untuk menggedong Carreta. "Cantik banget sih keponakan uncle," ucap Fandy mengecup pipi Carreta. Carreta menggeliat pelan. "Hayo nanti nangis lo sayang," Ule menggoda Fandy karena digendongan Fandy Carreta menggeliat dan siap menangis. Mila mencoba duduk. "Sini deh Fan, Carretanya," ucap Mila. Fandy memberikan Carreta ke Mila. "Kalian yang laki-laki bisa keluar dulu enggak? Gue mau nyusui Carreta nih." "Ya udah Mil, oh ya sayang Carresa gendong dong," Ricky memberikan Carresa kepada Herfiza. Fandy dan Ricky beranjak keluar dan Mila mulai menyusui Carreta. Carreta sangat kuat menyusu hingga membuat breast Mila sedikit nyeri. Carresa sendiri hanya diam digendongan Herfiza. Carresa terlalu senang untuk menutup mata dan tak menggubris interaksi sekitar.
Sementara itu Kevin menatap tajam kedua orang di depannya. "FOKUS KE DEPAN DAN NGGAK USAH NGELIATIN GUE" teriak Kevin marah. "Tapi bos, istri bos butuh bos," ucap salah satu pengawal kepercayaan keluarga Adara. "Persetan dengan semua, kalau elo pada enggak bawa gue pergi. Gue loncat!!" ancam Kevin. Pengawal memegang erat kedua tangan Kevin. "Bos jangan gila!!!" "Gue emang gila, mereka ngerusak semuanya." Sopir mempercepat lanjut kendaraannya menuju rumah sakit dimana Adara sedang melakukan persalinan. "Lo bisa lepasin gue enggak? Gue enggak mau bodoh," teriak Kevin seperti orang gila. "Diam bos!!" "Gue mau pergi!!" teriak Kevin. Pengawal memasuki rumah sakit melalui pintu belakang yang menuju langsung ke tempat persalinan. "Kamu darimana aja Kevin?" tanya Papa Adara. "Terserah gue," ucap Kevin santai. "Kamu masuk sana sayang, Adara membutuhkan kamu," ujar Mama Kevin mengusap lengan Kevin. Kevin tersenyum sinis.

Bersambung.... Janji 1 part ya!! :v

Bagian 14 "Makasih Bibi," ujar Mila tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Bibi sendiri tertawa melihat tingkah majikannya. "Bibi jangan tertawa," ucap Mila manyun. Bibi diam dan tersenyum. "Maaf ya Non," ujar Bibi. Mila mengangguk patuh dan mengerlikan matanya genit. Bibi sendiri sekarang hanya bisa geleng-geleng kepala.
******
Ule, Fandy, Herfiza, dan Ricky telah stay di rumah sakit di salah satu Pulau Dewata Bali untuk menunggu Mila yang sedang operasi caesar. Mila melakukan operasi caesar karena pinggulnya menyempit dan sang twins yang bermasalah, namun untungnya mereka baik-baik saja dan tak perlu dikhawatirkan keadaannya. "Bagaimana keadaan mereka dokter?" tanya Ricky to the point saat dokter keluar dari ruang operasi dan lampu pertanda operasi telah mati. "Puji Tuhan lancar dan twins lahir dengan selama," jawab dokter. Mereka berempat tersenyum dan mengucap syukur karena semua lancar. "Apakah kami bisa melihat mereka dokter?" tanya Ule. "Bisa, kita pindahkan ibunya dulu di ruang rawat." Semua mengangguk dan menunggu Mila untuk dipindahkan keruang rawatnya.
*******
"Mila gimana keadaan elo?" tanya Ule saat melihat Mila siuman. "Puji Tuhan Le, gue baik-baik aja. Twins mana?" tanya Mila sedikit meringis. "Twins sebentar lagi ke sini kok, lo istirahat dulu aja." "Gue mau liat twins Le," ucap Mila. Clek!! Pintu terbuka dan menampilkan dua perawat yang menggendong twins. "Bu Mila, ini dua putri ibu," suster membaringkan twins di kanan dan kiri Mila. "Terimakasih suster," ucap Mila pelan. Dua suster itu mengangguk dan berjalan keluar dari ruang rawat Mila. Ule, Fandy, Herfiza, dan Ricky memandang takjub twins yang perpaduan pas dari wajah Kevin dan Mila. "Namanya siapa Mil?" tanya Fandy. Mila tersenyum dan menatap kedua twinsnya bergantian. "Carreta Milena Wijaya dan Carresa Milea Wijaya," ucap Mila menitihkan air mata. "Panggilannya?" "Carreta dan Carresa," jawab Mila mengecup pipi gembul Carreta yang mirip dengan Kevin. "Aku merindukanmu bie..." batin Mila. Ia bergantian mengecup pipi gembul Carresa yang mirip dengannya namun masih ada perpaduan Kevin di situ. "Mereka gue pikir lebih mirip Kevin deh Mil," ucap Herfiza pelan.
Bersambung...

Bagian 13 "Bie sebenarnya kamu dimana? Aku merindukanmu," lirih Kevin hampir menangis. "Apa salahku bie? Sehingga kamu meninggalkan aku," ucap Kevin lagi. "Arrgghhh...." semua barang-barang di meja Kevin berserakan kemana-mana tanpa ada sisa. Kevin terduduk dan memeluk lututnya pelan. Ia menyesal dan Kevin membenarkan kalau menyesal itu akan datang belakangan. "BIE!!" teriak Kevin seperti orang gila. Keluarganya bahkan mengira jika Kevin gila karena selalu memanggil 'bie' oh Tuhan itu sangat mengerikan. Kevin depresi atas kepergian Mila, boleh saja ia di katakan plin-plan, memang kenyataannya seperti itu. Hatinya memilih untuk mempertahankan Mila, namun rasa sayangnya kepada Adara juga ada. Intinya saat ini Kevin berada di pertengahan yang bingung ingin memilih dan mempertahankan siapa. Kenapa Tuhan menciptakan dua wanita yang berharga dalam hidupnya? Siapa yang harus ia pilih? Adara? Mila? Kalau Mila, kenapa ia pergi tanpa pamit? Apa salahnya? Tolong siapapun bantu jelaskan pada Kevin apa kesalahannya kepada Mila. Tok... tok... tok... "Kevin." "Jangan ganggu gue!!" teriak Kevin. Mama Adara yang berada di balik pintu ruangan Kevin menghela napas. "Mama enggak ganggu kamu sayang, ayo kamu makan dulu," jelas Mama Adara pelan. "GUE ENGGAK MAU MAKAN BODOH!!" teriak Kevin seperti orang gila. Ia tak perduli siapa orang yang berada di balik pintu. Semua orang di sini hanya omong kosong dan tak mengerti perasaannya. "Biarin gue mati," lirih Kevin.
********
Prang!!
Mila mengusap perutnya pelan dan hatinya berdebar dengan kencang. "Perasaan Mommy enggak enak twins, apa twins merasa juga?" tanya Mila pelan. "Non Mila enggak kenapa-kenapa kan?" tanya Bibi. Mila menggeleng. "Enggak kok Bi," ujar Mila tersenyum. "Ya udah Bibi bersihin dulu ya, non Mila duduk aja." "Ya udah Bi," ujar Mila duduk sambil mengusap perutnya pelan. "Oiya Bi, ambilin ice cream blackforest Mila," lanjut Mila tersenyum malu. Bibi tersenyum dan mengambilkan apa yang majikannya mau. "Ini non, tapi jangan banyak-banyak," ujar Bibi. Mila mengangguk dan memakan ice cream kesukaan twins. "Makasih Bibi," ujar Mila tersenyum memperlihatkan deretan giginya.

Bersambung...

Bagian 12

Mila menikmati hamparan pasir putih yang membentang di pantai Dreamland. "Apa kau terlalu senang dengan persembunyianmu?" tanya Herfiza. "Tentu, aku bisa terbebas dari bayang-bayang ayah dari twins," ucap Mila. Ya selama ini Mila menyuruh Ricky untuk menutupi akses kepergiannya agar Kevin tidak menemukannya di tempat barunya ini. "Kamu siap jika mereka nanti menanyakan ayahnya?" tanya Herfiza mengajak duduk Mila di sebuah pondok. "Aku harus siap, bagaimana pun mereka harus tahu ayahnya. Namun aku belum siap bertemu dengan Kevin lagi," isak Mila. Herfiza menghela napas. "Aku tahu ini semua berat untukmu, tapi aku yakin kamu bisa menghadapi apapun. Aku percaya kamu wanita kuat," ujar Herfiza. "Terimakasih," ucap Mila tulus. Ia meminum kelapa muda yang sudah di pesan oleh Herfiza. "Oh ya kapan Ule datang bareng Fandy?" tanya Mila. "Bulan depan tepat twins lahir," ucap Herfiza. "Wah masih lama," ujar Mila sedih. "Ini yang sedih Mommy nya atau twins ya?" goda Herfiza. "Twins and Mommy, aunty," ucap Mila menirukan suara twins. "Lucunya kalian," ucap Herfiza mengusap perut Mila. "Oh ya apa kabar Kevin dengan istrinya? Denger-denger bentar lagi juga mau melahirkan," ucap Mila pelan. "Kenapa kamu ngurusin mereka, mending kamu urus twins aja. Masa lalu biarlah berlalu, gapai masa depan kamu bersama dua anakmu. Jangan pikirkan yang lain," sahut Ricky yang tiba-tiba datang. "Bukannya begitu..." "Sudahlah Mila, lebih baik kita jalan-jalan," lerai Herfiza menggandeng tangan Mila untuk pergi.
Sementara Kevin sendiri terlihat kacau karena terlalu lelah mencari Mila yang tak kunjung ia temui. "Sayang," Kevin menatap Adara sekilas yang merengek tak jelas. "Sayang, kenapa aku di cuekin sih?" tanya Adara manja. "Diam bisa tidak!!" bentak Kevin. "Hiks... kamu kenapa bentak aku!" "Adara please, nggak usah merengek-rengek nggak jelas. Itu semua enggak mempan di aku," ucap Kevin tegas. "Sekarang kamu pergi dari hadapan aku!!" lanjut Kevin menggebrak meja kerjanya. Adara berjalan pergi meninggalkan Kevin. Kevin terduduk dengan lemas di kursi kebesarannya. "Bie sebenarnya kamu dimana? Aku merindukanmu," lirih Kevin hampir menangis.

Bersambung....

Bagian 11 "Biee....." teriak Kevin keluar kamar. Namun tak ada sahutan."kamu dimana bie?," ucap Kevin kembali kekamar dan membuka lemari berniat mengambil pakaiannya namun ia begitu shock ia tidak melihat satupun baju Mila. "Bie!! Kamu dimana?" teriak Kevin panik. Tanpa menunggu waktu lama ia langsung masuk kamar mandi dan mandi secepat kilat untuk mencari Mila.
Sementara itu, di tempat lain Mila telah sampai di sebuah apartemen mewah yang dia beli diam-diam di Pulau Dewata, Bali. "Bi, tarus di situ saja," ucap Mila duduk di sebuah sofa santai berwarna pink. "Sekarang kamu sama Mommy ya sayang, Mommy akan menjadi Daddymu juga," ucap Mila tersenyum bahagia. "I love you sayangnya Mommy,"
********
Mila mengusap perutnya yang sudah mulai membesar dan ia sudah sangat tidak sabar menanti kelahiran buah hatinya. "Morning," Mila tersenyum saat melihat seorang pria mendekatinya. "Morning too," balas Mila. "Gimana keadaannya?" tanya pria itu mengusap perut besar Mila. "Sangat baik dan aku sudah tidak sabar menanti kelahiran mereka," ucap Mila. "Twins yang sangat manis." "Tentu, anak siapa dulu ya sayang?" ucap Mila terkekeh geli. "Baiklah uncle Ricky mengerti sayang, jangan nakal di dalam perut Mommy ya," ucap Ricky tertawa. "Mereka tidak pernah merepotkanku, oh ya mana Herfiza?" tanya Mila. "Herfiza sedang belanja kebutuhan susu ibu hamil untuk dirimu dan sepertinya membeli cemilan," jelas Ricky. "Aku sangat merepotkan ya, maafkan aku," sendu Mila. Ricky tertawa. "Hormon ibu hamil yang menyebalkan, selalu saja bersedih, benar bukan kata uncle Ric, twins?" Ricky mengusap perut Mila. Mila tertawa geli. Memang setelah ia hamil twins, moodnya berubah-ubah dan membuat ia bingung sendirian. "Aduh," reflek Mila karena salah satu twins menendang perutnya. "Kenapa?" tanya Ricky panik. "Tidak, sepertinya twins kesal denganmu," ucap Mila. "Hallo," Herfiza tiba-tiba datang membuat Mila tersenyum senang. "Kamu bawa ice cream?" tanya Mila. Herfiza mengangguk. "Ada dan rasa blackforest kesukaan twins," Mila tersenyum dan mengambil ice cream kesukaan kedua twinsnya. "Terimakasih aunty Fiza," ucap Mila dengan suara anak kecilnya. Herfiza dan Ricky tersenyum melihat Mila.

Bersambung...

Bagian 10 "Vin, sebaiknya kamu pulang. Adara pasti membutuhkan kamu," ucap Mila pelan. "Aku tidak mau bie, aku mau bersama kamu," ujar Kevin memeluk Mila. "Kita tidak memiliki status apapun Kevin, aku hanya sahabat kamu dan istri kamu membutuhkan kamu karena istri kamu hamil," jelas Mila perih. Kevin hanya diam dan terus memeluk Mila erat. Akhirnya Mila membalas pelukan Kevin. "Aku menginginkan Mu," ucap Mila. " setelah ini aku akan pergi jauh meninggalkan mu," sambung Mila dalam hati. Seperti menang undian Kevin langsung mencium lembut bibir Mila dan terkesan menuntun dengan penuh gairah, dan Mila pun membalas ciuman Kevin, lidah mereka saling bertautan, hingga akhirnya Kevin menyudahi ciuman mereka "Kita lanjutkan di kamar bie.." ucap Kevin tepat didepan bibir Mila dan Mila hanya mengangguk. Kevin mengendong Mila menuju kamar dan menguncinya. Ia membaringkan Mila perlahan dan mulai menciumnya membuat Mila mengerang "Aashh.....bie," desah Mila menambah gairah Kevin hingga detik berikutnya desahan demi desahan yang mengalun indah dalam kamar mereka.
Setelah melakukan kegiatan panas mereka, kini Mila bangun tepat jam 00:00 , Mila menatap dalam pria disampingnya yang tengah terlelap, wajah nya begitu damai. Tangan Mila terulur membelai indah wajah tampan Kevin. "Aku pasti akan merindukan mu," gumam Mila pelan agar tidak membangunkan Kevin. "Meski daddy kamu tidak mengharapkan mu hadir sayang, tapi mommy akan menjaga kamu, meski tanpa daddy," lirih Mila mengelus lembut perut ratanya.
Mila beringsut turun dari ranjang masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selang waktu 30 menit akhirnya Mila selesai bersih-bersih dan terlihat rapi. Ia menghampiri Kevin mengecup dalam kening Kevin. "Maafkan aku sayang, aku mencintaimu," ucap Mila. "Jangan cari aku, aku ingin kamu bahagia bersama istri dan calon anak mu," lanjut Mila mengecup sekilas bibir Kevin.
* * * * *
Cahaya mentari mulai masuk kedalam celah kamar membuat Kevin mengerjapkan matanya.
"Sayang....." panggil Kevin mencari Mila karena ia tidak melihat wanita yang ia cintai disamping nya. "Biee....." teriak Kevin keluar kamar.

Bersambung...

Most Popular Instagram Hashtags