haniejuniart haniejuniart

786 posts   6168 followers   41 followings

•Ochika Sammar Ceran•  •Enjoy my instagram •Perpaduan suka nulis & menghayal •Love of The Ring 📖 OPEN PO Untuk Order bisa hub👇 🔹LINE: haniejuniart_ 🔸WA: 081219620034

https://www.wattpad.com/user/HanieJuniart

▶Eps. 031
Samar samar Luna melihat Bulky terbaring santai di ranjangnya, "Ya Allah, dia lagi... Kayaknya gue beneran gila deh ini. Di kampus ada dia, di tempat kerja, sekarang di samping gue..." gumam Luna sambil mengucek-ucek mata lalu tersenyum tak habis fikir. "Hah?!" Luna terpatung, takut takut ia melirik lagi. Kali ini terbelalak, saat hendak berteriak Abhi lebih dulu membungkam mulut Luna. Ia dekatkan wajahnya dengan wajah Luna sampai hidung mereka bersentuhan. "Lo tidur di taksi dan gue antar lo sampai sini," cerita Abhi.
Mata Luna melirik lirik kesal lalu membuang tangan Abhi mentah mentah.
Bau harum masakan Bibi Ana tercium. Abhi bangun dari ranjang. "Gue yakin, tadi itu tidur lo yang paling nyenyak. Iya kan?" kata Abhi sambil menoleh. Luna membuang wajahnya, menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
Abhi berjalan keluar, sedang Luna bangun dari ranjang. "Lo gak mau sahur di sini?" ajak Luna. "Kalau pun gue puasa, puasa gue gak bakal diterima." kata Abhi sambil tersenyum. Menurutnya mungkin itu gurauan, tapi melihat jarum suntik di meja ranjang membuat Luna mengerti itu bukan candaan. Abhi keluar dari kamar Luna.
"Tunggu!" pinta sebelum Abhi mencapai pintu. Ia berjalan cepat menghampiri dan berhenti di hadapan Abhi. "Kadang gue ngerasa nyaman di dekat lo, tapi kadang gue juga ngerasa asing." kata Luna.
"Sekarang apa yang lo rasain?" potong Abhi.
"Takut." jawab Luna singkat.
"Lo harus tinggalin barang haram itu,"
Abhi tersenyum lebar mendengar permintaan Luna. "Apa lo bisa jadi penggantinya?? Lo bisa selesaikan masalah gue? Lo bisa sembuhin luka dihati gue? Atau lo bisa bikin gue lupa sama semua dendam yang ada di hati gue?"
"Apa barang haram itu bisa?" sambar Luna. Abhi menatap tajam Luna dengan kedua tangan mengepal.
"Gue lebih percaya barang haram itu dibanding siapapun!" Tegas Abhi lalu melanjutkan langkahnya, sementara Luna memandangi punggung bidang itu hingga tak terlihat lagi.

▶Eps. 030
Abhi mengambil ponselnya di saku, menghubungi seseorang. "Lo bikin rata dengan tanah cafe tadi," ucapnya dengan nada penuh penegasan, lalu memasukan lagi ponselnya.
Berdiri di samping ranjang, Abhi memandang wajah lelap itu. Banyak yang berkecambuk dalam hatinya, sebanyak pertanyaan yang tak ia miliki jawabannya, seperti saat pertama kali ia bertemu dengan Luna. Abhi memutuskan masuk ke dalam selimut, menyandarkan kepala Luna di dadanya. Perasaannya lebih baik saat berada sedekat ini dengan Luna. Dibalik jaketnya Abhi mengeluarkan sesuatu, jarum suntik berukuran kelingking. Ia benamkan jarum itu di lengannya, sengaja menyatukan cairan bening itu ke aliran darahnya. Nyaman... Tenang... Bahkan senyum kecil tersimpul di bibirnya yang merah. Abhi mengeratkan pelukannya sambil terpejam, namun ia tak tidur. Sudah lama ia tak tertidur. Barang haram itu setia membuatnya terjaga, setia menemaninya disaat yang paling buruk. "Baru kali ini, aku bertemu perempuan yang selalu ingin kujaga, bukan merusaknya." gumam Abhi lirih.
Suara pintu terbuka, Bibi Ana keluar dengan babydoll beruang dengan rol rol rambut menghiasai rambutnya. Sambil mengucek mata samar samar dia melihat pintu yang setengah terbuka. "HAH?!" sergahnya kaget. Ia melangkah, melihat kamar Luna juga terbuka. Bibi Ana hendak berteriak saat bertemu mata dengan pria asing yang mendekap keponakannya di ranjang. Abhi meletakkan jari telunjuk di tengah bibir.
Sudah hampir jam tiga pagi, sebentar lagi akan ramai terdengar orang orang yang memangunkan sahur.
Bibi Ana mendelik, matanya seakan bertanya, "Kamu siapa?!" Abhi mengeluarkan tangannya, lalu membuat simpul love sambil melirik lirik wajah Luna yang bersandar nyenyak di dadanya. Bibi Ana mengangguk sambil, "Ooo..." tanpa suara. Matanya memicing melihat jas, sepatu hitam mengkilat dan jam tangan yang Abhi kenakan. Sebelum pergi ia tersenyum penuh maksud.
Abhi menggeleng, dan membenarkan informasi yang Toni berikan.
"Sahuuuurrr!! Ibu Ibu Bapak Bapak sahuuuuuurrr!!!" teriakan itu terdengar diiringi suara genderang yang memekakkan telinga.
Luna terkaget dan langsung duduk dengan mata setengah terbuka.

▶Eps. 029
Toni menangkap kunci itu kemudian berlari kecil menghampiri mobil, masuk ke pintu kemudi dan pergi.
Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, tapi pengunjung di cafe lesehan itu tidak juga berkurang. Abhi berdiri menunggu di pelataran parkiran tak jauh dari deretan motor di depan cafe. Pemuda kelahiran dua puluh tiga tahun lalu ini hanya berdiri sambil mengetuk ngetuk aspal dengan ujung sepatu kanannya untuk membunuh waktu.
Luna berhenti sebelum menuruni tiga anak tangga di pintu, tidak menyangka jika Bulky ternyata menunggunya. Luna mengangkat kepalanya, memasang wajah acuh kemudian melanjutkan langkahnya, dan berhenti di balik punggung Bulky. "Kenapa lo suka banget muncul di hadapan gue?? Gak di kampus, di luar kampus?!" tanya Luna.
Abhi menoleh, menatap Luna, "Gue cuma gak bisa ngebiarin perempuan pulang sendirian dini hari begini," jawab Abhi tanpa memalingkan matanya. "Di dalem ada kok nenek nenek, dan banyak perempuan lainnya yang bisa lo antar pulang," sergah Luna kembali berjalan.
Abhi tersenyum kecil lalu berlari kecil menyusul Luna.
"Tapi bisikan yang gue dengar, gue harus nganterin lo pulang," canda Abhi. Luna menaikkan satu alis mendengar gombalan Bulky.
Luna melambaikan tangan pada sebuah taksi kosong yang menepi.
Keduanya duduk di kursi belakang, dan selama perjalanan keduanya kompak saling memunggungi, lebih memilih memandang keluar jendela.
Abhi banyak berfikir apa yamg terjadi di kampus tadi, yang membuat Luna terlihat sebal melihatnya. Mungkin saja Leo melakukan sesuatu yang tak Luna sukai, atau gadis ini masih marah gara gara kejadian kemarin? Abhi takut takut memandang Luna. Rupanya gadis ini tertidur nyenyak hingga leluasa menyandarkan kepalanya di kaca. Abhi menyelipkan tangannya di pundak, merangkul Luna, sengaja menyandarkan kepala Luna di pundaknya.
Taksi menepi di depan gang. Abhi keluar lebih dulu, lalu menggendong Luna tanpa membangunkannya.
Untungnya pintu pagar dan pintu rumah tidak dikunci, seperti sudah terbiasa jika Luna pulang lewat dari tengah malam.
Abhi tentu masih ingat letak kamar Luna. Senyumnya tersimpul tipis melihat perabot yang dikirimnya membuat kamar Luna tampak berbeda. Ia baringkan Luna di ranjang,

▶Eps. 028
Ditempa cahaya temaram, Luna nampak begitu cantik. Untuk sejenak Abhi memandangi Luna tanpa mengedipkan mata.
Petikan gitar Luna berhenti saat dia menemukan kehadiran Abhi tepat di hadapannya. Beberapa pengunjung sontak memperhatikan ke arah panggung, bahkan di antara pengunjung lain memandang sebal ke arah Abhi yang berdiri menghalangi panggung. “Mas mas, mending keluar deh... Kalau memang mau berkunjung, lebih baik duduk, jangan menghalangi panggung begini,” kata seorang pemuda berkemeja kotak-kotak dengan rambut gimbal tiba tiba menghampiri Abhi dan mendorong-dorongnya mundur, tapi kedua mata Abhi masih memandang Luna lekat seakan mencari alasan kenapa tatapan ketus itu diarahkan padanya.
“Jangan sentuh gue!” kata Abhi lantang sambil mendorong pemuda berambut gimbal itu hingga tersungkur di atas karpet. Toni buru-buru keluar dari mobil, dia dekap abhi erat saat Abhi hendak menghampiri pemuda gimbal itu. Toni melangkah mundur sambil menahan dekapannya ketika abhi meronta minta dilepaskan. “Tuan! Sadar Tuan! Ini tempat kerja Luna!” sergah Toni lantang.
Abhi berhenti meronta saat tak sengaja menoleh ke jendela kaca yang usang, dia melihat seorang lelaki paruh baya berbadan tambun dan tak memiliki rambut menunjuk nunjuk wajah Luna dengan telunjuknya. Melihat apa yang dipandangi bosnya akhirnya Toni melepaskan dekapannya. Sebelum Luna keluar, Abhi melemparkan kunci mobilnya pada Toni sambil berkata, “Pulang sana, gue gak mau Luna sampai tau loe ajudan gue,”

Repost @arinynurulhaq91
Aku nyaris gak percaya berhasil nyulap naskah cerbung di ig 300 halaman menjadi sebuah novel 183 hal.
Taukah kamu proses pembantaian naskhanya pun cukup luama. Pertama2 aku lempar ke bi jamu dulu tapi dia cuma sanggup sampai halaman 50. Mau gak mau aku yang ambil alih.
Hasilnya bikin pangling. Beda banget dari versi aslinya. Penasaran kan versi novelnya? Yuk capcus order di @haniejuniart
Buat kamu yang pengen cerbung (ig/fb, dll) dijadiin novel bisa terbitin di AT.
Chat aja no.wa ku ada di profil ig
____________________
Proses yang panjang, muter otak, gimana supaya cerita Love of the Ring ini layak dibukukan, sama halnya novel yang kalian temukan di toko buku... Dibilang sama dengan versi instagram, enggak juga... Dibilang beda jauh, enggak juga... Tapi kalau ada pertanyaan apa lebih baik, lebih gemes, lebih kerasa feelnya, lebih keliatan cintanya Edgar ke Abell???? Gue bisa bilang IYA... 😊😊

OPEN PO Sampai tanggal 31 Juli 2017

Judul : Love of The Ring

Penulis : Hanie Juniart
Tebal : 183 hal.
ISBN : 978-602-6615—33-6
Harga : Rp. 47.000,- (free ongkir jabodetabek - untuk yang diluar jabodetabek tetap dapat subsidi senilai 9rb selama masa PO)

Pemesanan :
Line: haniejuniart_
WA: 081219620034

Blurb :
“Cincin bertuah itu ada kutukannya, kalau yang memakainya laki-laki dan perempuan, maka mereka harus menikah. Jika tidak menikah dalam waktu seminggu, penyakit aneh akan menyerang dan mereka akan mati.,” lanjut Papa Edgar.
Awalnya Abell tak percaya dengan apa yang dikatakan Papa Edgar, tapi ternyata kutukan itu benar ada. Edgar sakit keras. Mau tak mau Abell dan Edgar harus menikah. Mereka sepakat melangsungkan pernikahan siri.
Menikah di usia muda bukan hal yang mudah. Ujian demi ujian terus muncul dalam rumah tangga Abell dan Edgar. Mulai dari gimmick cinta lokasi Edgar Lirra, Robin menyatakan cinta ke Abell, masa lalu Edgar, sampai Abell nyaris tak bisa ikut UN gara-gara ketahuan hamil.
Sanggupkah mereka menghadapi ujian-ujian tersebut?

Rahasia kecil yang tidak ditulis dalam versi instagramnya, semakin membuat kisah Abell dan Edgar di novel 'Love of the Ring' ini layak untuk kamu jadikan koleksi, kado dan teman bacaan yang sulit dilupakan ❤

▶Eps. 027
Mendengar pertanyaan Toni, Abhi melihat mata Toni tajam seakan berkata jika pertanyaan itu tak pantas ditujukan seorang pesuruh pada tuannya.
"Maafkan saya," pinta Toni sambil menunduk.
Abhi kembali ke kursinya, dia bersandar memikirkan ucapannya pada Pak Surya tadi. Dia ingat kejadian lima belas tahun lalu, ketika usianya delapan tahun.
Ayahnya adalah orang yang sangat terpandang, dihormati semua orang, bahkan wajahnya selalu warawiri di televisi karena kebaikan hatinya yang selalu menyumbangkan uang pada banyak panti sosial. Senyumnya merekah saat banyak kamera mengabadikan kebaikannya. Namun tak ada yang tau, jika kebaikan itu hanya topeng untuk menutupi kebusukannya.
Diam diam dia datang, hanya untuk melemparkan banyak uang ke wajah Ibu panti tempat Abhi dititipkan, untuk biaya hidup Abhi. Permana hanya mengambil Leo semenjak masih bayi, yang digadang gadang akan menjadi pewaris semua harta bahkan kebaikan hatinya. Leo tinggal di dalam rumah mewah, lengkap dengan semua kemudahan yang tak dimiliki Abhi. Sampai Permana meninggal karena kelainan paru paru yang dia derita, dan penyakit itu menurun pada Leo, memaksa pihak keluarga menjemput Abhi kembali untuk meneruskan semua bisnis Permana. "Tuan..." panggil Toni berkali kali, dan akhirnya mampu menyadarkan Abhi dari lamunannya. "Antarkan saya ke cafe tempat Luna bekerja," pinta Abhi.
"Tapi tuan, pernikahan ini," Abhi melirik lagi, "Uang selalu bisa melakukan apapun yang pemiliknya mau Toni," kata Abhi sambil bangun dan berjalan lebih dulu keluar dari ruangan kerjanya.
***
Cafe itu tidak seperti apa yang Abhi bayangkan. Tidak ada mobil mewah yang terparkir di pelataran halaman parkirnya. Lebih banyak motor, dan isi cafe itu lebih mengejutkan karena semua orang duduk bersila di atas karpet. Sedang meja meja kayu kecil menjadi pemisah antara pengunjung satu dan pengunjung lainnya. Panggung tanpa lampu sorot, hanya lampu kelap kelip mengitari dinding dan Luna sedang bernyanyi sambil memetik gitarnya asik tanpa peduli ada yang mendengarnya atau tidak. Tapi suaranya memang indah, Abhi sempat hampir tersandung karena ujung sepatunya terselip di karpet. Ditempa cahaya temaram, Luna nampak begitu cantik.

▶Eps. 026
"Saling mengenal, untuk apa? Bukankah simbiosis mutualisme sudah cukup menjadi alasan? Om menikmati uang saya, dan saya..." Abhi tidak melanjutkan kata katanya saat melihat Pak Surya berdiri sambil mengepal kedua tangannya. Abhi terkekeh kecil sambil menutup laptopnya yang satu lagi. Dia ikut berdiri, memasukkan kedua tangannya pada saku celana hitamnya. "Pernikahan karena cinta? Itu semua bullshit! Jika menguntungkan mereka akan terus melanjutkan, tapi jika salah satu ada yang dirugikan..." Abhi berjalan menuju pintu, lalu menoleh pada Pak Surya, "Perpisahan selalu menjadi jalan satu satunya."
"Tapi nak abhi, Ruby berbeda... Dia gadis baik-baik!" bela Pak Surya membuat Abhi makin tertawa geli.
"Om harus tau kalau saya gak pernah percaya cinta itu benar benar ada. Itu semua bullshit! Kebutuhanlah yang selalu membuat mereka datang, bahkan terkadang memaksa mereka untuk bertahan. Jangan munafik untuk mengakui jika itu benar!" kata Abhi sambil menujuk wajah Pak Surya.
"Tapi..."
"Jika om bisa mengembalikan uang saya besok pagi, kita tidak perlu repot repot membahas ini. Tapi jika om tidak bisa mengembalikan uang itu, tolong cam kan kata kata saya..." Abhi mendorong pintu dengan ujung sepatunya hingga makin terbuka, "Saya masih banyak pekerjaan..." usirnya manis. Pak Surya menggigit bibir bawahnya kesal sambil berjalan keluar.
"Tuan..." Toni muncul sambil melihat kepergian Pak Surya heran.
"Tuan akan menikah?" tanyanya dan mendapat jawaban berupa anggukkan singkat Abhi. "Lalu Luna?" tanyanya lagi.

Most Popular Instagram Hashtags