cintaquran_ cintaquran_

1841 posts   104562 followers   74 followings

Instagram Cinta Al Quran  🎋Alquran Solusi & Inspirasi Kehidupan . 📑Silakan Repost . 🐦Follow @PesantrenYatim👈 . 👇👇Dukung Pembangunan Pesantren Yatim👇KLIK

http://www.KitaBisa.com/PesantrenYatim

@cqfoundationid - Ilmu Itu Wajib Diamalkan
.
.
Syu’bah bin al-Halaj adalah salah seorang ulama besar yang memiliki banyak murid. Namun, Syu’bah tidak suka kepada murid-muridnya yang tidak mengamalkan ilmu yang mereka pelajari. Terkait ini, Imam Abu Dawud berkisah: Suatu ketika kami sedang berada di rumah Syu'bah untuk menulis dan menyusun kitab. Tiba-tiba, seorang pengemis datang dan Syu'bah berkata, "Bersedekahlah kalian untuk pengemis itu! Sungguh, Abu Ishaq pernah menyampaikan kepadaku suatu hadis dari Abdullah bin Mi'qal, dari Adi bin Hatim bahwa Rasulullah telah  bersabda, ‘Jagalah diri kalian dari azab neraka sekali pun dengan (bersedekah) sebutir kurma.’" (HR Muttafaq ‘alaih).
.
.
Namun, meski telah disampaikan hadis tersebut, tetap saja tidak ada yang mau mengeluarkan sedekah. Lalu Syu'bah berkata lagi, "Sungguh, Amir bin Murrah pernah menyampaikan satu hadis kepadaku, dari Haitsamah, dari Adi bin Hatim bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Jagalah diri kalian dari azab neraka sekalipun dengan (bersedekah) setengah biji kurma. Jika kalian tidak memilikinya, (bersedekahlah) dengan berkata yang baik.’" (HR al-Bukhari).
.
.
Meski demikian, tetap saja tidak ada yang mau mengeluarkan sedekah. Lalu Syu'bah berkata untuk ketiga kalinya, menyampaikan hadis senada dari jalur lain, yakni dari Muhalla adh-Dhabi,  dari Adi bin Hatim, dari Rasulullah saw. (HR al-Bukhari).
.
.
Lagi-lagi tak ada satu pun dari para muridnya yang mau bersedekah. Kemudian Syu'bah berkata dengan nada marah, "Pergilah kalian! Sungguh, aku tidak akan mengajarkan hadis kepada kalian selama tiga bulan!"
.
.
Selanjutnya Syu'bah masuk ke rumahnya. Ia lalu mengambil makanan dan memberikannya kepada pengemis itu sambil berkata, "Ambillah. Sungguh ini adalah jatah makanan kami hari ini." (Adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubalâ, 7/227-228). .
.
.
CintaQuranFoundation
Satu hati menggemakan #IndonesiaCintaQuran
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Call / WA / SMS :0812 8080 2005
Instagram, Facebook, Twitter: @cqfoundationid

@cqfoundationid - Adab Dulu, Baru Ilmu
.
.
Adab (akhlak) sesungguhnya lebih utama daripada ilmu. Adab (akhlak)-lah—bukan ilmu—yang menjadi ukuran baik-buruknya seseorang. Bahkan adab (akhlak) menjadi ukuran kesempurnaan keimanan seorang Muslim. Itulah yang ditegaskan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya, “Sungguh Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlak (adab)-nya.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan Ibn Majah).
.
.
Karena itu wajar jika Ikrimah, salah seorang tokoh tâbi’în, mengajari kita agar selalu memiliki akhlak mulia karena akhlak mulia adalah landasan Islam. Kata Ikrimah, sebagaimana penuturan Ibrahim, “Li kulli syay’[in] asâs[un] wa asâs al-Islâm al-khuq al-hasan (Segala sesuatu memiliki asas. Asas Islam adalah akhlak yang luhur).”
.
.
Hadhratusy Syaikh Hasyim al-Asy’ari dalam kitabnya, Irsyâd as-Sâri, juga mengungkap pentingnya adab (akhlak), “Tauhid itu mewajibkan iman. Orang yang tidak punya iman berarti tidak punya tauhid. Iman itu mewajibkan syariah. Orang yang tidak punya syariah berarti tidak punya iman dan tidak punya tauhid. Syariah itu mewajibkan adab. Orang yang tidak punya adab berarti tidak punya syariah, tidak punya iman dan tidak punya tauhid.”
.
.
Karena pentingnya adab (akhlak), Imam Ibnu al-Mubarak, seorang ulama besar ahli hadis, pernah berkata, “Aku belajar adab selama tiga puluh tahun dan aku belajar ilmu selama dua puluh tahun.”
.
.
Wajarlah jika para ulama salafush shalih menegaskan, “Al-Adabu fawqa al-‘ilmi (Adab itu di atas ilmu).
.
.
Dengan redaksi yang sedikit berbeda, mereka juga mengatakan, “Ta’alamû al-hilm qabla al-‘ilm (Pelajartilah kelembutan hati (adab) sebelum mempelajari ilmu).”
.
.
Bagaimana dengan kita? .
.
.
CintaQuranFoundation
Satu hati menggemakan #IndonesiaCintaQuran
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Call / WA / SMS :0812 8080 2005
Instagram, Facebook, Twitter: @cqfoundationid

@cqfoundationid - Malaikat Menyimak Bacaan al-Quran Kita
.
.
Di antara para malaikat ada yang mempunyai tugas khusus. Mereka turun ke bumi khusus untuk mendengarkan bacaan orang yang membaca al-Quran.
.
.
Abu Said al-Khudri ra. bertutur: Pada suatu malam, Usaid bin Hudhair membaca (surat al-Kahfi) di tempat penambatan kudanya. Tiba-tiba kudanya meloncat. Ia membaca lagi. Kuda itu pun meloncat lagi. Kemudian ia membaca lagi. Kuda itu lagi-lagi meloncat kembali.
.
.
Usaid berkata, “Aku khawatir kuda itu akan menginjak Yahya. Aku pun berdiri ke arahnya. Ternyata (saya melihat) sepertinya ada zhullah (sesuatu yang menaungi) di atas kepalaku; di dalamnya terdapat cahaya yang menjulang ke angkasa hingga aku tidak lagi melihatnya.
.
.
Kamudian pada pagi harinya, aku menemui Rasulullah saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, semalam aku membaca al-Quran di tempat penambatan kudaku. Tiba-tiba kudaku meloncat.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Bacalah, wahai Ibnu Hudhair.’ Kemudian aku pun membacanya lagi. Kuda itu juga meloncat kembali.
.
.
Beliau bersabda, ‘Bacalah, wahai Ibnu Hudhair.’ Kemudian aku pun membacanya lagi.
.
.
Kuda itu juga meloncat kembali. Beliau bersabda lagi, ‘Bacalah, wahai Ibnu Hudhair.” Kemudian sesudah itu, saya beranjak.
.
.
Saat itu Yahya dekat dengan kuda. Saya khawatir kuda itu akan menginjak dia. Kemudian saya melihat sesuatu seperti zhullah (sesuatu yang menaungi) yang di dalamnya terdapat cahaya yang naik ke atas angkasa hingga saya tidak lagi melihatnya.
.
.
Kemudian Rasulullah saw. pun bersabda, ‘Itu adalah malaikat yang sedang menyimak bacaanmu. Sekiranya kamu terus membaca, niscaya pada pagi harinya manusia akan melihatnya dan malaikat itu tidak bisa menutup diri dari pandangan mereka.’” (HR Muslim). .
.
.
CintaQuranFoundation
Satu hati menggemakan #IndonesiaCintaQuran
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Call / WA / SMS :0812 8080 2005
Instagram, FaceBook, Twitter:@cqfoundationid

Haji Mabrur dan Ciri-cirinya
.

Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji tentu ingin meraih haji mabrur. Pertanyaannya: Apa yang disebut haji mabrur? Jawabannya, sebagaimana kata al-Hasan, “Haji mabrur adalah ia yang kembali dari berhaji menjadi seorang yang zuhud terhadap dunia dan rindu terhadap akhirat.” (As-Suyuthi, Durr al-Mantsûr, I/473).
.

Ciri lain haji mabrur ditegaskan oleh Baginda Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Haji mabrur itu tidak ada balasannya selain surga.” Rasul saw. kemudian ditanya, “Apa ciri haji mabrur itu.” Beliau menjawab, “Selalu berkata-kata yang baik dan biasa memberi makan (kepada orang-orang yang membutuhkan, pen.) (Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb, II/39).
.

Menurut Imam al-Ghazali, ciri-ciri haji mabrur itu adalah pelakunya (saat kembali dari menunaikan ibadah haji) menjadi orang yang zuhud terhadap dunia, selalu rindu terhadap akhirat (surga) dan senantiasa berusaha mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah Pemilik Ka’bah setelah berjumpa dengan Ka’bah (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, I/272).
.

Imam al-Hasan ra. pernah ditanya, “Apa ciri haji mabrur?” Beliau pun menjawab, “Sungguh tanda ibadah haji diterima oleh Allah (haji mabrur) adalah yang menjadikan pelakunya meninggalkan berbagai maksiat, mengganti teman-temannya yang berperilaku buruk dengan orng-orang shalih, mengganti majelisnya yang penuh dengan senda-gurau dan kelalaian dengan majelis yang dipenuhi dengan zikir dan kewaspadaan. Siapa saja yang selaras perilakunya dengan apa yang disebutkan, berarti ibadah hajinya diterima oleh Allah (haji mabrur).” (Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb, II/44).
.

Alhasil, haji mabrur adalah haji yang mewujudkan ketakwaan pada pelakunya.
. Satu Hati Menggemakan #IndonesiaCintaQuran
.

Tausiyah inspiratif lainnya visit & follow :
www.CintaQuran.com
Instagram ➡@cintaquran.id
twitter : @CintaQuranID
Facebook : CintaQuranID
Telegram : Sahabat Pecinta Quran

Sahabat Cinta Quran
yuk dibaca semoga bermanfaat🙏
.

Rumah Tangga Yang Diridhai Allah SWT
.

Tak dipungkiri, banyak pasangan yang sudah menikah, mengarungi kehidupan suami-istri, punya keturunan dan menikmati segala fasilitas hidup yang dibutuhkan, tetapi tidak merasakan kebahagiaan dalam berkeluarga. Kehidupan rumahtangganya seolah jauh dari kerberkahan. Mengapa hal demikian terjadi? Jawabannya boleh jadi terletak pada sabda Rasulullah saw. berikut, “Siapa saja yang menikahi wanita karena kehormatan (jabatan)-nya, Allah SWT hanya akan menambah kehinaan. Siapa saja yang menikah karena hartanya, Allah SWT tidak akan menambah kecuali kefakiran. Siapa saja yang menikahi wanita karena kemuliaannya (yang bersifat duniawi), Allah SWT hanya akan menambah kerendahan. Siapa saja yang menikahi wanita karena ingin menjaga pandangannya, membentengi kemaluannya dan mempererat silaturahmi maka Allah SWT akan memberikan keberkahan-Nya kepada dirinya dan pasangannya.” (HR ath-Thabarani).
.

Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda, “Nikahilah wanita karena agama (ketakwaan)-nya. Sungguh budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama, adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik, tetapi tidak taat beragama, pen.).” (HR at-Tirmidzi dan Abu Dawud).
.

Rasulullah saw. bahkan menegaskan bahwa suami-istri yang taat beragama alias takwa, yakni suami-istri yang shalih-shalihah, adalah modal utama bagi terciptanya kebahagiaan hidup suami-istri dan keberkahan dalam berumah tangga. Dari keduanya akan terlahir putra-putri yang juga shalih dan shalihah. Jika semua unsur pembentuk keluarga ayah, ibu dan anak-anak adalah insan-insan yang bertakwa, itu adalah jaminan bagi terbentuknya keluarga samara (sakinah mawaddah wa rahmah) yang diridhai oleh Allah SWT.
. Satu Hati Menggemakan #IndonesiaCintaQuran
.

Tausiyah inspiratif lainnya visit & follow :
www.CintaQuran.com
Instagram ➡@cintaquran.id
twitter : @CintaQuranID
Facebook : CintaQuranID
Telegram : Sahabat Pecinta Quran

Sahabat Cinta Quran
yuk dibaca semoga bermanfaat🙏🏼
.

Menikah Salah Satu Pintu Rezeki
.

Banyak Muslim yang menunda-nuda pernikahan mereka dengan berbagai alasan. Padahal di antara mereka ada yang sudah punya calon suami/istri. Salah satu alasannya, terutama bagi kaum pria, adalah kekhawatiran akan rezeki setelah menikah. Singkatnya, ia khawatir tidak memiliki kemampuan untuk menafkahi kehidupan rumah-tangganya bersam anak-istrinya. Apalagi pada situasi dan kondisi yang makin sulit secara ekonomi akhir-akhir ini. Padahal menikah justru merupakan salah satu pintu bagi datangnya rezeki dari Allah SWT.
Allah SWT sendiri yang menyatakan demikian, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian serta orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang laki-laki ataupun perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memberikan kecukupan (kekayaan) kepada mereka dengan kurnia-Nya. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Mahatahu (TQS an-Nur [24]: 32).
.

Selain itu Rasulullah saw. pun telah meyakinkan kita melalui sabdanya, “Carilah oleh kalian rezeki melalui pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga).” (HR ad-Dailami).
.

Secara faktual, apa yang djanjikan oleh Allah SWT dan ditegaskan oleh Rasulullah saw. di atas sudah banyak dibuktikan oleh mereka yang berani memutuskan untuk segera menikah. Banyak Muslim yang merasa lebih banyak rezekinya dan lebih berkah hidupnya setelah menikah. Yang pasti, jika ukurannya ekonomi, banyak orang hidup mapan secara materi bukan sebelum menikah, tetapi justru setelah menikah. Tentu harus diakui, semua itu karena bukti dari kebenaran firman Allah SWT dan sabda Rasul-Nya di atas.
.

Jadi, masihkah kita ragu untuk bersegera menikah?
.

Satu Hati Menggemakan #IndonesiaCintaQuran
.

Tausiyah inspiratif lainnya visit & follow :
www.CintaQuran.com
Instagram ➡@cintaquran.id
twitter : @CintaQuranID
Facebook : CintaQuranID
Telegram : Sahabat Pecinta Quran

@cqfoundationid - Meneladani Shalat Malam Para Sahabat .

Allah SWT berfirman (yang artinya): Pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagi kamu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu pada derajat yang terpuji (QS al-Isra' [17]: 79) .

Para sahabat adalah generasi yang paling memahami ayat ini. Sejak permulaan jihad hingga berjumpa dengan Allah SWT, Khalid bin Walid, misalnya, bersama kawan-kawannya, biasa mengerjakan shalat malam berjam-jam dan membaca banyak ayat al-Quran di dalamnya. Ia menangis sehingga membuat yang lain juga menangis. Siapa pun yang pernah berinteraksi dengan mereka saat itu berkomentar, “Khalid dan rekan-rekannya seperti para malaikat dalam wujud manusia.” Barangkali inilah, di samping sebab-sebab lain, salah satu kunci sukses jihad Khalid bin Walid .

Hal yang sama dilakukan oleh Umar bin al-Khaththab ra. Ia pernah berkata, “Jika aku banyak tidur pada malam hari, berarti aku menyia-nyiakan diriku. Jika aku tidur pada siang hari, berarti aku menelantarkan rakyatku." .

Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memang dikenal rajin mengerjakan shalat malam. Padahal sebagai pemimpin negara, kseibukannya sangat luar biasa. Begitu besarnya perhatian beliau terhadap shalat malam, banyak Sahabat ingin meniru beliau. .

Penerusnya, Khalifah Utsman bin Affan ra., biasa meng-khatam-kan al-Quran dalam tempo satu malam. Itu beliau lakukan dalam shalat malamnya! Ini betul-betul terjadi sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis sahih. Semoga kita bisa meneladani mereka .

CintaQuranFoundation
Satu hati menggemakan #IndonesiaCintaQuran
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Call / WA / SMS :0812 8080 2005
Instagram, Facebook, Twitter: @cqfoundationid - #regrann

@Regrann from @cqfoundationid - Menjadi Generasi Terbaik karena al-Quran .

Ibnu Abbas ra. menuturkan bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw. "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling Allah cintai?" Beliau menjawab, "Al-Hal wa al-murtahal." Orang ini bertanya lagi, "Apa itu al-hal wa al-murtahal, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Itulah orang yang membaca al-Quran dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai, ia mengulangi bacaannya lagi dari awal." (HR at-Tirmidzi). .

Karena itu Imam al-Ghazali menganjurkan agar kita memiliki wirid harian yang diambil dari al-Quran, jangan sampai hari-hari kita kosong dari berinteraksi dengan al-Quran. Yang lebih bagus tentu membaca al-Quran dari awal sampai akhir dan terus diulangi sedemikian setiap kali khatam membaca seluruh isi al-Quran. .

Namun demikian, al-Quran tak cukup sekadar dibaca. Generasi sahabat menjadi generasi terbaik karena mereka tidak sekadar membaca al-Quran. Minimal ada dua faktor yang menjadi kunci utama mereka mencapai generasi terbaik. Pertama,  karena mereka menjadikan al-Quran sebagai satu-satunya pegangan hidup. Mereka membuang jauh-jauh berbagai ‘pedoman’ kehidupan selain al-Quran. Kedua, ketika membaca al-Quran mereka tidak memiliki tujuan-tujuan untuk semata-mata mengejar pahala, atau untuk sekadar pengetahuan, menikmati keindahan bahasanya ataupun tujuan-tujuan lainnya. Namun, tujuan utama mereka adalah mengamalkan isi al-Quran itu secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan mereka. .

Semoga kita pun bisa seperti para sahabat: menjadi generasi terbaik karena mengamalkan seluruh isi al-Quran. .

CintaQuranFoundation
Satu hati menggemakan #IndonesiaCintaQuran
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Call / WA / SMS :0812 8080 2005
Instagram, Facebook, Twitter: @cqfoundationid - #regrann

Iman, Islam dan Ihsan

Umar bin al-Khaththab ra. berkata: Ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah saw. pada suatu hari, tiba-tiba tampak di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenal dirinya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah saw., menempelkan lututnya pada lutut beliau dan meletakkan tangannya di atas paha beliau .

Selanjutnya ia berkata, "Muhammad, beritahu aku tentang Islam?” Rasulullah saw. menajwab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah; mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan shaum Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu.” Orang itu berkata, "Engkau benar." Kami pun heran. Ia bertanya lalu membenarkan jawabannya .

Orang itu berkata lagi, “Beritahuaku tentang iman." Rasulullah saw. menjawab,"Iman itu engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, Hari Kiamat dan takdir yang baik maupun yang buruk." Orang itu berkata," Engkau benar." .

Orang itu berkata lagi, "Beritahu aku tentang ihsan." Rasulullah menjawab, "Ihsan itu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia. Jika engaku tidak sanggup melihat Dia, sungguh Dia pasti melihat kamu.” … Kemudian pergilah ia, sementara aku tetap tinggal beberapa lama. Lalu Rasulullah saw. berkata kepadaku, "Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?" Saya menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau lalu berkata, "Ia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajari kalian tentang agama.” [] .

CintaQuranFoundation
Satu hati menggemakan #IndonesiaCintaQuran
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Call / WA / SMS :0812 8080 2005
Instagram, Facebook, Twitter: @cqfoundationid - #regrann

Syara’ telah memberi petunjuk pada kita bahwa kewajiban lebih utama dan paling dicintai Allah dari yang sunnah, dan yang sunnah tentu jauh lebih utama dari yang mubah (boleh). Dalam hadits qudsi disebutkan:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Dan tidaklah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku seorang Hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai daripada dia menjalankan kewajibannya. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah hingga Aku mencintainya.” (HR. al Bukhari)

Begitu juga diantara kewajiban-kewajiban, ada kewajiban yang lebih utama, kewajiban yang dengannya agama ini bisa tegak dan terlaksana, kewajiban yang tidak sedikit kaum muslimin sekarang mengabaikannya, kewajiban yang bila kita berdiam diri darinya maka kemaksiyatan berkembang pesat, kewajiban yang bila dia tidak tegak maka ikatan Islam akan lenyap satu ikatan demi satu ikatan, hingga akhirnya shalatpun jadi terabaikan ditengah masyarakat.
.
Adalah suatu amal utama jika kita mengisi sisa-sisa umur kita dengan beraktivitas untuk mewujudkannya, tentunya tanpa mengabaikan kewajiban yang lainnya. Semoga harta dan anak-anak kita yang begitu menyita waktu dan perhatian kita, tidak membuat kita lupa akan tanggung jawab ini.
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ – اعوذ بالله من الشيطان الرجيم – وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ ءَامِنُونَ
“Bukanlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian yang dapat mendekatkan diri kalian kepada Kami; tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, merekalah yang mendapatkan pahala yang berlipat ganda karena apa yang mereka kerjakan. Dan mereka akan berada di tempat-tempat yang tinggi (surga) dalam keadaan aman.” (QS. Saba : 37)

Majelis Cinta Quran

Satu hati menggemakan
#IndonesiaCintaQuran

#majelis #cintaquran #kajian #islam #indonesia #bogor #quran

Menjadi Manusia Terbaik dengan al-Quran

Secara fitrah, kebanyakan orang ingin menjadi yang terbaik dalam hal apapun dibandingkan dengan orang lain. Jika dia kaya, dia ingin lebih kaya lagi, kalau bisa menjadi yang paling kaya. Jika dia pintar, dia ingin lebih pintar lagi, kalau mungkin menjadi yang paling pintar. Jika dia kuat secara fisik, dia ingin lebih kuat lagi, kalau mungkin menjadi yang paling kuat. Jika dia pejabat, dia ingin meraih posisi jabatan yang lebih tinggi lagi, kalau mungkin yang paling tinggi. Jika dia penguasa, dia ingin menjadi penguasa yang lebih tinggi, kalau mungkin menjadi yang paling berkuasa. Demikian seterusnya. Dia selalu ingin menjadi yang terbaik. Tidak ada seorang pun yang ingin lebih buruk apalagi yang terburuk dibandingkan dengan orang lain.
.

Namun, ada yang menarik yang diucapkan oleh Rasulullah saw., yakni sabdanya, "Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan al-Quran." (HR at-Tirmidzi). Dalam hadis di atas Rasul saw. tidak menyebut bahwa orang yang terbaik adalah yang paling pintar, paling kaya, paling kuat, paling tinggi jabatannya atau paling berkuasa; tetapi orang yang mempelajari dan mengajarkan al-Quran. Sederhana bukan?
.
Jadi buat apa kita pintar, kaya, kuat menjadi pejabat tinggi bahkan menjadi orang yang paling berkuasa jika kita tidak bisa mempelajari dan mengajarkan al-Quran. Sebabnya jelas, keistimewaan seorang Muslim itu salah satunya ada pada kemauannya untuk selalu mempelajari dan mengajarkan al-Quran. Sebaliknya, jika boleh diambil pemahaman terbalik dari hadis tersebut, boleh jadi orang yang terburuk adalah yang enggan mempelajari dan mengajarkan al-Quran. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Aamiin
.

Indonesia Bisa Baca Quran
Satu hati menggemakan
#IndonesiaCintaQuran
. ==================
Call / WhatsApp / SMS :
0822 1181 0004
Facebook, Instagram, Twitter :
@ibbqid

Most Popular Instagram Hashtags