khofifah.ip khofifah.ip

487 posts   24153 followers   1 followings

khofifah indar parawansa  Menteri Sosial Republik Indonesia Ketum PP Muslimat Nahdlatul Ulama

Apa perrnah anda menanyakan kepada anak tentang cita-cita yang mereka inginkan kelak ? Saya yakin setiap anak pasti memiliki cita-cita yang ingin digapai di masa depan. Namun, hal itu tidak akan mudah terwujud tanpa dukungan penuh dari orang tua.

Karena itu, di setiap titik kunjungan saya ke daerah saya selalu memompa dan mendorong para orangtua untuk mengawal dengan baik tumbuh kembang generasi penerus Indonesia. Berikan kesempatan bagi anak-anak untuk berprestasi dan meraih mimpi mereka. Bagi saya semua anak punya kesempatan yang sama, sekalipun ia dibesarkan dalam keluarga miskin.
Oh ya, di Hari Anak Nasional tahun 2017 ini sendiri (23/7), saya mendatangi Kampung Berseri Astra Sejahtera Mandiri, Surabaya, Jawa Timur. Kampung ini merupakan hasil kerja sama kemitraan antara Kementerian Sosial dengan Astra yang berfokus pada pengembangan kampung secara terpadu baik dalam hal kesehatan, pendidikan, kewirausahaan, dan lingkungan.

Anak adalah anugerah terindah sekaligus  amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orangtua. Berikan pendidikan, kesehatan, kasih sayang, perlindungan yang terbaik kepada mereka karena kelak amanah ini akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.
Selamat Hari Anak Nasional 2017. Semoga anak-anak Indonesia bisa hidup lebih terlindungi, bahagia, dan sejahtera. Semoga generasi pewaris bangsa ini menjadi pribadi-pribadi yang religius, nasionalis, bermoral, dan unggul dalam ilmu, serta mampu membawa Indonesia menjadi lebih maju di masa mendatang.
Stop Kekerasan Terhadap Anak !
#HariAnakNasional #HAN2017

Buat saya, akhir pekan bukan waktunya untuk berlibur, tamasya, atau sekedar malas-malasan di rumah. Sebaliknya, saya semakin sibuk membagi waktu menyambangi banyak kota seantero Indonesia. Untungnya empat anak saya bisa mengerti kalau saya bukan cuma milik mereka tapi juga orang banyak.

Jum'at (21/7), setelah dari Belitung, saya langsung take off menuju Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sementara hari ini, Sabtu (22/7) saya juga mengecek langsung pencairan PKH di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dan besok Minggu (23/7) di Kabupaten Mojokerto. Padat tetapi sangat membahagiakan bertemu keluarga penerima manfaat yang tampak bahagia menerima bansos PKH. Saya sangat menikmatinya.

Saya memilih melihat secara langsung proses pencairan Program Keluarga Harapan (PKH), memastikan kalau semua berjalan lancar ketimbang hanya sekedar menerima laporan beres dari para pelaksana.

Oh ya, ada pemandangan yang membuat saya terharu saat pembagian PKH di Kabupaten Semarang kemarin. Saya melihat seorang anak SD yang terus membekap erat tas anyar yang baru saja saya berikan. Ia juga dihadiahi tabungan pendidikan oleh BNI untuk prestasi yang telah diraihnya. Terlihat anak ini begitu gembira. Baginya bahagia itu sesederhana memiliki tas baru.😊 Buat anak Indonesia, ayo terus belajar dan berprestasi sehingga suatu saat dapat berkontribusi dalam membangun bangsa.

Saya seperti memiliki hutang setiap kali terjadi musibah jika tidak segera menengok para korban dan pengungsi. Meskipun, sesaat setelah terjadi bencana, saya memastikan Tim Kementerian Sosial sudah turun dan seluruh kebutuhan korban dan pengungsi dapat dipenuhi. Utamanya makanan. Kadang ada jembatan putus dan daerah terisolasi yang menjadikan suplai logistik terhambat. Saya selalu pesan kepada TAGANA dan tim teknis kemensos maupun dinsos jangan sampai ada yang kelaparan.

Kamis (20/7), saya bertolak menuju Belitung dan Belitung Timur yang dilanda banjir hebat. Disana, saya bersapa dengan para korban juga pengungsi dan melihat langsung akibat terjangan banjir di dua kabupaten tersebut. Subhaanallah... Ya, semoga bencana ini membawa setiap orang untuk sampai pada titik tawakkal tertinggi, yakni bertawakkal kepada Allah atas segala ujian dan peringatan-Nya dan menjadi penguat keimanan untuk mengangkat derajatnya di hadapan Sang Pencipta.

Rabu kemarin (19/7) saya mengunjungi dua Universitas ternama sekaligus di Kota Malang, Jawa Timur yaitu Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma). Di UMM saya melepas 5.151 mahasiswa yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sedangkan di Unisma saya memberikan kuliah umum dalam rangka Dies Natalis ke-36.

Berdiri di hadapan mahasiswa-mahasiswi di dua universitas tersebut, seolah membawa saya ke masa 30 puluh tahunan yang lalu. Saat itu saya masih berkutat dengan urusan perkuliahan dan setumpuk tugas dari dosen-dosen saya. :) Belum secanggih sekarang, dulu semua tugas kuliah harus dikerjakan dengan mesin ketik. Bisa dibayangkan betapa "asyiknya" begadang ketika itu bukan ? Saat KKN pun begitu menyenangkan. Saya ingat betul masa-masa itu. Waktu itu saya ditempatkan di Kabupaten Probolinggo. Satu desa hanya bisa berbahasa Madura. Karena saya tidak paham, akhirnya kemana-mana harus membawa penerjemah.

Kepada para mahasiswa saya berpesan untuk tidak merasa sebagai golongan yang eksklusif. Sebaliknya, mereka harus "turun gunung" membawa pembaharuan bagi masyarakat luas. Tentunya dengan semua ilmu dan keahlian yang dimiliki. Jadikan kuliah sebagai Kawah Candradimuka sebelum nantinya ditugaskan menjadi pewaris bangsa.

Menurut saya, Indonesia sangat beruntung mempunyai Taruna Siaga Bencana (Tagana). Relawan yang siap setiap saat kapanpun dibutuhkan, tanpa bertanya honornya ada atau tidak. Bahkan dalam standar operational procedure (SOP), Tagana harus siap hadir satu jam setelah bencana terjadi. Jangan tanya soal skill, dedikasi, dan komitmen. Mereka ini adalah juaranya. TAGANA selalu hadir saat ada bencana baik bencana alam maupun sosial.

Saat ini, Tagana tidak cuma menangani bencana alam saja. Perannya semakin luas karena juga turut andil dalam mengatasi bencana sosial. Termasuk dalam urusan menangkal gerakan terorisme dan radikalisme yang mengancam eksistensi NKRI. Komplit bukan ?

Buat Tagana seluruh Indonesia, jangan pernah lelah menolong dan membantu sesama manusia. Jangan pernah juga membeda-bedakan korban atas dasar agama, warna kulit, suku, dan ras mereka. Semangat Tagana Indonesia...

Memiliki keterbatasan pendengaran dan kesulitan berbicara tidak menghalangi rasa nasionalisme anak-anak di Panti Sosial Bina Rungu Wicara (PSBRW) Meohai, Kendari. Saya sampai menitikkan air mata saat melihat mereka begitu khidmat menyanyikan Indonesia Raya meski dengan bahasa isyarat tangan. Lengkap dengan sikap sempurna. Luar Biasa.

Di Panti ini, anak-anak "special" tersebut mendapatkan berbagai pelatihan keterampilan. Mulai dari menjahit, merias, menyablon, dan lain sebagainya. Mereka berasal dari lima propinsi di Kalimantan dan Sukawesi. Saya meminta kepada panti untuk menyusun kurikulum baru berbasis ekonomi kreatif sehingga selepas dari panti anak-anak tersebut bisa bersaing dan mandiri.

Di hari waktu yang sama, saya juga berkunjung ke Panti Sosial Tresna Wredha (PSTW) Minaula, masih di Kendari. Disana saya bertemu dengan puluhan kakek nenek yang juga luar biasa. Di usia senja mereka masih bersemangat untuk menghasilkan berbagai macam kerajinan. Saya pun membeli sejumlah tikar shalat hasil karya tangan mereka. Rencananya mau saya bagikan ke rekan dan kerabat. Sehat-sehat terus ya kek... nek... Kunjungan ke dua panti tersebut menjadi pamungkas kunjungan saya ke Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (18/7). Sebelumnya saya juga menengok program bedah rumah tidak layak huni (Rutilahu), memantau proses pencairan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Halal Bihalal di Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Konawe Selatan.

Alhamdulillah , acara Halal Bihalal Muslimat NU yang dirangkai Peringatan Hari Anak Nasional di Kalibata, Minggu (16/7) berjalan lancar dan meriah.

Saya sengaja menghadirkan badut-badut untuk menghibur ratusan anak-anak PAUD yang hadir dalam acara itu. Benar saja, tingkah lucu para badut mampu membuat seluruh anak-anak tampak bahagia dan terhibur, nampak dari antusiasme mereka sampai terpingkal-pingkal. Kehadiran Kak Seto dan Kak Henny juga membuat acara semakin semarak. Anak-anak tidak berhenti bernyanyi, bermain, dan tertawa.
Memang seharusnya kebahagiaan dan keceriaan seperti inilah yang kita berikan kepada anak-anak. Karena dunia anak adalah bermain, bukan kekerasan maupun eksploitasi.

Kepada orang tua, saya berpesan jaga, dampingi dan didiklah anak-anak kita dengan sapaan yang lembut(qoulan layyina), penuh kasih sayang, sesuai tuntunan agama. Berikan perlindungan yang maksimal. Jadikan anak agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, memiliki budi pekerti yang luhur, dan ber akhlaqul karima.

Lagu : Aku Anak Indonesia - AT Mahmud

Bisa dibilang saya sangat gemar mengenakan outfit bernuansa batik, kain khas tradisional Indonesia. Batik lebih sering menjadi pilihan saya setiap kali beraktivitas. Kok batik ? Selain karena merupakan warisan leluhur, Batik juga memiliki ragam motif yang unik bagi yang mengetahui filosofi alur ceritanya. Hampir setiap daerah memiliki motif unik, lengkap dengan cerita dan filosofi yang melatarbelakangi. Saya sangat menikmati cerita pembatik dengan segala varian kekayaan budaya lokalnya.

Nah, karena alasan itulah saat saya ke berbagai daerah jika ada waktu saya menyempatkan diri berkunjung ke pengrajin batik. Seperti kemarin , Sabtu (15/7) saya sengaja menyambangi workshop Batik Tulis Sekar Arum di Mojokerto, Jawa Timur. Pengrajin batik disini sempat terhenti berkat pendampingan pemko ahirnya tumbuh lagi. Keunikan batik disini tidak lain karena motifnya mengambil corak majapahitan dan alam sekitar. Namanya juga asing di telinga seperti mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan lain sebagainya.

Buat generasi muda, Anda semua bisa tetap modis dan trendi kok dengan busana batik tanpa terkesan seperti orangtua. Dengan sedikit sentuhan modern saya yakin batik bisa menjadi sebuah lifestyle. Yuk... turut serta melestarikan warisan leluhur bangsa Indonesia ini.

Terus terang, saya sendiri merasa tidak enak hati mendengar berita kalau saat ini masih ditemukan kualitas beras sejahtera (dulu raskin) yang tidak layak konsumsi. Mulai dari berkutu, berwarna kuning kehitaman, tekstur pecah-pecah, dan berbau apek.

Padahal dengan Harga Pembelian Beras (HPB) senilai Rp9.220 per kilogram semestinya masyarakat menerima beras yang berkategori medium dan layak konsumsi. Di banyak daerah, saya mencicipi dan makan nasi rastra bersama masyarakat.

Karenanya, Jum'at (14/7) kemarin saya melakukan sidak langsung ke Gudang Bulog Tuk di Kota Cirebon guna melihat seperti apa kondisi rastra di wilayah tersebut. Saya meminta kepada Pemerintah Daerah untuk segera mengembalikan Rastra kepada Bulog jika memang dinilai tidak layak konsumsi. Setelah diganti, baru disalurkan.
Bagi saya beras bukan hanya sekedar bahan makanan pokok. Lebih dari itu beras dapat diartikan sebagai tolak ukur kesejahteraan masyarakat. Karenanya, saya berharap pemerintah daerah bisa ikut melakukan pengawasan terhadap kualitas rastra. Untuk masyarakat, jangan segan melaporkan kepada pemerintah setempat jika mendapati rastra yang diperoleh tidak layak konsumsi.

Meskipun cuma sebentar, tapi saya sangat menikmati suasana malam di Jalan Cihampelas, Bandung (14/7). Berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan yang terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan di Bandung. Hitung-hitung cuci mata sambil olahraga.

Saya pun menyempatkan diri membeli berbagai souvenir buatan lokal bandung seperti tas dan sepatu kulit. Harganya murah, tapi model dan kualitasnya gak kalah dengan merek luar negeri ternama.

Bagi yang mampir ke Bandung, jangan lupa untuk menyempatkan diri menikmati pemandangan Kota Bandung yang disajikan dari atas Skywalk Teras Cihampelas ya. Menurut saya konsepnya bagus, karena dekorasinya pun sangat kekinian. Ditambah sepanjang skywalk banyak juga pedagang yang menjual kuliner, souvenir, dan taman. Jadi, buat apa ke luar negeri, kalau di Indonesia punya banyak tempat yang ikonik dan keren? #Bandung #BandungJuara #SepatuBandung #PesonaIndonesia #ExploreIndonesia #WonderfulIndonesia

Siapa bilang anak keluarga miskin tidak bisa berprestasi dan meraih masa depan gemilang ? Anak-anak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) bisa membuktikan jika anggapan itu salah besar.

Di setiap kunjungan ke daerah, saya sering mendapati anak-anak KPM PKH yang berprestasi di ajang nasional maupun internasional. Entah itu dibidang olahraga, science, kesenian, dan lain sebagainya. Sangat membanggakan bukan ? Ditengah keterbatasan mereka mampu membuat bangga kedua orangtuanya juga bangsa.

Seperti kali ini, dalam kunjungan ke Kota Cirebon, Kamis (13/7) saya bertemu salah satu anak penerima PKH, Dewinta Putri Fazriani putri Ibu Junari yang berhasil mendapatkan beasiswa Bidik Misi dan masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Itu masih sebagian kecil, karena diluar sana banyak anak KPM yang juga telah meraih beasiswa Bidik Misi.

Oh ya, sebelumnya saya juga pernah bertemu Ahmad Zuhri mahasiswa asal Demak yang berprestasi dengan membawa pulang medali emas dalam ajang kontes robotik internasional di Amerika Serikat.

Saya sendiri merasa bangga bukan main. PKH dengan semua komplementaritasya ternyata mampu turut mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia. Pesan saya kepada mereka, teruslah berkarya dan berprestasi sehingga bisa mengangkat derajat orangtua, keluarga, serta bangsa dan negara.

Most Popular Instagram Hashtags