[PR] Gain and Get More Likes and Followers on Instagram.

haniejuniart haniejuniart

792 posts   6583 followers   46 followings

•Fanstory Ochika Sammar Ceran•  •Perpaduan suka nulis & menghayal •@notesandlove for another story • NOVEL 'Love of The Ring' bisa dibeli di 👇👇👇👇👇 •Line: haniejuniart_

https://tokopedia.com/haamida

Kalian jawab apa??
Kalau aku...
Aku maunya muee.... 😭😭😭😭 Abaikan labilnya aku.
Answer please ❤

Kangen... Kangen...
Kangen...
Kangen... @ochi24 @samuel_zylgwyn @ammarzoni @rantymaria

Meyrin sudah mengingat semuanya, semua potongan pertanyaan itu, suara yang memanggilnya dari balik kabut jingga di Flins, tak lain adalah Sam. Janjinya pada Sam, janji Sam padanya, janji keduanya yang menggerakan kedua tubuh mereka untuk saling menemukan satu dengan yang lainnya.
Aroma serigala Nugo tercium, dia sedang menuju ke sini.
'Nugo pergilah, mintalah bantuan pada Sam. Untuk menyelamatkan rakyat Flins. Aku bisa menghadapi Harlin sendirian. Nugo kumohon jangan keras kepala! Pergilah, katakan pada Sam, aku sudah mengingatnya, aku menunggunya di tempat semestinya aku berada.' Meyrin membiarkan isi fikirannya terbaca oleh Nugo.
Harlin sudah berada di hadapannya, memegang dagunya, mengangkat wajahnya ke atas, mendekatkan wajahnya pada wajah Harlin, tak ada senyum iba di sana, yang ada hanyalah kebencian, sementara tangannya yang lain menusukkan pedang berkilau itu tepat di perut Meyrin, ditekannya kuat kuat, memutar pedang itu seakan memastikan organ organ dalamnya terkoyak, atau bahkan hancur. Meyrin tersenyum menahan sakit, lalu merangkul Harlin kuat kuat, menghujamkan juga potongan kayu tajam yang ia sembunyikan tepat di jantung Harlin. Semakin Harlin menekan pedang itu hingga hampir menembus pinggang Meyrin, semakin kuat Meyrin menusuk jantung Harlin.
Kedua tangan Meyrin lebih dulu terlepas dari kayu yg digenggamnya. Tubuhnya bersimbah darah itu lunglai seperti kapas, jatuh di tanah, di atas dedaunan kering. Membiarkan darahnya tergenang, memberikan warna lain di antara dedaunan. Sementara Harlin perlahan berubah menjadi kabut hitam pekat, melahap anggota tubuhnya, menjemput kematian abadinya.
Tangannya gemetar, saat menyentuh pedang yang terbenam dalam tubuhnya, ia menariknya keluar. Tak ingin ada satupun benda yang mengotori raganya terlebih itu milik Harlin. Meyrin berusaha tersenyum dalam rasa sakitnya, walau kedua sudut matanya dialiri air mata, tapi setidaknya ada satu hal yang dia sukai, Meyrin selalu ingin ketika dia mati mengenaskan, tidak ada satu pun orang yang melihatnya. Kedua matanya berkaca kaca, mengenang bagaimana berusahanya Sam mengingatkannya tentang kisah mereka, tentang janji mereka, Sam sudah membelanya di depan kawanannya.
#FLINS

Flins itu lanjutan cerita Love Story Of Meyrin and Sam... Pada akhirnya Meyrin ingat siapa dia, untuk apa dia harus kembali ke dalam hutan, dan pada siapa janjinya harus ditepati.
Sam...
Walau di akhir mereka harus menjalani hukuman yang leluhur berikan karena Sam melanggar tetuahnya.
Sam harus keluar dari hutan balik bukit, demi bersama Meyrin.
Dan Villo?? Gelang pertunangan khas kawanan harimau balik bukit tiba tiba dia lepaskan, pertanda jika tak ada lagi ikatan antara dia dan Sam.
Ratu Harlin mati abadi, menyelamatkan banyak makhluk ajaib di dalam hutan. Menyudahi banyak kebencian, membuat banyak makhluk yang bersembunyi dalam kegelapan akhirnya bisa membaur, tertawa bersama dalam satu pesta kecil di tengah hutan, pesta pernikahan Meyrin dan Sam ❤ sekaligus hari terakhir Sam berada di Hutan Balik Bukit...
.
Sebenarnya cerita ini masih aja agak ngegantung walau udah part 2, tapi akan ada waktu yang tepat untuk melanjutkannya...
.
Kisah Sam dan Meyrin yang harus tinggal di luar hutan. Mereka bergumul dengan manusia di kota. Sesekali Sam berubah menjadi harimau yang berlarian di taman belakang rumahnya yang tertutup ditemani puluhan kupu-kupu kecil jelmaan Meyrin ❤
.
Klo kata Sam, "Ini adalah hukuman terindah..."

Badai salju di kumayan! Merapi dan lauuuuuuutttt!!!
😂😂😂
Dari outfitnya kayaknya... Kayaknya mereka.... Mereka foto bebatuan... 😅
#ochikaoneframe
@ochi24 @cutratumeyriska

Bell, Edgar mana?? Ciyus kamu lagi me time sama Citra? Suam gak diajak?? Tegaaaa... 😂😂
Citra juga, kenapa Abi gak diajak?? Terlaluuuu... 😅😅
#ochikaoneframe #Loveofthering
Have a nice friday, Gals... 😘

💭Eps. 048
Air mata jatuh tanpa Luna sadari. Kedua tangannya mengepal gemetar, menahan kesal, cemas dan banyak perasaan yang tak berani dia akui saat ini.
Bibi Ana tertegung melihat reaksi keponakannya ini, rasanya baru sekarang melihat reaksi keponakannya seperti ini. Bibi Ana memandang Abhi dan Luna bergantian, mampu menerka sepasang mata itu bicara dalam dunianya. Hingga Luna mengusap wajahnya buru buru, kemudian berbalik dan berjalan pergi. Abhi tak tinggal diam, dia keluar dari selimut berusaha mengejar langkah marah Luna.
"Luna! Luna tunggu!" pinta Abhi berhenti melangkah, sambil berpegangan pada daun pintu tak sanggup mengejar Luna. Di ujung pintu keluar Luna menoleh, menatap Abhi nanar.
"Aku gak tau perasaan apa ini, dan aku gak mau mengakuinya." kata Luna lantang tak peduli pada seorang petugas kebersihan yang sedang mengelap kaca.
"Apa karena aku bukan orang baik?" tanya Abhi. "Bagaimana mungkin aku bisa mengakui perasaan pada orang yang berteman baik dengan penyebab kematian orang tuaku?"
Deg!
Abhi mencoba menegakkan diri, sambil menelan kalimat Luna barusan dan mengerti apa artinya.
"Kamu berusaha membunuh dirimu sendiri Leo!" tegas Luna marah.
Abhi menelan ludah dalam dalam mendengarnya, ia beringsut lemas... Terduduk di lantai. Senyum tipis terurai di bibir pucatnya. Kata kata Luna barusan terdengar menggelitik. Bagaimana sesuatu yang membuatnya bertahan hidup bisa membuatnya mati?
Luna menutup pintu, namun tak pergi. Ia berjalan kembali menghampiri Abhi. Ia terlutut di hadapan pria mengenakan seragam rawat rumah sakit, "Belum terlambat untuk meninggalkan semuanya..." kata Luna bernada memohon.
"Kamu boleh pergi kalau kamu mau. Dan kamu boleh tinggal kalau kamu bisa menerimaku..."
"Berikan aku satu alasan yang bisa membuat aku bisa menerima kamu bersama semua kebiasaan bodoh itu!" tantang Luna.
"Semua penikmat barang haram itu hanya memiliki satu alasan. Karena mereka tidak bisa menerima banyak kenyataan di hidupnya," jawab Abhi sambil memandang Luna nanar.

💭Eps. 047
Abhi perlahan membuka kedua matanya, dia pandangi nanar langit langit rumah sakit yang terang benderang. Dia bergerak, dan merintih merasakan sakit yang luar biasa di bagian pundak kirinya. Dia ingat luka tembak itu bersarang di sana, dan rasa nyeri yang teramat sangat memaksanya ingin segera membuat perhitungan. Leo berusaha duduk sambil menarik banyak selang yang bersarang di dada dan lengannya. Dia lepaskan alat bantu pernafasan lalu keluar dari selimut, tak disangka... Kedua kaki Abhi belum cukup kuat untuk menopang tubuhnya sendiri. Dia beringsut dan Luna yang baru sampai segera mengambil langkah seribu untuk menangkap tubuh Abhi kuat kuat.
Sepasang mata itu bertemu, menatap sama tak percayanya.
"Duh, masa gue pelukan sama rantang?" gerutu Bibi Ana yang berdiri di depan pintu yang terbuka. Suara Bibi Ana membuat Luna buru buru membantu Abhi untuk berdiri, lalu memapahnya agar kembali berbaring di ranjang. "Katanya gak apa apa? Berdiri aja nak Leo gak bisa, berarti parah Lun!" kata Bibi Ana. Luna lekat memandangi wajah pria belasteran yang masih pucat sambil menjulurkan selimut menutupi setengah badan Leo.
"Pantas kamu gak hubungin aku, karena memang kamu gak baik baik aja kan sebenarnya?" tanya Luna, membuat suasana hening seketika. Abhi terdiam, menimbang banyak hal. Keberadaan Luna disini dan kalimatnya barusan.
"Luna bawakan kamu rendang nih, kan kasihan hari raya begini kamu makan makanan rumah sakit..." kata Bi Ana dan tak mampu mengindahkan pandangan Luna pada Abhi. Pandangan cemas melihat Abhi yang pucat pasi.
'Hari ini hari raya? Berarti aku sudah tak sadar hampir...' fikir Abhi lalu mengangkat wajahnya, menatap Luna.

💭Eps. 046
Luna membuka tudung saji di meja makan rumahnya yang menjadi satu ruangan dengan dapur. Matanya mendelik melihat hanya ketupat yang tersaji di tengah meja. "Bi, Bibi gak bikin opor ayam gitu?" tanya Luna saat melihat Bibi Ana memasuki dapur dan membuka pintu kulkas untuk menuang air es ke dalam gelas.
"Ya ampun Luna, jangan menolak untuk lupa deh. Kamu kan udah jadi pengangguran karena cafe lesehan itu di bongkar paksa orang gak dikenal, jadi Bibi sengaja gak masak untuk menghemat biaya hidup kita." jawab Bibi Ana lalu meneguk air dingin di gelas yang di genggamnya. Luna menutup tudung saji dengan wajah sedih.
"Tapi tenang, kita tetep bisa makan opor, rendang dan teman temannya," kata Bibi Ana dengan senyum culas. Luna melirik, tau akan rencana Bibi Ana.
"Kita keliling kampung aja, satu puteran juga kenyang..." jawabnya enteng lalu tertawa. Luna hanya menaikan satu alisnya tak habis fikir.
"Eh iya, gimana kabarnya si Bulky?" tanya Bibi Ana.
"Sebenernya waktu Bibi telpon aku semalam, aku lagi di rumah sakit nemenin Leo...
BRAAKK!!
"Apa?! Leo masuk rumah sakit?!" Luna melirik bingung bibinya sambil mengelus dada, meredakan degub jantungnya yang hampir copot. "Ayo ayo cepat kita jenguk dia! Kasian masa hari raya begini dia malah di rumah sakit, bukannya kumpul sama keluarganya," Bibi Ana meninggalkan Luna sambil membawa beberapa rantang kosong. Sedang Luna tertegung memikirkan kata kata Bibi Ana barusan. Berkumpul dengan keluarga? Orang tua Leo telah lama tiada. Dan hari ini mungkin dia sendirian di rumah sakit.
"Luna!" panggil Bibi Ana lantang. "Iya iya Bi," katanya sambil bergegas keluar. Bibinya sudah siap dengan tiga susun rantang dalam genggaman.
"Ayo, kita jenguk caman." kata Bibi Ana.
"Caman?" tanya Luna tak paham, sambil mengunci pintu rumah.
"Calon mantu," jawab Bibi Ana sewot karena Luna tak paham maksudnya.

_____________________________
💭Eps. 045
Pertanda itu bulan jawaban yang ingin Pak Surya dengar. Vigo menelan ludah, Ia baru sadar siapa yang ia hadapi, Ayah Ruby benar benar memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan puterinya. Pantas saja, Ruby selalu bersikeras tidak ingin orang tuanya mengetahui jalinan cinta rahasia mereka.
Kotbah hampir selesai sebelum ustadz yang berdiri di mimbar menutup ceramahnya dengan doa. "Saya bingung dengan cara berfikir orang modern saat ini. Di jalan raya ketika lampu merah menyala, mereka bisa menurutinya dengan alasan menjaga keselamatan. Tapi janji Tuhannya, janji yang tak mungkin Dia mengingkarinya, sedikit orang yang bisa mempercayainya." Pak Surya tertegung, bahkan mematung sejenak. Bahkan lantunan doa sang Ustadz tidak khusuk didengarnya.
Bahkan sampai Vigo berdiri, ia juga membantu Pak Surya berdiri. Keduanya berjabat tangan, "Jika Bapak bertanya, apa yang saya punya untuk puteri bapak, saya hanya bisa menjawab, saya memang bukan siapa siapa, tidak memiliki apa apa, tapi saya punya Dia di dalam sini, yang pasti menunjukkan jalan agar saya bisa membahagiakan putri bapak," kata Vigo lalu tersenyum lega, kemudian berbalik dan berjalan pergi. Menghilang dari kerumunan. ***
Luna membuka tudung saji di meja makan rumahnya yang menjadi satu ruangan dengan dapur. Matanya mendelik melihat hanya ketupat yang tersaji di tengah meja. "Bi, Bibi gak bikin opor ayam gitu?" tanya Luna saat melihat Bibi Ana memasuki dapur dan membuka pintu kulkas untuk menuang air es ke dalam gelas. "Ya ampun Luna, jangan menolak untuk lupa deh. Kamu kan udah jadi pengangguran karena cafe lesehan itu di bongkar paksa orang gak dikenal, jadi Bibi sengaja gak masak untuk menghemat biaya hidup kita." jawab Bibi Ana lalu meneguk air dingin di gelas yang di genggamnya. Luna menutup tudung saji dengan wajah sedih. "Tapi tenang, kita tetep bisa makan opor, rendang dan teman temannya," kata Bibi Ana dengan senyum culas. Luna melirik, tau akan rencana Bibi Ana. "Kita keliling kampung aja, satu puteran juga kenyang..." jawabnya enteng lalu tertawa. Luna hanya menaikan satu alisnya tak habis fikir.
"Eh iya, gimana kabarnya si Bulky?" tanya Bibi Ana.

*Cerita ini hanya fiktif belaka yang dibuat berdasarkan imaginasi saya saja*
Selamat menikmati :)
__________________________
💭Eps. 044
Nyonya Andini yang sudah mengenakan mukena melambaikan tangan dari tempatnya di deretan belakang. Ruby melihat ibunya, tapi kembali melirik Vigo yang terlihat melempar senyum pada Pak Surya. Lebih baik dia menghampiri ibunya, sebelum ayahnya melihat dan mempertanyakan keberadaannya di sana. Ruby yakin Vigo takkan berani membongkar rahasia hubungan mereka, karena jika Vigo berani bicara maka... Sambil menggelar sajadahnya Ruby berfikir... Maka ia akan memutuskan hubungan keduanya. Tapi hubungan mereka toh sudah berakhir, jadi tidak ada yang Vigo takutkan lagi. Sambil mengenakan mukenanya Ruby resah sendiri, walau akhirnya ia duduk bersila di samping ibunya dan mulai memfokuskan diri untuk mendirikan sholat.
***
"Demikianlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau mengingatkan bahwa diguyurkannya harta benda, dilimpahkannya kekayaan, dan dibukanya pintu-pintu kekayaan duniawi, adalah ujian berat. Gelimang harta yang menggiurkan, kemilau emas yang menggoda, megahnya istana yang merayu, adalah kekayaan sementara yang dapat menggelincirkan." petikan isi khutbah berasal dari mimbar, Vigo yang sejak dimulainya khutbah hanya menunduk tiba tiba mengankat kepalanya seraya berujar, "Seandainya semua orang tua bisa mengerti jika kekayaan bukanlah segalanya,"
"Tentu bukan segalanya. Tapi harta juga sangat penting. Orang tua mana yang ingin menikahkan anaknya dengan laki laki susah? Orang tua mana yang tidak berharap dibahagiakan anak dan menantunya?" sambil mengutak atik ponselnya Pak Surya menjawab perkataan tidak sengaja yang keluar dari bibir Vigo. "Seandainya saya adalah calon mertua kamu, dan saya bertanya pada kamu, apa yang kamu punya untuk bisa membahagiakan puteri saya?" Pak Surya bertanya, dengan senyum iseng sambil menatap Vigo yang gugup.
"Menikah itu membuka pintu rezeki, jadi apa yang harus dirisaukan? Allah sudah menjamin rezeki setiap hambanya." jawaban Vigo terpotong dengan senyum lebar Pak Surya yang kembali mengutak atik ponselnya.

*Cerita ini hanya fiktif belaka yang dibuat berdasarkan imaginasi saya saja*
Selamat menikmati :)
_____________________________
💭Eps. 043
Gema takbir berkumandang sedari malam sampai matahari masih malu-malu menapakkan batang hidungnya. Canda tawa menghiasi wajah-wajah penghuni rumah yang bersama sama keluar, membaur dengan keluarga lain yang berjalan menuju satu tujuan yakni tempat dilaksanakannya sholad Ied.
Ruby mengenakan gamis putih dan hijab berwarna cream, nampak berusaha tersenyum saat tetangga tetangganya memberi selamat atas rencana pertunangannya yang diadakan besok. Ia dekap erat lipatan mukenah dan sajadahnya tanpa meredupkan senyumannya. Tidak akan ada yang tau soal alasan perjodohan ini. Tidak akan. Dan tidak akan ada yang mengerti sehancur apa perasaan Ruby saat ini.
Dalam keramaian jalan Vigo yang mengenakan baju koko dan celana bahan hitam nampak berjalan terburu-buru lewat dan menyelip di antara warga perumahan Permata Garden lainnya. Dari balik kacamatanya, ia memperhatikan pungung punggung yang ia lewati begitu saja karena pemiliknya bukanlah orang yang Vigo cari. Deg!
Langkahnya tiba-tiba mendadak terhenti, tepat ketika ia melewati seseorang mengenakan kerudung cream. Vigo menarik mundur tubuhnya sambil menoleh, melihat dengan seksama raut sedih itu.
"Kamu gak mencintai laki-laki kaya itu kan?" Pertanyaan Vigo sontak membuat Ruby menoleh. Gadis bermata bulat itu terpaku, tidak bisa lagi menutupi kesedihan yang terpampang jelas di wajahnya. "Cuma ada aku di hati kamu. Iya kan Ruby?!"
"Untuk apa kamu datang ke sini?!"
"Untuk membuktikan aku layak menjadi suami kamu meski aku miskin!" sambar Vigo lalu melanjutkan langkahnya.
"Vigo!" panggil Ruby sambil mengikuti di belakang, tapi terlambat. Sangat terlambat! Karena mantan kekasihnya itu sudah membaur di antara shaf laki laki. Vigo menoleh, tersenyum menggantung ke arah Ruby. Ia bahkan berani duduk tepat di samping Pak Surya yang tidak mengenalinya.

Most Popular Instagram Hashtags