han0um han0um

76 posts   698 followers   697 followings

Labibah Hanoum Hanif Salsabila  Terimakasih sudah datang, semoga anda berkenan untuk bertahan. —sering mengadu ke @absensicahaya

Ada apa di dalam sana?
Bebatuan pinggir pantai yang tajam namun tak cukup basah untuk kupanggil karang?
Namamu yang merdu di telinga namun tak cukup dekat untuk kupanggil sayang?

"Lalu,"
Aku mendengar mereka berdua berbicara.
"Untuk apa memanjat jika kau hanya ingin jatuh?"
.
.
.
.
.
—pada apa lagi aku harus berpegang?

Datang dalam hempasan, pergi tak karuan. .
.
.
—di pinggir saja, tidak perlu terlalu jauh, terlalu dalam.

Tiada akhir yang benar-benar akhir.
.
Senja yang mengakhiri siang juga mengawali malam. .
Perpisahan mengawali kerinduan dan menciptakan harapan. .
Akhir dari doa sebelum makan, yang jelas, menjadi awal dari kenyang. Hehe.
.
.
.
Tangan(3, selesai)
—selamat makan.

Dalam pelukan, kami membagi rasa yang tidak mampu disematkan dalam kata-kata. .
.
.
.
Tangan (2)
—mewakili kedua mata yang terpejam, membisikkan padamu bahwa sungguh, aku ada.

Ada yang tidak dapat kamu gapai sendirian. Karena itulah kamu membutuhkan tangan.
Akan tetapi sungguh naif jika kamu mengira tangan hanyalah sekedar dua lembar kulit, daging, dan tulang yang bercabang.

Padahal tangan adalah simbol kemampuan, bantuan, kekuatan.

Kenapa tanganmu ada dua? Kenapa jemarimu berjejer lima?

Tidak lain dan tidak bukan, supaya kamu selalu bisa memberi,
sambil membantu diri sendiri. .
.
.
Tangan (1)
—Bukan untuk kau buang-buang.

Kadang-kadang, aku akan menempelkan hidungku ke kaca jendela.
Kadang-kadang, kucing di luar jendela itu akan menatapku lamat-lamat, mengeong pelan sambil menepuk kaca.
Kadang-kadang, aku akan membisikkan sebuah rahasia. .

"Aku membiarkannya masuk."
"jadi? apa kau menyalahkanku?"
"Ya, tidak juga."
"lalu apa?"
"Aku cuma tidak pernah menyangka dia akan buang hajat di ranjang."
"bodoh."
"Ya, memang —tapi..."
"apa lagi?"
"Dia lucu. Aku agak senang. Mungkin besok aku akan mengajarkannya untuk tidak mengotori selimutku. Bagaimana menurutmu? "
"terserah."
.
.
.
(3)
—kucing yang bukan punyaku

"Ada kucing di luar jendelaku."
"biarin masuk."
"Tapi, beginipun sudah cukup mengganggu."
"ya, siapa tahu di dalam dia akan membantu?"
"..."
"apa?"
"Apa kau akan melakukan hal yang sama denganku?"
"..."
"..."
"maksudmu?"
"Ya, begitu —lupakan saja!"
(andai semuanya semudah itu)
"kau barusan bilang apa?"
.
(2)
—kucing yang bukan punyaku

Dulu, sewaktu malam-malam terasa pendek, ada seekor kucing yang datang ke jendela kamarku ketika selimut sudah jauh di atas kepala.
.
.
(1)
—kucing yang bukan punyaku

Jadi waktu itu sebenarnya saya berniat nge feed tapi ternyata tidaq cocok dan mager++ jadi yaudah deh hahah

Menulis di atas air

Riak, gemuruh, sorak-sorai, dan tawa yang renyah sebenarnya sebuah pertanda bahwa sebentar lagi semuanya akan hilang.
Namun, tentu saja, ada yang duduk di pinggir sungai memastikan mereka terukir kembali setiap hilang dalam deras arus.
Sayangnya, Ia duduk sendirian. Kamu yang biasa menemani bersikeras pulang ketika mendung datang.
Ia tak pernah beranjak kau tahu? Masih menulis dan menunggu.
Sementara kamu yang pergi harus mendengar kabar kalau satu-satunya yang mampu meyakinkan Ia berpindah adalah hujan sore itu.
Yang membawa serta tulisannya hingga ke hulu.

Two sides
By the water
One lit up
The other
Burdened by its shadow

Most Popular Instagram Hashtags