klinikkopi klinikkopi

4,734 posts   101,969 followers   0 followings

klinikkopi  Micro Roastery| Yogyakarta, ID | Manual brewing | 📞081392784240 | Open ⏰ 16:00 , Last Order 20:00 wib. Monday-Saturday

Sore ini kami libur menyeduh. Kembali buka hari selasa.

Minggu lalu puncaknya. Adanya tanggal merah di akhir pekan membuat kami kebanjiran pengunjung.
Kabar baiknya, padusi serta kopi bu nur sudah siap dipesan kembali. Perkiraan kami, hari rabu sudah naik ke tokopedia serta tersedia di warung.
Selamat libur teman-teman.

Minggu ini kami ketemu banyak orang, long weekend yg lumayan panjang membuat orang berlibur ke jogja, bagi yg suka kopi, waktu yang tepat untuk singgah.

Ada yg datang karena penasaran, ada yg datang karena pengen lihat gimana bisnis kopi berjalan, atau yg bener2 pengen adopsi pola bisnis ini untuk dibikin diluar jawa misal.

Pola kami sangat sederhana, alat utama hanya grinder, alat seduh dengan koka, ceret serta peper filter. Mungkin kalo dirupiahkan juga ga banyak, ada warung kopi yg dananya jauh lebih banyak dari kami.

Lalu apa kuncinya ? Kami juga bingung. Kami tak punya resep khusus, tak ada ada rahasia khusus dalam menjalankan bisnis ini.

Ada mas2 yg datang lalu minta saran untuk memulai warung kopi. Alat2 kopi sudah dicatat, kopi2 sudah dicatat, lengkap semua. Ketika giliran point terakhir, maka males untuk melanjutkan rencana buka warung kopi.
Point itu mungkin banyak orang yg males. Sebab akan menguras energi yg banyak. Bahwa warung kopi hidup karena ada nyawa dari pemiliknya. Dengan cara apa ? Sering didatangi, tiap hari ada diwarung menyapa pembeli maka warung kopi akan hidup secara sendiri.

Banyak yg bikin warung kopi, jadi tapi ga bisa memberi roh atau nyawa diwarung itu. Yg tersisa tinggal hutang dan penyesalan.

Pagi itu sangat cerah sekali, padahal sore hingga malam hujan ga mau berhenti. Kami sudah kawatir kalo pagi masih mendung atau bahkan hujan maka ga bisa jalan sampai atas bukit.

Jam tangan kami menunjukan jam5 pagi, lalu bergegas menuju tempat yg agak lebih tinggi untuk melihat matahari terbit. Asap mulai mengepul dr balik genteng rumah2, petanda bbrp warga sedang masak bikin untuk sarapan.

Malamnya, kami dikasih tahu kalo desa ini penghasil teh. Mereka menyebutnya teh jawa. Setelah berjalan 15 menit, kami menemukan kebun yg masih ditanami pohon teh. Meski tak banyak, tapi keberadaan kebun teh ternyata bener2 ada, jejaknya masih ada sampai sekarang.

Desa ini ada 3 komuditas utama, teh, kopi serta tembakau. Teh sudah hampir punah, kalo tembakau tanam musiman. Taman sekitaran bulan maret atau april,, panen kira2 musim kemarau di bulan agustus.
Semuanya biasanya di jual kondisi masih basah , ntah teh,tembakau . Teh serta tembakau lebih rumit memprosesnya.

Kopi mulai ketemu titik terang, warga sudah bisa membuat green beans dengan kualitas bagus. Keluar dr desa, bukan lagi biji kopi merah atau gabah, tapi udah jadi green beans.

Bahwa ketika bisa mengubah kualitas biji kopi, pasti bisa mengubah kualiatas hidup mereka.
Ga kebayang, awalnya desa ini hanya 4 keluarga yg nanam kopi, sekarang ada lebih 80 keluarga yg bergantung sama kopi.

#indo35mm scan and develop @bersoreria

Tanpa dome ini, mustahil desa ini bisa memproduksi kopi sesuai yg kami inginkan. Curah hujan yg tinggi, serta kabut yg datang silih berganti dengan cepat membuat panas di desa ini sangat minim. Persis yg kami temui di Aek Dingin Lembah Gumanti Solok Sumatra Barat.

Dome ini hanya berukuran 3x3, dibangun dengan swadaya warga , jaring2 kami beli di toko material garung Wonosobo. Hal ini yg mengubah pola penjemuran yg biasa dengan sun dried (jemur langsung) menjadi penjemuran dengan dome. Kecil, bahkan sangat kecil misal kita bandingkan dengan dome di Sumatra Utara atau sumatra Barat. Tapi,mengubah pola pertanian holtikultura menjadi petani kopi, butuh waktu lama, tak semudah membalikan tangan,terutama memproses kopi.

Awalnya kami menerima green beans dari desa ini masih sangat tinggi kadar airnya. Efeknya kemana-mana, salah satunya jelas dirasa serta aroma kopinya.

bbrp warga yg ga percaya kalo di dalam dome ini panas, mereka masuk secara bergantian. Hanya bertahan 5 menit, maka keluar sebab ga kuat dengan panas di dalam. Padahal, siang itu matahari malu2 tertutup awan.

Dari hanya satu dome saja, maka ini akan membuka kesempatan, bahwa di desa,dengan curah hujan tinggi, bahkan terpencil sekalipun, masih bisa memproses kopi dengan baik. “ kopi bagi kami mirip gitar, bukan dari mana gitar itu dibuat, atau merek apa, tapi tergantung siapa yg mainin”.

Ada beberapa kasus warung kopi berubah konsep secara dadakan, ada yg beruntung karena jadi rame, tapi ada juga tidak beruntung hingga akhirnya sepi.
Sejak dibangun dari awal, sejatinya harus punya konsep yg akan di usung oleh bbrp warung kopi. Misal, ada warung kopi yg awalnya membolehkan bawa makanan atau minuman dari luar warung. Emang konsep warungnya sebagai tempat kumpul. “ pokoknya warung bisa jadi buat kumpul mas, uang bisa dicari…kalo temen susah”..kata bejo salah satu yg mengelola warung kopi. Bejo buka warung kopi hanya partime, bisnis utama adalah sewa mobil. Bbrp yg datang hanya mencari internet,sebab boleh bawa makanan dari luar. Ketika konsep diubah ga boleh lagi bawa makanan atau minuman dari luar, maka segmen akan bergeser drastis.

Contoh paling dekat, di warung kami (klinik kopi). Ada yg usul dikasih tv layar lebar, pengunjung bisa lihat langsung tanpa kami harus menjelaskan gimana proses kopi hingga jadi segelas kopi. Antrian dengan online,serta menyediakan susu atau gula. Jelas kami tolak semuanya. Bahwa yg datang emang butuh interaksi dua arah, menunya diobrolan, bukan dengan selembar kertas menu. Gula dan susu emang ga bisa,sebab mendesain profile roasting hanya base filter.

Ada juga kasus warung temen kami. Awalnya hanya buka sore sampai hingga, tapi ada salah satu pengunjung yg meminta buka pagi. Setelah dikabulkan buka pagi, sang pemberi ide malah ga datang pagi sebab dapat pekerjaan luar kota, yg ga bisa datang secara reguler. Padahal konsepnya emang ngopi sore/malam.

Ibarat rumah, konsep itu adalah pondasi dan ketika rumah sudah jadi, pondasi ga bisa diubah seenaknya. Konsep adalah nyawa inti dari sebuah kekuatan branding.

Dalam bisnis ini, akan muncul banyak pembisik, pemberi ide dengan banyak macamnya, tapi yang paling penting…"dengarkan kata hati mau kayak gimana bisnis kita,sebab kita yg menjalankan"….kecuali pembisik memberi modal ”.

Harapan kami adalah sederhana, bahwa kopi atau dengan kopi ada banyak anak muda balik ke kampung untuk mengelola kebun kopi atau berkebun apapun. Bahwa di desa sebetulnya bisa berkarya. Itu yang kami lihat di koprasi solok Radjo Sumatra Barat. Magnet kopi bisa membuat orang yg awalnya memandang sebelah mata, bisa jadi sesuatu yg bisa jadi tumpuan hidup. Bahwa, kerja tak selalu harus di kota, ingat ! bahwa bekerja tak selalu di Kota.

Senggani Banjarnegara juga demikian, pada akhirnya mulai banyak anak muda yg mau balik ke kampung untuk tinggal di tempat kelahirannya. Kopi juga salah satu magnet terbesar mereka pulang kampung mengelola kebun. Yang kami jumpai di Senggani, 2015 awal tak ada satupun anak muda yg kelihatan di kebun. Beberapa kali kami papasan ketemu saat mereka keluar rumah untuk beli rokok.

Kami mencoba melihat secara dekat, gimana kopi akhirnya membawa dampak besar di desa ini (harusnya bisa di desa manapun). Pertemuan malam itu salah satu indikasi, jumlah yg datang rata2 anak muda. Meski di dominasi orang tua, tapi setidaknya ada anak muda yg mau “serius” mengelola kebun kopi.

Pertanyaan-pertanyaan soal gimana memproses, mulai semi washed, natural atau honey proses. Hal itu tak kami jumpai bbrp tahun yg lalu, sebab didominasi orang2 tua. Beda dengan anak muda yg punya tanda tanya besar soal kopi dan seluk beluknya.

Perkiraan kami, 5-7 tahun lagi paling lambat, akan mudah di jumpai anak2 muda yg memproses kopi atau mengolah ladang mereka…pulang ke kampung tak hanya saat lebaran, tapi bener2 tinggal di kampung mengelola sumberdaya yg ada disana…dan kopi bisa membuat mereka betah disana (desa).

Ketika traveling mencari kopi, kami selalu menemukan hal unik. Panen tahun lalu misal, kami kaget mendapati harga cabe sekilo bisa 90rb. Bahkan ada bbrp yg lebih dari itu. Beda dengan tahun ini yg harganya bisa turun drastis. " harga yg menentukan bukan kami mas , tapi pembeli ". Logika sederhana,kita mau jual mobil tapi harga yg menentukan pembeli. Lalu kekuatan penjual apa ?
Di kopi yg kami jumpai dan praktek secara langsung, harga yg menentukan bukan kami sebagai pembeli, tapi si penjual. Penjual ( petani ) menjual sesuai efort yg mereka keluarkan. Mulai merawat kebun, merawat tanaman hingga proses kopinya.
Selain dari itu, rasa juga sangat menentukan hasil akhir dr harga tersebut, termasuk kopi dari desa ini.
Bicara soal tanaman, kami lagi senang mengkoleksi tanaman apapun itu, termasuk #monstera yg kami adopsi untuk ditanam di klinik kopi. Tanaman ini liar, biasanya tumbuh liar di sekitaran pohon2 besar dan rimbun.
Tanaman #monstera biasanya kami temui dipenjual tanaman hias. Padahal, jika kita traveling ke kebun kopi akan selalu menemukan tanaman2 aneh lainnya, termasuk #monstera Ini🌿

Hal unik lainnya di frame foto ini, warga sangat sadar bahwa politik tak bisa dicampur aduk dengan praktek beragama. Mereka punya cara unik membetengi agar urusan politik tidak sampai masuk ke ranah berbau agama.
Sudah ngopi hari ini ?

Lompatan mereka sangat cepet, dari awalnya hanya nanam bbrp batang kopi , sekarang jauh lebih banyak, yang awalnya hanya 10 keluarga, sekarang ada 60 keluarga yg secara terangan2an serius nanam kopi.

Kopi bukan lagi cadangan atau sampingan, tapi bener2 mereka jadikan tumpuan utama keluarga mereka. Cabe, tomat, wortel sebagai sampingan buat ditanam.
Tahapan mereka sampai dimana kopi kayak anak mereka sendiri. Kebun sering didatangi, batang pohon kopi sering dipangkas hingga soal pupuk. Kami baru tahu, dari mereka, setelah panen maka jangan telat ngasih nutrisi ke pohon kopinya. Setiap pohon kopi rata2 4-5 ember pupuk kandang setelah masa panen atau menjelang panen habis.

Beberapa ibu2 yg petik kopi berkata " kalo petik harus kondisi gembira, harus kondisi senang" .

Kami juga masih bingung asal muasal kata “pendekar kopi” atau “ coffee snop”. Tapi terlepas soal asal muasal kata itu, bagi kami keberadaan mereka bagi kami sangat penting. Pendekar kopi atau coffee snober biasanya jauh lebih luas pengalaman soal kopi. Jadi, bagi yg mau jadi pendekar kopi sebetulnya harus banyak asam garam soal kopi, sederhananya mengetahui jauh lebih banyak soal dunia ini.

Pernah suatu hari kedatangan salah satu pendekar kopi yg meminta kami menunjukan data log roasting kami. Selama berbisnis kopi, baru satu orang yg bertanya soal itu. Kami ingat, sekitaran 2015 pernah ada pasien yg meminta. Ini tak lazim, dimana sebagian orang hanya tanya profile roasting, tapi ada yg sampai detail gimana cara mendevelop hingga saat cooling beans, hingga masa resting. Kami sama sekali tidak terintimidasi, ini malah jadi lahan belajar kami gimana bertukar info soal meroasting. Pendekar itu adalah salah satu roaster dari brazil.

Kadang, kalo kita ga kuat mental, kita jadi jengkel dengan pendekar atau coffee snop. Pernah ada yg datang ke kami membawa air yg dia bawa. Dia pengen tahu gimana efek rasa yg ditimbulkan jika air yg dipake diganti. “ ini mas, kami mau kopi yg diseduh dengan air zam-zam”. Kalo soal settingan grinder, minta peper filter dibasahin , tanya ukuran ph, tds atau minta takaran air ditambah itu udah biasa, tapi kalo ganti air baru pertama kali kami menemukan itu. Seru sih, kami juga belajar gimana air yg pas buat seduhan kami atau settingan grinder kami.

Bagi kami, keberadaan pendekar kopi , snober kopi sangat penting didunia kopi ini. Dari mereka kita (kami) jadi lebih banyak belajar lebih apa yg kerjakan. Mereka punya sudut pandang yg beda soal bisnis ini.

Punya pengalaman soal pendekar kopi ? berbagilah….

Awal pertemuan kami dengan Bu murti dan keluarga sangatlah tak terduga. Awalnya, kami hanya dikasih kontak dari indonesia power, kalo ada salah satu desa penghasil kopi, tapi belum tahu cara mengolahnya. Sekitaran Banjarnegara sendiri, ternyata banyak banget desa2 penghasil kopi. Mulai dari Babadan, Sayangan, Ratamba hingga daerah pejawaran itu sendiri.

2015 kami kenal desa pengundungan, sama dengan desa2 yg kami kunjungi lainnya. Mulai dari Nagari Lasi,Lima puluh koto Payakumbuh, Solok Selatan hingga Aie Dingin Lembah Gumanti. Semua tempat, punya cerita masing-masing dan menghasilkan kopi yg beda-beda, tergantung budaya memproses di daerah tersebut. Dan semua tempat, bagi kami sama2 menyenangkan.

Yang membedakan adalah etos kerja dari masing2 , dan tujuan menanam kopi yg sangat beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Senggani misal, mereka bukan dari warga yg punya keturunan memproses kopi, tapi dengan pendekatan pelan2, bisa kok menghasilkan kopi dengan kualitas yg bersaing, bahkan cukup bagus. Bukan melulu soal alat, bukan melulu soal dana besar, tapi dari semangat untuk memulai sesuatu yg baru.

Ntah, ini kunjungan kami keberapa kali ke desa ini. Kamipun,tidak merasa seperti orang jual beli kopi, tapi kayak pulang kampung saja.

nb : Hari sabtu tanggal 13 April 2019 kami libur. Besok jumat adalah hari terkakhir buka dalam minggu ini. Bagi temen2 luar kota yg mau order roasted beans,kaos atau koka pengiriman terakhir adalah besok sore.

Banyak yg datang ke kami rata2 masih awam soal kopi. Termasuk ibu2 rumah tangga. Mereka datang lantaran lihat postingan temennya yg sudah duluan datang ke klinik kopi.

minggu ini paling banyak dari Cikarang, bekasi hingga Sidoarjo. Dari bbrp kasus yg kami temui, mereka trauma terhadap kopi. Ya kopi itu pahit, maka butuh gula atau susu. Meluruskan benang kusut emang agak susah, tapi asal ada amunisi kopi yg pas, maka hal itu bisa dipatahkan.

Itu kenapa kami selalu punya kopi Natural proses. Ada Guji, ada Padusi serta yg terbaru Berume yg tersedia minggu ini.

referensi rasa mereka unik, ada yg menemukan buah manis tapi ga tahu nama buahnya. Atau hanya mengenali aroma kue manis tapi juga ga tahu nama kuenya.

bagi kami, kopi natural proses adalah jembatan bagi mereka yg mau mengenal kopi. Sebab dari kopi dengan natural proses, kopi jadi berasa bukan kopi, tapi buah.

Lalu sambil mencuci gelas Bung sigit staff kami berkata “ lah, kopi kan buah mbak”…lalu mereka terdiam…dan lalu berkata “ oh iya ya…”

Banyak kawan kami yg awalnya hanya warung kopi, pengen beralih ke roastery. Jelas, bisnis ini sangat menguntungkan, asal tahu caranya.
Bagi kami sah-sah saja pilihan itu. Kami sendiri mulai roasting sejak 2014, hingga ganti yg ukuran lebih besar baru 2018. Tenggat yg lama bagi kami mengumpulkan dana buat ganti yg lebih besar.
Lalu, dengan maraknya roastery maka pilihan kopi jadi lebih banyak. Mirip kayak penjual lukisan. Dengan sama2 kanvas dan alat lukis yg sama misal, hasilnya akan beda, pasti sangat beda.
Ukuran kedua selain itu adalah, roastinglah dengan gayamu sendiri... jangan ikut pasar suka... selebihnya, waktu serta proses yg menempanya.
Lambat laun, akan ada fase dimana warung yg awalnya ga roasting jadi pengen roasting. " emang harus ada yg berubah dari sebuah pola bisnis "

Most Popular Instagram Hashtags