forumlenteng forumlenteng

747 posts   3,284 followers   235 followings

Forum Lenteng  Forum Lenteng focused on media based educational program such as film and video. #forumlenteng

[HARI INI - FORUM KULTURSINEMA]
"Ruang Ruang Menonton dan Arsip Filem"
26 April 2019, 19.00-21.00 WIB
C2O Library and Collabtive, Surabaya

Pembicara:
Yogi Ishabib (Koordinator Program, Sinema Intensif);
Theo Maulana (Pemrogram, Festcil Film Festival); dan
Fauzan Abdillah (Koordinator, INFIS Surabaya)
——
Filem memiliki beragam lapisan sudut pandang sehingga ia memiliki peluang untuk dibaca dan dijelajahi dari sudut pandang satu ke sudut pandang lainnya. Misalnya, di suatu hari, satu filem bisa saja dibaca dengan sudut pandang politik, namun di kemudian hari, ia hanya dibaca dari sudut pandang ekonomi. Di sisi lain, arsip-arsip filem merupakan salah satu sumber inspirasi dan materi penayangan bagi ruang-ruang menonton. Penggunaan dan pengelolaan arsip-arsip tersebut bisa menjadi salah satu strategi bagi ruang-ruang menonton tersebut untuk dapat bertahan hidup di tengah-tengah situasi produksi filem yang lesu. Mendaur ulang gagasan dengan menggunakan materi-materi filem yang telah ditayangkan sebelumnya menjadi salah satu peluang bagi para kurator atau pemogram untuk mencari moda distribusi, sudut pandang, atau pembacaan mutakhir terhadap gagasan-gagasan yang dapat dibaca dari filem. Berangkat dari peluang tersebut, usaha untuk memberikan konteks pada suatu filem, menjadi strategi bagi para kurator atau pemogram pemutaran dan penayangan filem untuk terus memproduksi pengetahuan yang mungkin dibongkar dan diperbaharui, serta menemukan berbagai konteks yang relevan untuk disajikan kepada penonton. Diskusi ini akan menghadirkan beberapa kurator atau pemogram, dan juga pengelola ruang-ruang menonton untuk membicarakan moda dan juga strategi mereka di dalam mempresentasikan kuratorial atau pemograman pemutaran dan penayangan filem.
——
Pameran Kultursinema besok tutup pukul 15.00-18.00, pukul 19.00 akan langsung diadakan diskusi Forum Kultursinema
——
Pameran, diskusi, dan penayangan gratis dan terbuka untuk umum
———
#arkipel #filmexhibition #kultursinema #pameranfilm #c2o #seni #pameran #film #art #exhibition #archive #arsip #surabaya #jawatimur

[HARI INI - PENAYANGAN FILEM]
Program "Jagoan Lokal, Bandit Kolonial"
25 April 2019, 19.00-21.00 WIB
———
Pameran Keliling Kultursinema akan menayangkan dua filem produksi lokal dari dua sutradara pribumi peranakan Tionghoa sebelum tahun 45.
——
Tie Pat Kai Kawin (Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet) | The Teng Chun | 1935 | 42 menit | Hitam-putih | Bersuara |

Filem Tie Pat Kai Kawin (Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet) memilih kisah siluman babi Tie Pat Kai sebagai tokoh utama. Filem ini penuh dengan gambar-gambar fantasi dan trik-trik sinema sederhana. Di tahun 1930-an, filem-filem fantasi siluman dan cerita rakyat Tiongkok lainnya sangat populer di Indonesia. The Teng Chun juga membuat beberapa filem fantasi lainnya yang terinspirasi dari seri filem See You yang diimpor olehnya sendiri dari Shanghai, Republik Tiongkok. Filem ini merupakan filem tertua yang masih tersimpan di Sinematek Indonesia dan filem yang dapat mewakili periode sejarah sinema Indonesia sebelum meledaknya Terang Boelan (1937).

Matjan Berbisik (The Whispering Tiger) | Tan Tjoei Hock | 1940 | 60 menit | Hitam-putih | Bersuara |

Filem ini diproduksi oleh Action Film, salah satu divisi di perusahaan Java Industrial Film yang khusus membuat filem-filem laga. Skenario filem ditulis sendiri oleh sang sutradara, Tan Tjoei Hock. Dalam publikasinya, filem yang memiliki judul dalam bahasa Belanda, De Fluisterende Tijger ini diperuntukkan bagi semua usia, termasuk anak-anak.

Koleksi Sinematek Indonesia
———
#arkipel #filmexhibition #kultursinema #pameranfilm #c2olibrary #seni #pameran #film #art #exhibition #archive #arsip #surabaya #jawatimur #screening #pemutaran

[HARI INI - FORUM KULTURSINEMA]
"Kritik dan Sejarah Penulisan Filem"
24 April 2019, 19.00-21.00 WIB
C2O Library and Collabtive, Surabaya

Pembicara:
M. Bahruddin (Pengajar, Kritikus Filem);
Mahardika Yudha (Seniman, Kultursinema)
——
Berbicara mengenai sejarah filem, ia adalah mencakup sejarah teknologi, sejarah stilistika, sejarah sosial, bahkan sejarah politik. Penulisan sejarah filem adalah menulis deskripsi dan proses perubahan dari persinggungan filem dengan hal-hal di luar filem selain segi intrinsik filem itu sendiri. Pilihan untuk membingkai yang mana adalah tergantung sudut pandang dalam pendefinisian, minat, dan yang paling penting juga, ketersediaan arsip. Selain kritik filem, karya-karya yang lazim ditemukan juga adalah teks akademis yang membahas konteks sosiologis dan budaya dari kultur sinema Indonesia, bahkan menjadikan arsip filem sebagai sumber data untuk kajian sejarah. Namun tulisan yang menggunakan bingkai penulisan sejarah sistematis dan berlaku sebagai kanon sejarah filem belumlah lagi ditulis semenjak Misbach Yusa Biran, Taufik Abdullah, dan S.M. Ardan dengan buku mereka Film Indonesia Bagian I (1900-1950). Selain itu, penulisan sejarah filem Indonesia pun masih menyisakan lubang kajian yang besar yaitu sejarah estetika filem Indonesia.

Dari situasi tersebut, muncul berbagai pertanyaan yang dapat didiskusikan, antara lain: Perlukah penulisan sejarah filem Indonesia yang terpadu? Apa sejatinya karya atau peristiwa tonggak dalam sejarah filem Indonesia? Persoalan-persoalan apa saja yang dikira penting untuk disorot dan dibingkai dalam memahami peta sejarah [dan] kultur sinema di Indonesia? Pemetaan apa yang bisa kita lihat dari perkembangan penulisan filem Indonesia saat ini ? Peluang-peluang apa yang dapat dihasilkan dari penemuan arsip terbaru terhadap penulisan sejarah filem Indonesia? Peluang-peluang apa yang dapat dihasilkan dari arsip filem terhadap penulisan sejarah Indonesia (sosial, kebudayaan, politik, dll)?
——
Pameran, diskusi, dan penayangan gratis dan terbuka untuk umum
——
#arkipel #filmexhibition #pameranfilm #kultursinema #c2o #seni #pameran #film #art #exhibition #archive #arsip #surabaya #jawatimur #discussion #diskusi

PAMERAN KELILING KULTURSINEMA - SURABAYA

Arsip merupakan rujukan data bahwa telah terjadi suatu peristiwa di rentang waktu tertentu. Untuk itu, ia dianggap faktual. Pengarsipan sendiri merupakan upaya mendefinisikan atau mengelompokan kejadian, situasi politik, bahkan status warga negara. Salah satu arsip yang memiliki banyak lapisan pengetahuan adalah sinema. Sebagai seni yang paling kompleks, sinema memiliki kemungkinan utk bisa didekonstruksi untuk berbagai kepentingan ilmu pengetahuan. Tidak hanya untuk pembacaan sejarah sinema, tetapi juga sejarah-sejarah sosial yang pernah ia bekukan. Dalam kesempatan Pameran Keliling Kultursinema, akan berlangsung juga Forum Kultursinema yang mencoba untuk melihat kemungkinan-kemungkinan di dalam memanfaatkan arsip filem; kerja kuratorial atau pemograman dalam membuat pemutaran atau penayangan filem, penulisan sejarah, dan upaya pengelolaan arsip untuk disajikan dengan bentuk kemungkinan lain, seperti pameran ataupun produk seni lainnya, berhubungan dengan konteks sosial, politik, budaya, dan ekonomi.
——
[PAMERAN]
C2O Library and Collabtive, Surabaya
24-28 April 2019
11.00 – 19.00 WIB
-
Tutup 26 April, 15.00-18.00 WIB
——
[FORUM KULTURSINEMA]
"Penulisan Sejarah dari Arsip Filem"
24 April 2019, 19.00-21.00

"Ruang Ruang Menonton dan Arsip Filem"
26 April 2019, 19.00-21.00

"Reproduksi dan Representasi Arsip Filem"
28 April 2019, 19.00-21.00
--
[PEMUTARAN FILEM]
"Jagoan Lokal, Bandit Kolonial"

25 April 2019, 19.00-21.00
Tie Pat Kai Kawin, The Teng Chun, 1935, 42 menit

Matjan Berbisik (The Whispering Tiger), Tan Tjoei Hock, 1940, 60 menit

"Takdir Huyung"

27 April 2019, 19.00-21.00
Calling Australia, Eitaro Hinatsu (Dr. Huyung), 1943, 32 menit

Nippon Present, Jaap Speyer, 1945, 37 menit

Indonesia Calling, Joris Ivens, 1946, 23 menit
——
Pameran, diskusi, dan penayangan gratis dan terbuka untuk umum
——
ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival (@arkipel)
bekerja sama dengan
C2O Library and Collabtive (@c2o_library)
———
#arkipel #filmexhibition #kultursinema #pameranfilm #c2o #seni #pameran #film #art #exhibition #archive #arsip #jawatimur #surabaya

#69PerformanceClub
FRAMED BODY

Dhanurendra Pandji
Manshur Zikri
Maria Deandra
Maria Silalahi
Otty Widasari
Pingkan Polla
Prashasti Wilujeng Putri
Pychita Julinanda
Syahrullah
Taufiqurrahman
Theo Nugraha

Senin, 22 April 2019 - 15.00 WIB
Forum Lenteng (Jl.H.Saidi No.69)

Tubuh adalah bahasa, pengantar pesan dan pernyataan. Tubuh adalah objek, bentuk, serta estetika dan komposisi. Tubuh juga adalah media yang mengantar objek diam menjadi sarat imajinasi baru. Melalui gerak, tubuh meliarkan hakikat asalinya. Seni membingkai hakikat asali tubuh menjauh dari konsep etika formal. Sejauh mana pertimbangan moralitas memiliki konstruksi yang bisa dihadirkan sejajar dan berdialog dengan publik?
-
Body is a language, messenger, and a statement. Body is an object, a form, an aesthetic, and a composition. Body is also a medium to transform objects into a liberated new imagination. Through movements, the body absolves its origin. Art frames the origin of the body departs from its formal-ethics principle. Thus, to what extent do morality considerations have constructions that can be presented equally and to communicate with the public at once?

www.69performance.club

-- BESOK HARI TERAKHIR --
[Pameran Tunggal/Solo Exhibition]
———
Dhanurendra Pandji (@dhanupandji)
“REMEMBRANCE OF THINGS PAST”

kurator/curator:
Luthfan Nur Rochman
———
Mediasi ingatan yang difasilitasi oleh teknologi media membawa banyak perubahan gaya dan intensi mengingat. Dalam Remembrance of Things Past, Dhanurendra Pandji, seniman partisipan MILISIFILEM Collective, memamerkan karya-karya oil pastel-nya yang ia konstruksi dari memorinya yang tak termediasi. Tajuk pameran ini diambil dari karya magnum opus Marcel Proust, yang berbicara mengenai ulang alik memori dan hidup hari ini. Dalam novelnya, sang narator bercerita mengenai problematika kehidupannya yang berkelindan dengan ingatan-ingatan yang tidak disengaja muncul dari benda-benda yang diinderainya. Munculnya ingatan-ingatan itu menandai refleksi romantik namun juga kritis si tokoh, karena ia digunakan sebagai upayanya memahami dunia dan kehidupan. Artikulasi Pandji mewujud dalam komposisi yang geometris, tampak terukur secara konstruksinya namun diinterupsi oleh tubuh-tubuh opaque yang membuatnya menjadi dinamis. Laku reflektif kritis yang Pandji lakukan atas ingatannya ini menjadi tawaran untuk tidak memperlakukan masa lalu dengan cara yang semata romantik.

Foto: Kelas 69 Performance Club di tengah pameran Dhanurendra Pandji
———
Forum Lenteng
Jalan H. Saidi
No. 69
Jakarta Selatan - 12530
-
Pameran
22 Maret - 18 April 2019
13.00 - 21.00 WIB
———
Didukung oleh/Supported by:
@forumlenteng
@milisifilem
———
#dhanurendrapandji #remembranceofthingspast #forumlenteng #milisifilem #pameran #art #exhibition

Kelas Roman Picisan @milisifilem membongkar filem The Godfather Part I dari segi penulisan.

#milisifilem #forumlenteng #film #studygroup

[LUSA — DISKUSI]
[Pameran Tunggal/Solo Exhibition]
———
Dhanurendra Pandji (@dhanupandji)
“REMEMBRANCE OF THINGS PAST”

Diskusi
Sabtu, 13 April 2019
19.00 - 21.00 WIB

Bersama:
Dhanurendra Pandji
Luthfan Nur Rochman (Kurator)
Dini Adanurani (Penulis, Partisipan MiLISIFILEM, Mahasiswa Filsafat UI)
———
Forum Lenteng
Jalan H. Saidi
No. 69
Jakarta Selatan - 12530
-
Pameran
22 Maret - 18 April 2019
13.00 - 21.00 WIB
———
Didukung oleh/Supported by:
@forumlenteng
@milisifilem
———
#dhanurendrapandji #remembranceofthingspast #forumlenteng #milisifilem #pameran #art #exhibition

DISKUSI
[Pameran Tunggal/Solo Exhibition]
———
Dhanurendra Pandji (@dhanupandji)
“REMEMBRANCE OF THINGS PAST”

Diskusi
Sabtu, 13 April 2019
19.00 - 21.00 WIB

Bersama:
Dhanurendra Pandji
Luthfan Nur Rochman (Kurator)
Dini Adanurani (Penulis, Partisipan MILISIFILEM, Mahasiswa Filsafat UI)
———
Forum Lenteng
Jalan H. Saidi
No. 69
Jakarta Selatan - 12530
-
Pameran
22 Maret - 18 April 2019
13.00 - 21.00 WIB
———
Didukung oleh/Supported by:
@forumlenteng
@milisifilem
———
#dhanurendrapandji #remembranceofthingspast #forumlenteng #milisifilem #pameran #art #exhibition

[HARI INI - Senin Sinema Dunia]

NAZARIN
Luis Bunuel, 1959
Meksiko (94 menit)
8 April 2019 / 19.00 WIB
di Forum Lenteng
Jalan H. Saidi No. 69, Tanjung Barat
Subteks Indonesia
GRATIS dan Terbuka untuk Umum
-
Nazarín adalah seorang Imam Katolik. Ia mencoba untuk hidup dalam kemurnian iman dan menjalankan kejujuran dengan ketat dengan prinsip-prinsip
Kristiani. Tapi, kenyataan yang ia hadapi hanyalah ketidakpercayaan dan kebencian, dimana ia tinggal di sekitar para pelacur lokal.
-
#SeninSinemaDunia #worldcinema #luisbunuel #mexico #film #cinema #screening

[HARI INI]
Jangan lewatkan, hari terakhir Pameran Keliling Kultursinema, menghadirkan diskusi bertajuk Reproduksi dan Representasi Arsip Filem dengan pembicara Agan Harahap @aganharahap (Seniman), Lisistrata Lusandiana @lisistrata_ (Direktur IVAA - Indonesian Visual Art Archive @ivaa_id), dan Afrian Purnama (Kurator dan penulis, Kultursinema) . Dimoderatori oleh Prashasti Wilujeng Putri (Kultursinema).

Suatu kejadian di masa lampau yang diarsipkan oleh lembaga pengarsipan tertentu, yg telah diberi konteks latar belakang situasi pada saat suatu kejadian berlangsung, tentulah dimaksudkan untuk menggiring pemirsa ke arah opini tertentu, dan ini pastinya merupakan hal yang politis. Kita sebagai pembaca arsip di masa kini tentulah punya latar belakang dan persepsi sendiri akan arsip tersebut. Bila kita membicarakan arsip dari sudut pandang dan bingkaian kini, tentu ada cukup banyak kemungkinan pembacaan akan arsip tersebut. Pembacaan kontemporer akan suatu arsip sangat memungkinkan untuk mengabaikan narasi tunggal yang disampaikan oleh suatu arsip dan kemudian menghasilkan narasi-narasi alternatif yang membuat pembacaan sejarah menjadi lebih signifikan.

Panel ini ingin membahas bagaimana para pembicara melihat dan menginterpretasikan arsip, kemudian mengelola arsip menjadi suatu bentuk produk seni baru yang tentunya memiliki relevansinya sendiri, dan kemudian bisa membuka kemungkinan-kemungkinan interpretasi baru akan sejarah oleh pemirsa.
——
#arkipel #filmexhibition #pameranfilm #kultursinema #screening #filmscreening #kedaikebun #seni #pameran #film #art #exhibition #jogja #artevent #discussion #forum #history #archive #filmarchive #diskusi #arsip #yogyakarta #cinemaexpanded

[HARI INI - PENAYANGAN FILEM & DISKUSI]
Program "Jagoan Lokal, Bandit Kolonial"
6 April 2019, 19.00-21.00 WIB
———
Sejak awal tahun 20-an, filem seperti The Mark of Zorro (1920) telah ditayangkan kepada masyarakat Hindia Belanda. Dan di pertengahan tahun 20-an, filem Don K de zoon van zorro (Don Q Son of Zorro) (1925) menjadi filem yang sangat digemari oleh masyarakat bumiputera. Larisnya filem tersebut telah mendorong perusahaan-perusahaan filem Hindia Belanda yang masih sangat muda tersebut mencoba mencari peruntungan dengan membuat filem-filem bertema sama dengan Hollywood. Alhasil, berbagai wacana hibriditas sinema pun bermunculan.
-
Untuk melihat bagaimana estetika sinema pada filem-filem jagoan di masa kolonial Belanda, setidaknya masih tersimpan filem yang dapat sedikit memberi gambaran dan membuka pewacanaan untuk menelusuri lebih dalam tentang bagaimana wajah sinema kita di masa itu yang bahkan, hingga hari ini, wajah estetika tersebut masih dapat kita saksikan di filem-filem Indonesia sekarang.
——
Gagak Item (Black Crow) | Joshua Wong & Othniel Wong | 1939 | 27 menit (film excerpt) |
Filem drama kepahlawanan yang dibumbui komedi ini dimainkan oleh Rd. Mochtar dan Roekiah, sedang cerita ditulis oleh Saeroen, yang juga penulis cerita filem Terang Boelan. Terang Boelan effect juga menginspirasi filem ini dan menghadirkan sedikitnya empat adegan musikal yang melibatkan komponis Hugo Dumas dan penyanyi keroncong Annie Landouw yang tergabung dalam kelompok keroncong moderen, Lief Java.

Srigala Item (The Black Wolf) | Tan Tjoei Hock | 1941 | 38 menit (film excerpt) |
Judul bahasa Belanda-nya De Zwarte Wolf. Diputar tidak hanya di bioskop-bioskop bagi penonton kalangan kelas bawah, tetapi juga diputar di bioskop-bioskop kelas atas seperti Cinema Palace dan Princess. Filem ini terinspirasi dari cerita Zorro yang telah dibuat filem dan ditayangkan di Hindia-Belanda pada tahun 20-an. Berbeda dengan filem-filem lain yang disutradarai Tan Tjoei Hock yang juga memegang kamera, penata kamera filem ini dipegang oleh The Teng Gan, adik The Teng Chun.
——
Koleksi Sinematek Indonesia
———
#arkipel #filmexhibition #kultursinema #pameranfilm #filmscreening #pemutaranfilm

Most Popular Instagram Hashtags