[PR] Gain and Get More Likes and Followers on Instagram.

fanfiction.afgan.rossa fanfiction.afgan.rossa

1791 posts   9879 followers   85 followings

Fanfic Afross Lover 

#FROM_THE_BEGINNING (HOPE)
πŸ“· Owner
Part 124

My Beautiful Violinist 9 end
Apalagi ketika melihat dua kaki Rossa. Rossa tak ingin merusak suasana. Dia menggenggam tangan Afgan
Rossa : Bantu aku untuk memilih tetap memiliki harapan, bangkit dan bahagia
Afgan : Tentu
Rossa : Aku anggap ini hadiah pernikahan darimu
Afgan : Kalau begitu, bisa aku minta hadiah pernikahan darimu juga?
Mendadak Rossa tersipu malu
Rossa : Aapa? Kamu mau minta hadiah apa?
Afgan membalas erat genggaman Rossa
Afgan : Menurutmu apa?
Rossa : Eeh. Jangan balik nanya
Afgan mendekatkan wajahnya. Rossa terkesiap. Ada rasa hangat dan nyaman sekaligus kikuk saat Afgan begitu dekat denganya. Bisikan lirih di telinganya
Afgan : Keberatan jika aku ingin mendengarnya sekarang? Mainkan untukku
Rossa menghela nafas sesaat. Meski hanya beberapa detik, Afgan telah sukses membuat jantungnya berlomba.
Rossa : Iiya. Dengan senang hati
Rossa perlahan mengangkat biolanya. Meletakkan di pundak kirinya. Matanya terpejam sesaat. Nomor pertama sebagai pembuka. Salut D'Amor dari Edward Elgar. Afgan tahu lagu itu. Mungkinkah Rossa memang memainkannya sebagai hadiah pernikahan mereka? Dari hati? Seperti Edward Elgar yang mempersembahkan lagu itu sebagai hadiah pertunangan untuk Caroline Alice Roberts sang kekasih? Afgan berharap begitu. Selanjutnya, Rossa mengajak Afgan menebak nomor yang dia mainkan. Afgan menikmatinya. Lagu demi lagu. Seperti sebuah live performance. Tak menyangka jemari Rossa begitu mahir memainkan biola. Seakan jari itu memiliki mata. Afgan berdecak kagum. Saat tangan kanannya menggesek, saat jemari kirinya lincah menekan nada. Saat Rossa memberi emosi pada lagu yang dia mainkan. Saat cahaya surya ikut memantulkan kecantikannya. Saat pagi turut membalut melodinya. Satu kata. Perpaduan yang sempurna. Rossa, biola dan sinar mentari pagi. Here she is. My Beautiful Wife, My Beautiful Rossa, My Beautiful Violinist

#FROM_THE_BEGINNING (HOPE)
πŸ“· As marked
Part 123

My Beautiful Violinist 8
Berubah jadi genangan airmata yang akhirnya jatuh. Dia hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Memeluk biola itu seperti memeluk kenangan Mamanya. Afgan memberanikan diri merengkuh kepala Rossa di pundaknya. Memintanya bersandar di sana. Rossa tak menolak. Dia memang membutuhkannya
Afgan : Boleh aku tahu, kenapa kamu suka main biola?
Rossa : Bagiku pribadi. Bermain biola mirip dengan mencintai
Afgan : Kenapa?
Rossa : Sama sama pekerjaan hati. Kadang, apa yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata, bisa aku curahkan lewat biola
Afgan : Benar juga
Rossa : Darimana kamu membeli biola ini? Setahuku ini handmade Gan. Dari kayu maple dan eboni
Afgan : Ingat saat aku bilang baru dari Italia?
Rossa : Ya
Afgan : Bukan hanya Italia. Tapi juga negara Eropa lainnya. Untuk mendapat biola ini
Rossa : Biola handmade punya banyak kelebihan
Afgan : Aku minta tolong temanku untuk mengantarku ke seorang Luthier (master pembuat biola) dan memesan biola ini padanya. Coba tebak siapa lagi yang aku temui di sana?
Rossa : Siapa ?
Afgan : Seeorang kolektor Inggris yang mengoleksi biola Stradivarius
Rossa melonjak antusias
Rossa : Stradivarius? Sungguh? Itu legenda Gan. Setiap pemain biola bermimpi bermain dengan biola itu. Tidak banyak yang tersisa di seluruh dunia
Afgan : Dia hanya meminjamkannya untuk dimainkan di konser amal. Selebihnya dia simpan. Mau lihat fotonya?
Afgan membuka galeri hpnya. Menampilkan foto saat dia bersama seorang Luthier, juga foto dengan sang kolektor. Lengkap dengan biolanya yang melegenda. Rossa menatap tak berkedip. Namun lama lama seperti protes ke Afgan
Rossa : Kamu tidak pernah cerita apapun. Bahkan sejak pulang dari Italia
Afgan : Bagian dari kejutan ini
Rossa : Dan aku benar benar terkejut
Afgan : Katakan padaku dengan jujur. Apa kamu suka? Kamu akan bermain biola lagi?
Rossa : Aku suka dan aku akan memainkannya lagi. Terimakasih
Afgan : Bukankah semua karena aku? Biola kesayanganmu. Pemberian Mamamu hancur gara gara kecelakaan itu. Sewajarnya jika aku menggantinya meski tidak dengan kenangannya. Maafkan aku
Bayangan kecelakaan itu kini mendominasi lagi

#FROM_THE_BEGINNING (HOPE)
πŸ“· Ig Kak Afgan
Part 122

My Beautiful Violinist 7
Pagi datang
Afgan : Ayo cepat. Nanti keburu terlambat
Afgan mengangkat Rossa dari tempat tidurnya
Afgan : Jangan menoleh ke belakang. Sembunyi saja di dadaku
Rossa : Ada apa di belakang?
Afgan : Itu untuk nanti. Sekarang kita lihat beberapa menit lagi ke sana. Ke arah timur
Dua pasang mata menuju satu. Arah semburat merah yang kian lama kian nyata. Cahaya lembut menyeruak di timur cakrawala. Sang fajar menyingsing dari peraduannya. Rossa terkesiap
Rossa : Meski puluhan tahun aku membuka mata dan melihat matahari terbit. Tak akan pernah bosan. Selalu mempesona
Afgan : Segelap apapun malam yang kita lewati, pagi selalu setia di ujungnya. Seterik apapun siang, malam telah menunggu di ujung satunya. Apapun yang terjadi pada kita. Waktu tak berhenti. Waktu terus berganti dan berjalan. Malam punya indahnya sendiri. Seperti pagi yang punya pesonanya sendiri. Karenanya. It is our choice. Untuk bahagia atau tidak melewati hari. Kita yang memutuskan untuk terus menghidupkan harapan atau menguburnya
Tertegun. Rossa menoleh ke Afgan. Mata mereka beradu. Afgan benar. Ini pilihan kita. Dengan segala cobaan yang dia terima selama ini, menjadi pilihan Rossa. Untuk tetap terpuruk dalam kesedihan atau sebaliknya. Bangkit dan bahagia. Rossa mengangguk lembut
Afgan : Aku tidak berani menjanjikan terlalu banyak pada pernikahan kita Cha. Tapi aku ingin membantumu. Mewujudkan mimpi dan bahagiamu
Lalu bagaimana dengan bahagiamu Gan? Batin Rossa sambil menunduk
Afgan : Aku ada sesuatu untukmu
Rossa : Apa?
Afgan mengambil sesuatu dari bawah tempat duduknya. Sebuah biola
Afgan : Aku tahu, biola ini tidak akan pernah bisa menggantikan biola pemberian Mamamu. Tapi aku yakin. Jika Mamamu masih ada, Insya Allah beliau ingin kamu tetap bermain biola. Aku mohon. Terima biola ini dan mainkan lagi
Rossa meraih biola dari tangan Afgan. Jemarinya gemetar mengusapnya. Teringat sang Mama. Terlalu banyak kenangan di sana. Afgan benar lagi. Dia tdk akan membohongi dirinya lagi. Dia menyukai semua hal tentang biola. Mungkin karena dirinya atau karena kesukaan sang Mama yang menurun padanya. Mata Rossa berkabut

#FROM_THE_BEGINNING
.
.
Not update
.
.

Untuk part 120 ke atas, kemungkinan besar mimin bakal memakai berbagai istilah dan karya musik terutama yang berhubungan dengan biola. Sesuai karakter Rossa Claretta Sutanto. Namun mimin jujur banyak tidak tahu tentang biola. Mimin berusaha mencari bahan referensinya. Jika ada pemakaian istilah atau karya yang kurang tepat atau salah, mohon bantuannya dengan sangat untuk masukan dan kritiknya via DM agar mimin bisa memperbaikinya
.
.
Thank you so much and love you all 😊😊😊
.
.
Pict Afross : owners edited
Pict violin. Cr : ig violin.addict
πŸ“· Ig belles_paroles.belles_images
.
.
Insya Allah hari ini boom part 😘😘😘

#Repost @itsrossa910 (@get_repost)
・・・
Sending you my love 😘

Make up & hairdo by @ani2medy
πŸ“· @ricoleonard
.
.
@bigapplemusicawards_official #BAMA2017DiamondEdition_RossaRoslaina #BAMA2017

#Repost @afgansyah.reza (@get_repost)
・・・
Shooting something, somewhere. Top of the morning! Sending all good vibrations to all of you.
.
.
@dafbamaawards #DAFBAMA2017_AfgansyahReza #DAFBAMA2017

#FROM_THE_BEGINNING (HOPE)
πŸ“· Owner
Part 121

My Beautiful Violinist 6
Afgan : Tunggu dulu. Dia bilang sebenarnya dia juga menyukaiku. Tapi dia punya cowok. Jadi nggak bisa
Rossa : Kamu percaya? Mungkin dia hanya kasihan sama kamu kali
Afgan : Enak saja. Aku nggak sembarangan nembak Cha. Aku selidiki dulu. Dia sering salting. Kata temannya, dia memang ada rasa. Tahu apa yang dia bilang setelah menolak ku?
Rossa : Apa?
Afgan : Gan, meski kita nggak jadian. Boleh nggak aku makan bekal dari kamu. Aku laper soalnya
Tawa keduanya pecah bersamaaan
Rossa : Cinta monyetnya sama2 menyedihkan
Afgan : Tp aku cepet move on kok waktu itu
Rossa : Apa?
Rossa memukul pelan lengan Afgan
Afgan : Aduh
Waktu berjalan cepat. Hampir tengah malam
Afgan : Pindah ke dalam Cha. Ayo
Mirip seperti sebuah kamar hotel yang lengkap. Satu bed, toilet, dapur mini dan televisi
Rossa : Malam yang indah. Thanks Gan
Afgan : Happy?
Rossa : Sangat. Tadi itu obrolan terlama kita sejak kita menikah. Tidak. Obrolan terlama sejak kita bertemu
Afgan : Nanti kita buat lebih lama lagi
Rossa : Boleh
Afgan : Good night
Tak lama. Dengkuran halus terdengar. Nafas teratur Rossa yang telah terbawa dalam mimpi. Wajahnya begitu damai dan cantik. Seketika degub jantung Afgan berpacu. Tak kuasa berpaling. Dia beranikan diri mengecup kening Rossa dengan sebait harapan yang muncul dan mengalir begitu saja
.
. " Aku ingin melihatmu seperti ini selamanya. Ungkapan bahagia dan seulas senyum sebelum tidurmu. Aku harap kamu juga akan senang dengan kejutanku besok pagi. Tunggu Cha"
.
.
Rossa bergerak. Refleks Afgan mundur dan menetralkan detak jantungnya. Mata indah Rossa terbuka
Rossa : Belum tidur Gan?
Afgan : Aapa? Sebentar lagi
Afgan menutupi rasa gugupnya dengan menata bantal di sofa
Rossa : Pasti kamu tidak nyaman tidur di sofa itu
Afgan : Nyaman kok. Tenang saja
Rossa : Buktinya kamu belum tidur juga. Aku saja terlelap tadi
Afgan : Sekarang aku tidur. Eeh. Sampai jumpa. Maksudku sampai jumpa besok pagi
Afgan pura pura memejamkan matanya. Namun hatinya tak juga terpejam. Apalagi debaran di dadanya. Masih saja bergejolak.

#FROM_THE_BEGINNING (HOPE)
πŸ“· Owner
Part 120

My Beautiful Violinist 5
Rossa menatap takjub. Jujur belum pernah dia berada di atap gedung tinggi seperti sekarang. Belum lagi ketika mendongak ke atas
Rossa : Pertama kali buatku. Di tempat setinggi ini.
Afgan : Jika sedang jenuh, banyak masalah. Disinilah aku. Melihat bintang semalaman, tidur di sini. Dan melihat matahari terbit esok hari. Seperti di charge
Rossa : Tidur di sini?
Afgan menunjuk bangunan kecil tak jauh dari mereka
Afgan : Kalau sudah kedinginan, aku tidur di sana
Afgan membuka jasnya dan memakaikan ke Rossa. Lalu merebahkan badannya. Menepuk tempat di sebelahnya. Agar Rossa melakukan hal yang sama
Afgan : Lebih asyik melihat langit sambil rebahan begini
Rossa : Iya. Seperti beratap langit
Afgan : Lengkap dengan bintang yang tak terhingga jumlahnya. Kamu bisa membayangkan rasinya?
Rossa : Bisa
Tangan Rossa terangkat ke atas. Bergerak. Menunjuk salah satu rasi bintang. Bergantian dengan Afgan. Diselingi canda tawa sekali kali. Hingga
Rossa : Waktu SMA, ada yang mengajakku melihat bintang
Afgan : Cinta monyet kamu?
Rossa tergelak
Rossa : Bisa di bilang begitu
Afgan : Ceritakan padaku
Rossa : Dia anak pindahan. Ada keturunan bulenya. Inggris. Badannya jangkung. Namanya Tom. Ada yang nyeletuk manggil dia Tom si Jerapah. Aku marah. Lalu membela Tom habis2 an
Afgan : Kamu berani?
Rossa : Kan kasihan. Anak baru pindah, di olok. Sebenarnya aku takut sih. Yang ngolok dia badannya besar. Anak paling bandel satu sekolah
Gantian Afgan yang tertawa
Afgan : Terus?
Rossa : Tom bilang gini, " Thanks udah membela gue. Tapi gue nggak masalah kok. Gue yakin dia hanya iri sama gue, siapa nama lo?" Lalu kami jadian. Dia suka main gitar electric. Kami pernah tampil bersama saat prom Kakak kelas
Afgan : Sekarang?
Rossa : Nggak tahu. Tiba tiba dia pindah lagi ke Inggris. Nggak omong apa2 sama aku. Hilang kontak sampai sekarang
Afgan : Sedih
Rossa : Biasa. Namanya juga cinta monyet. Gimana cinta monyetmu?
Afgan : Namanya Flo. Cantik. Manis. Aku nembak dia pakai bekal makan siang
Rossa : Bekal? Nggak romantis banget sih. Hasilnya?
Afgan : Di tolak
Rossa : Sudah ku duga. Makanya nembak itu pakai bunga atau coklat

Kak Afgan
Dulu dan sekarang
.
.
Let's suport @afgansyah.reza in @dafbamaawards
Dengan cara mencantumkan hastag #DAFBAMA2017_AfgansyahReza #DAFBAMA2017 pada postingan di Instagram, Twitter dan Facebook

Let's support @itsrossa910 in @bigapplemusicawards_official
Dengan mencantumkan hastag #BAMA2017DiamondEdition_RossaRoslaina #BAMA2017 pada postingan di Instagram, Twitter & Facebook .
.
Pict : owner

#FROM_THE_BEGINNING (HOPE)
πŸ“· Ig Om Pontjo
Part 119

My Beautiful Violinist 4
Afgan : Lusa aku harus masuk kantor. Maaf. Tdk ada honeymoon atau sejenisnya
Afgan merasa bersalah. Namun keputusan Papanya tdk bisa dia bantah. Rossa tersenyum dengan arti yang membingungkan
Rossa : Untuk pasangan seperti kita, apa perlu bulan madu? Benar kan?
Afgan terhenyak
Afgan : Mungkin. Kita bisa ambil jalan jalannya. Liburannya. Jika di rumah terus, aku takut kamu bosan. Setidaknya ada kesibukkan. Kegiatan
Rossa menunduk ke kedua kakinya
Rossa : Akan sangat merepotkan. Liburan dgn orang sepertiku. Kemana2 pakai kursi roda. Tdk semua tempat bisa di kunjungi. Tdk leluasa
Deg
Rossa : Lagipula, kesibukan apa yang bisa aku punya
Rasa bersalah lagi. Afgan ingin berkata jika dia tdk masalah dengan itu. Tak merasa repot.
Afgan : Cha, aku
Rossa : Di rumah saja tdk apa. Tolong jangan di bahas. Bagiku, Papa dan Mama tak jadi bercerai, aku sangat bersyukur. Masalah yang lain, jangan terlalu kamu pikirkan. Aku ke kamar dulu
Rossa memutar kursi rodanya
Afgan : Nanti malam
Rossa : Ya?
Afgan : Aku akan mengajakmu ke suatu tempat
Rossa : Kemana?
...
Di mobil. Afgan masih merahasiakan kemana mereka akan pergi
Afgan : Kalau sampai, kamu jg bakal tahu
Rossa : Hemm. Terimakasih bajunya. Bagus sekali
Afgan memang membelikan satu gaun untuk di pakai Rossa malam itu. Afgan sempat speechless melihat Rossa memakainya. Pas sekali. Mobil berhenti di gedung tinggi Pramudya Group. Seorang satpam bergegas menghampiri Afgan
Satpam : Siap semua Pak
Afgan : Terimakasih
Rossa : Ini
Afgan : Tempatku bekerja
Rossa : Oh. Yang kamu jadi CEO nya?
Afgan diam dan mengalihkan pertanyaan Rossa. Belum saatnya Rossa tahu jika dia bukanlah CEO lagi. Afgan mendorong kursi roda Rossa ke arah lift. Ke lantai tertinggi
Afgan : Sampai di sini. Aku akan menggendongmu
Rossa merasa melayang dan sekejab telah ada di gendongan Afgan. Tangga demi tangga Afgan naiki hingga tiba di puncak. Di atap gedung. Terus berjalan menuju sebuah bangunan kecil di sana
Afgan : Aku ingin mengajakmu. Melihat langit dan bintang. Malam ini. Dari sini. Dari tempat favoritku

Most Popular Instagram Hashtags