geantoo geantoo

408 posts   595 followers   375 followings

Ge Anto  Penulis amatir // Pecandu rindu.

Labuh saja hatimu pada dermaga yang kau anggap nyaman. Hingga kau merasa tidak akan ada harapan yang terombang-ambing di laut kenangan. Kelak, kau akan menyadari, jika kapal yang dulu pernah kau singgahi sebagai tempat kau mengadu segala keluh-kesah kini telah karam di dasaran pilu, yang kini sudah mengalir menjadi partikel-pertikel rindu

Sejak kecil, rumah adalah tempat sebagai berbagi kasih sayang. Oleh karenanya, aku sering berada di luar; hutan untuk bertualang bersama kawan-kawan. Pagi, kala ibu membelikan lontong serta sarapan untuk kekasihnya: bapak, kami lahap sekali memakannya. Karena kondisi perut kosong di malam hari —karenanya kami sangat dengan tenang untuk makan. Bapak, yang ketika itu bertugas mencari nafkah, ibu yang bertugas menjaga rumah—tempat kami berpulang. Sementara, aku hanya menjadi anak yang tak terurus dengan kawan-kawan sebayaku. Pagi sekali, biasanya aku dan kawan bertemu dulu, menyiapkan tenaga serta alat yang akan dibawa ke kebun nanti. Setelah semua dirasa telah lengkap, kami bergegas bertualang ke kebun yang dipenuhi nyamuk, hehe. Perjalanannya cukup menguras tenaga, yaitu sekitar 15 menit. Namun, kami tidak merasa lelah karena sudah biasa. Dan di kebun itu sendiri, menyimpan berbagai keindahan yang tidak semua mata mampu menembusnya. Berapa keindahan juga akan kelestariannya. Keluar siang, kami tidak langsung pulang. Kami masih bermain-main dengan cara apa pun yang masih bisa dimainkan. Kami mengisi perut siang dengan memakan apa yang ada di kebun. Setelah mengetahui matahari akan terbenam. Saat itulah langkah akan langsung menuju pulang.
.
Ketika tiba di rumah, setelah beres-beres mandi. Kami salat bersama, bapak juga ibu. Saat usia seperti itu aku sudah mengerti akan kasih juga sayang. Setelah salat kami beranjak makan malam, dan seberes semuanya, tugas ibu mencuci dan aku bersama bapak bicara di depan tv. Aku sering bertanya soal alam kepada bapak. "Pak, gunung yang tinggi didekat sini, di mana ya pak?". Bapak tersenyum lalu menjawab dengan santai "gunung itu ada di Kabupaten Kerinci, gunung itu tinggi". Kembali aku bertanya "Lalu tempat alam yang indah di Indonesia ini di mana pak?". Bapak tertegun, "Di Bandung. Bandung adalah tempat indah di Indonesia. Juga tempat seniman berkumpul di sana". Mendengar itu, aku jadi takjub dengan Bandung. Sejak duduk di kelas 3 SD. Aku sudah sering ke warnet mencari juga melihat indahnya Bandung. Benar saja apa yang dikatakan oleh bapak. Sejak saat itulah aku jatuh hati dengan Bandung. Meski cita-cita itu belum sempat terwujud

Apakah hutan masih menyimpan sunyi-sunyi kerinduan. Menemani langkah yang kesepian. Menghidupi arah yang mencari kepastian. Aku senang mendengar kicau burung, daripada mendengarmu mengucapkan kata perpisahan. Aku suka melihat desau ranting yang jatuh ke bumi, daripada melihatmu bahagia dan mengoyak batin. Aku suka mencium bau tanah, daripada mencium wangimu yang menyisakan lara; menyesak hingga ke rongga dada, mengalir sampai menembus aorta. Berjalan kesana—kemari, menyiangi ilalang tanya, menembus pertahanan belantara, mencari sedikit bahagia, menemukan arti tawa, meski pada akhirnya menyusup hingga ke celah-celah rasa sakit. Sampai pada akhirnya, aku harus rela jatuh dilubang perpisahan, ditempa kekecewaan, dihantam kabar kebahagiaan oleh seseorang yang begitu aku dambakan. Sakit, luka bagai akar yang melilit ke sekujur badan. Ditimbun bersama harapan yang ingin kujadikan sebagai bentuk pertemuan. Saat, aku harus kalah dan dipukul mundur untuk menyerah—kau berdiri di atas kaki bukit bersama kehendakmu yang kau impikan. Mencedrai segala perjumpaan indah yang tak hendak kujadikan sebagai sejarah. Menganga dan berdarah. Luluh hatiku saat kita tak lagi menjadi sebuah kisah. Saat aku harus menerima segala apa yang telah kulakukan—meski harus berakhir menyedihkan.
.
Tertawalah. Jadikan ini sebagai pelajaran agar kita mengerti akan sebuah perjumpaan. Anggap saja segala yang kita ciptakan digilas dengan senyuman, dan dibilas dengan harapan. Berbahagialah, kau layak mendapatkannya. Meski harus mengoyak jiwaku yang ingin berada di sebelahmu, yang ingin hidup menua bersamamu. Percayalah, aku sudah bahagia hari ini. Besok, entahlah. Salam

Hidup tidak akan selalu memberikanmu kebahagiaan. Tapi, hidup selalu memberikan petualangan terbaik dalam hidupmu. Sebab, hidup adalah tentang pergi dan mencari arah pulang, dan pulang untuk pergi kembali
.
.
.
.
Terima kasih atas fotonya
@icanhiu
@portario_

Aku tidak ingin mendedikasikan diriku sebagai seorang yang hebat. Apakah aku sudah bisa mengalahkan dunia hanya karena dengan kata-kata. Sebab, menjadi penulis bukanlah sesuatu hal yang bisa untuk kau bangga-banggakan. Tapi, menjadi seorang penulis adalah salah satu hal yang bisa atau tidaknya kau lakukan.
.
Membaca buku bukan untuk kau pamerkan. Membaca berarti kita sedang menghubungkan diri kita bersama imajinasi yang selama ini sering menggagalkan realitas. Kadang, buku adalah kawan terbaik selama perasingan. Selama kita sedang merasa kesepian. Aku jatuh hati pada buku karena buku mampu membukakan jendela baru bagiku. Dan karena buku, aku bisa mengetahui segala hal yang tidak pernah kuketahui. Sebaik-baiknya kau menimba ilmu, tetap dengan membaca buku kau akan menjadi dirimu sendiri.
.
Selamat #haribukusedunia untuk anak-anak yang sedang berjuang melawan dunia. Bergeraklah untuk masa depan. Hentikan sejenak waktu yang membunuh hari-harimu dengan gadget.
.
.
.
.
#selamatharibukusedunia
#haribukusedunia

Malam ini terlalu perih untukku ceritakan padamu. Hati yang kujadikan rumah sebagai tempat kau berpulang, runtuh dalam pelukmu. Tawamu mengoyak lara. Senyummu menghempas bahagia. Sesak, paru-paru menyumbat pilu. Nadiku mengalirkan haru. Jantungku berdegup tanpa detak, napasku menghembus pelan seiring waktu berdetik. Kau seperti apatis dengan keadaan, membuatku menangis dalam kesepian. Perasaan remuk ketika aku tahu bahwa aku bukan lagi sebuah peluk. Cemburu membunuh waktu, menyisakan namamu untuk dijadikan ruang di masa lalu. Kau menempatkanku pada kisah yang kau anggap baik, baik jika benar aku dalam keadaan baik. Anggap saja yang pulang itu sebuah rintik yang menghangatkan malammu. Mengusap air yang jatuh di pipimu. Memeluk mata yang membengkak atas kesedihanmu. Lalu, Tancap saja namaku pada piringan hitam, yang bila rindu akan kau nyanyikan, yang bila marah akan kau hempaskan. Saat irama tak lagi terdengar merdu, saat suara menyumbat kita dalam kisah sendu. Apa harus aku berharap jika kau tak ingin lagi menetap. Apa perlu aku menanti jika hatimu tak ingin lagi kembali. Saat kudengar kau bahagia tanpa sedikitpun kabar darimu. Imajinasiku berhasil tidur dengan nyenyak. Hatiku terlumat, tawamu tersemat. Pecah, segalanya menjadi runtuh. Hidungku menyisakan wangi yang tersisa dari perjumpaan. Hidupku perih melawan rasa kekecewaan. Maka, berbahagialah dengan dia yang kini utuh di hatimu. Yang kini mendekap pada janji-janji baikmu. Semoga saja doa merestui tawa kalian. Semoga saja bahagia menjadi rumah terbaik untuk kalian.
.
Selamat malam peluk yang runtuh, untuk hati yang tak lagi utuh

Mau dikatakan bagaimana lagi. Kau sibuk mengumpulkan senyum, agar bisa mendapatkan tulus kebahagiaan. Aku sibuk menyuarakan kepedihan, agar bisa keluar dari segala kekecewaan yang tertumpuk menjadi kenangan paling menyedihkan
.
.
.
.
#pekanbaru

Aku senang, rinduku padamu habis dikikis karang. Aku senang, rasaku padamu mampu disapu deru ombak. Aku senang bisa membuatmu tenang. Kau senang mampu membuatku mengenang. Kita sama-sama menyenangkan, meski seringkali berakhir menyedihkan
.
.
.
.
#bogor
#indonesia

Kau adalah sosok yang pernah kudekap dalam kesepian. Sosok pemecah kesunyian di alam semestaku. Memberi senyum terbaik bagi malamku. Dan juga dirimu adalah kehilangan terbesar dalam hidupku.
.
Maka, izinkan aku membencimu mulai dari detik ini
.
.
.
.
#westsumatera
#padang

Tak perlu iri kepada mereka yang cantik dengan bahan kimia. Kau cantik karena terbuat dari alam. Saat bangun pagi, di atas gunung, embun akan merekatkan kejernihannya pada wajahmu yang hanya terlihat apa adanya. Kau bermandikan air yang begitu alami, yang turun langsung dari kaki gunung. Untuk apa iri melihat mereka yang bermandikan dengan air yang dipenuhi polusi.
.
Jadi, banggalah dirimu sebagai pendaki wanita. Belantara hutan, gas gunung, deru ombak adalah keputihanmu yang sebenarnya. Begitu alaminya kecantikkanmu, begitu indahnya baumu yang langsung dari alam. Maka, bersyukurlah jika kau terlahir sebagai wanita desa, dan mahir mendaki untuk bahagia. Kau jauh lebih hebat dari orang-orang di kota
.
.
.
.
#westsumatera

Di kaki gunung, hatimu kusembunyikan dengan sebaik-baiknya. Dibelantara hutan, perasaan kita tertumpuk di tanah yang di gilas rumput dan dibilas hujan. Aku senang kau suka bertualang, aku senang kau menjadi tempat aku pulang.
.
Aku ingin segala desauan angin, deru ombak, rintik hujan, bunyi ranting juga jatuhan daun menjadi hal-hal yang paling menyenangkan dalam kehidupan kita berdua. Dan alam semesta menjadi bukti betapa hebatnya kita membentuk rasa. Ribuan bintang menemani setiap malammu, ia menjadi tempat berbincangmu kala aku sedang sibuk bekerja juga menjadi tempatmu melepaskan penat.
.
Selamat bertambah usia, pia. Semoga cepat dewasa dengan apa yang kau lalukan.
.
.
.
.
#padang

Apakah saat ini aku boleh menempatkanmu sebagai satu-satunya sosok di hatiku, meski kau hanya menempatkanku sebagai salah satunya di hatimu. Tak apa-apa, toh aku sudah terbiasa menjadi bagian dari seseorang yang kucintai
.
.
.
#bali
#indonesia

Most Popular Instagram Hashtags