[PR] Gain and Get More Likes and Followers on Instagram.

aviliaarmiani aviliaarmiani

329 posts   3626 followers   604 followings

A V I L I A  Seorang Hamba Allaah Penulis Catatan Diri Media lain (jika malu menunjukkan identitas diri) untuk memberi kritik dan saran : @avarm3197 via Ask.fm

https://avilia-armiani.tumblr.com/

“Dari luka : saat ini aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa indah bukanlah satu-satunya sebab cinta itu bisa tumbuh dan berkembang. Dan untuk bersamamu, cinta ku harus punya ilmu” 一 Kak Uni
.
.
#photowalk
#photograph

Jadi, apa kabarnya do’a?
Masihkah semangat melambungkan do’a-do’a?
Masihkah menjadikan do’a itu sebagai penyemangat dan pengokoh langkah-langkah yang diitari berbagai macam masalah?
.
Jika masih, selamat!
.
Maka kamu adalah seorang hamba yang kuat, sebab nalurimu telah menyadari, bahwa kekuatan seorang Muslim itu berada tepat pada bait-bait do’anya
.
Berdo’alah, jangan biarkan ikhtiyarmu melemah
.
Catat, Vil! 📝📝📝

Barangkali, keinginan kita meledak berkata "harus sekarang", hingga kita mengejar mati-matian tanpa batas
.
.
Tapi, ternyata.. Allaah inginnya kita sabar, lalu kemudian Dia memberi jeda, memilih waktu terbaik yang paling tepat untuk kita. Tetaplah khusnudzon, Vil.. :)

Sebelum mengetahui cara terjytunya, perlu kita tahu, bahwa ada empat tipe orang yang berbeda-beda ketika menghafalkan sesuatu;
.
Pertama; Orang yang cepat menghafal dan sulit lupanya.
Kedua; ialah orang yang lambat hafalnya, namun lambat juga lupanya. (Hehe kalau nggak bisa kayak yang pertama mah, ini juga gakpapa yeu? :’’D)
Ketiga; Cepat hafalnya, cepat lupanya.
Keempat; Orang yang lambat hafalnya, EH cepat pula lupanya. (Huhu, nah ini nih, jangan-jangan tipe saya begini nih, Astaghfirulaah. Astaghfirullaah, Jangan ah ya :’’ )
.
Nah, sebuah langkah awal untuk memulai, kita harus meluruskan niat kita terlebih dahulu. Untuk siapa kita belajar, dan untuk apa kita belajar. Lha, uwong karate aja, kita harus atur nafas, kuda-kuda dan sebagainya, apalagi kalau kita mau belajar, mau menghafal? Yegak? .
“Eh anak karate, Vil?”
Hehe, bbb..bukan. Dulu SMP pernah ikutan aja beberapa pertemuan😂
.
Oke kembali kesini, Ust A. Hidayat Hafizhahullaahu, mengatakan, bahwa pada umumnya niat itu ada dua faktor. faktor intriktif dan faktor ekstriktif. Faktor intriktif, ialah faktor yang muncul untuk dirinya sendiri. Misal seperti kita para penuntut ilmu, ngumpulin ilmu itu buat apa sih? apakah untuk kumpul saja, atau pengen tau dan berilmu saja? Sedangkan faktor ekstriktif ialah faktor dari luar. Jadi ilmu itu sekedar untuk menjembatani kita saja. Seperti mencari kerja, mengambil pangkat atau jabatan.
.
Islam.. tidak berpihak pada keduanya, karena Islam memadukan dua faktor ini pada satu niat ialah untuk Allaah Azza Wa Jalla. Jika kita belajar sekedar ingin melekat pada diri sendiri, pasti usia pada akhirnya akan menggerogoti kita. Menunjukkan, bahwa kita jelas memiliki keterbatasan. Lantas, jika batas ini sudah hilang maka daya ingat pun akan semakin berkurang. Sama juga dengan kepentingan dunia, saat dunia dicapai maka ilmu jua akan berkurang.
Maka titipkanlah ilmu itu kepada yang tidak memiliki keterbatasan
.
Siapa?
Allaah.
Allaah.
Dan hanyalah Allaah.
.
(Kisah kerennya lanjut via comment)
⤵️⤵️⤵️

Tanyakanlah semua perihal itu pada hatimu.
Adakah kamu cintakan dia karena Allaah?
Adakah kamu maukan dia karena Allaah?
Sebab, jika kamu berkata sekedar aku cinta dan maukan dia saja, nafsu pun bisa jadi dalangnya
.
Nak, cinta yang karena Allaah ialah cinta yang Agung. Yang tidak melukai, tidak mencurangi, dan tidak menimbulkan ke-kurang-nyaman-an dari segala sisi
.
Cinta yang karena Allaah ialah cinta yang Akbar. Yang tidak menuntut kepemilikan, serta tidak menimbulkan mudhorot bagi orang-orang disekitar. Tetapi dia membawamu semakin mendekat dan berpasrah hanya kepada Allaah semata
.
Ketika kamu jatuh hati, Nak
Jangan dulu tergesa menyimpulkannya sebagai cinta. Karena menyimpan sebuah rasa disaat dua hati belum berpaut karena-Nya adalah sebuah kekaguman yang tumbuh karena kebaikannya saja. Sedang kekurangannya.. (masih) kasat mata

©aviliaarmiani

“Sebuah kesabaran benar-benar membutuhkan sekelumit proses. Kesabaran tidak akan serta merta datang hanya ketika lisan telah berkata, bahwa, ‘Saya ingin menjadi orang yang bersabar’. Namun, lebih dari itu. lebih dari sekedar kalimat saya harus bisa sabar.”

Dan nyatanya benar begitu. Dahulu, saya pikir sabar itu mudah, sabar itu gampang. Sebab, saya melihat semua itu pada sosok malaikat hidup saya; ialah Ibu
.
Ibu tidak pernah berkata, ‘Ibu ini sabar’, tetapi ibu memperlihatkannya ketika saya berbuat salah dan ibu segera tersenyum setelahnya
.
Ibu tidak pernah berkata, ‘Ibu ini sabar’, tetapi ibu senantiasa mengulang-ulang jawaban ketika saya bertanya hal yang sama terus-terusan
.
Dahulu, saya pikir, sabar itu ada batasnya. Sebab setiap orang dewasa disekitar saya (saat itu) berkata; ‘Sabar itu ada batasnya.’, atau ‘kesabaranku sudah habis. awas liat aja!’. Tapi nyatanya,
.
Ibu berkata, ‘Nak, sabar itu tidak ada batasnya. Sabar itu tidak ada habisnya. Mau? kedekatan kamu dengan Allaah ada batasnya?’
.
Kini, setelah saya (sedang)belajar dewasa, saya mengerti, bahwa sabar bukanlah hal yang mudah, sabar bukanlah hal instan yang bisa didapatkan dengan cuma-cuma,
Air mata harus tumpah berkali-kali, emosi harus diredam dengan khusnudzon yang didatangkan bertubi-tubi. Rindu dan berbagai macam perasaan pun harus siap tanggap dan dengan tepat ditangani.
Oleh karena itu, Allaah sangat suka, Allaah sangat cinta pada mereka. Dan Allaah, memuji mereka yang menahan dan menghias diri dengan warisan agung para Nabi, apa itu? Sebuah Kesabaran.
.
.
Catatan Diri Seorang Hamba, 02

“Wahai saudaraku, aku ingin bertanya sesuatu hal padamu.” Tanya seorang Syaikh.
“Dan aku sebenarnya sudah mengetahui jawabannya, aku hanya ingin memastikannya. Siapapun yang mendengarnya, Jika kalian mengaku mencintai Allaah, angkatlah tangan kalian” Lanjut Sang Syaikh
.
Serentak, saya rasa seluruh hadirin akan mengangkat tangan kanannya. Tidak setengah-setangah, melainkan tinggi-tinggi. menjulang keatas. Hey, memangnya siapa muslim yang tidak mau mengaku bahwa ia mencintai Allaah?
Saya pun seolah turut ada diantara mereka, kemudian saya mengangkat tangan kanan saya. Ya, saya mencintai Allaah, batin saya
.
Dan tentu saja, jika salah satu dari pembaca tulisan ini ingin ikut membuat pengakuan, angkat saja tangan kalian. Atau cukup, ucapkan saja, saya mencintai Allaah. saya yakin, hati kalian tidak akan mengingkarinya, bahwa kalian pun akan berkata demikian
.
Kemudian, selang beberapa menit, Syaikh itu bertanya kembali; “Lalu apa, bukti cinta dalam hatimu itu?”
.
Deg. Deg. B..bbbukti?
.
Entahlah, ada sesuatu yang aneh disini. Perasaan seperti saya ingin mendapat nilai bagus, tetapi saat tiba ujian, soal yang saya kerjakan mutlak berbeda dengan apa yang telah saya pelajari
.
“Apa bukti cinta yang ada didalam hati kalian?” Aih, Pertanyaan itu terngiang-ngiang.
.
Masih dalam pertanyaan yang memerlukan jawaban, saya jadi teringat perkataan Bunda, salah seorang Murabbi saya. Bahwa kelak pada hari kiamat akan ada manusia yang Allaah bangkitkan dalam keadaan buta. Kedua matanya tidak mampu melihat seperti saat hidup didunia. Maka hamba itu berkata kepada Allaah, ‘Ya Allaah, mengapa Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta? Padahal dahulu didunia aku dapat melihat.’ Maka Allaah Ta’ala berkata, ‘Demikianlah, karena dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan engkau malah melupakannya. Dan begitu pula pada hari ini engkaupun dilupakan.’
.
Lalu, bagaimana dengan diri ini? Sami’na wa Atho’na. Kami dengar, dan kami taat Yaa Allaah..
Tapi tidak adakah yang diri ini takutkan? Bahwa pada kenyataannya, bukanlah kami dengar dan kami taat. Melainkan, kami dengar, dan kami melupakan. Naudzubillaah . *mulai gerimis*
...
(lanjut via comment)

Bagaimana kabarmu, dek? Dua tahun lebih sudah kita tidak bertemu. Semoga, Allaah selalu melindungimu
.
Dek, mau tidak, kakak tuliskan sesuatu perihal waktu?
.
Waktu,
Adalah waktu. Yang sedemikian cepat berlalu dengan membawa perubahan yang nyata dan kerap membawaku pada rindu.
Adalah waktu, yang sudah membawaku menginjakkan kaki diusia kepala dua, dan kau dibulan depan tepat menjadi pemuda berusia enam belas tahun. InsyaAllaah
.
Waktu, betapa semua itu benar-benar cepat berlalu, ya, adikku?
.
Dahulu, kau ingat? Kakakmu adalah seorang bocah yang suka sekali mengusili adik laki-laki yang Allaah berikan padaku, yaitu kamu. Satu satunya saudara. Satu satunya bagian dari Cinta yang Sebenar-benarnya Cinta.
Dahulu, rumah kita selalu ramai karena tingkahku yang menjailimu, menakut-nakutimu ketika masuk ke toilet. Mematikan lampu kemudian membuatmu menangis dan kakakmu ini jadi dicubit oleh Ibu. Kita senang sekali bercanda, tapi, seringnya bertengkar
.
Memperebutkan makanan, channel tv, dan masih banyak lagi
.
Dahulu, ya, Dek. Dengan mudahnya kita saling tertawa. Hanya karena hal-hal sepele yang rasanya indah sekali jika diputar dalam bingkai nostalgia
.
Sekarang, adik laki-lakiku ini, sudah tumbuh besar. Kamu sudah lebih tinggi dariku, Dek. Suaramu berubah, cara berbicaramu juga berubah. Tidak hanya itu, barangkali, kini hatimu pun, telah berubah, ya?
.
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, dek. Memang masanya semua perubahan itu akan terjadi. Dimana kamu akan lebih cepat merespon chattingan temanmu dibanding kakakmu. Lebih cepat menjawab panggilan temanmu daripada ibumu, tak terkecuali,
Kau akan lebih mudah sekali tersenyum karena perempuan lain dibanding karena Ibu dan kakakmu
.
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, dek. Jatuh Cinta, memang sudahlah fitrahmu. Tapi satu pesan kakakmu, jangan sampai perubahan itu membuat Allaah jauh darimu. Jangan sampai, fitrah itu melenakan dan membuatmu abai akan perintah dan larangan Rabb-mu
.
Dek, kau ingat? Kita pernah ngaji bersama. Dan kau, sangat suka ketika mendengar kakakmu ini menceritakan beberapa kekisah. Kau pernah terbata-bata bersama kakak, kau pernah berjuang di iqro 5 bersama kakak. Bagaimana, ingaat? Ah, Rindunya!
...
⤵️⤵️⤵️

Adalah sebuah kisah yang dicantumkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari dengan sanad yang baik. Satu Dirham Surga, Imam Abu Dawud Rahimahullaahu
.
Saat itu beliau sedang berada diatas perahu penyeberangan sungai Dajlah. Berbekal 1 dirham disakunya, beliau, Abu Dawud menyisiri sungai dan berihlah untuk mengumpulkan hadist Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wa sallam
.
Saat perahu mulai berlabuh, salah seorang dipinggiran sungai bersin dan berkata, 'Alhamdulillaah.', segala puji bagi Allaah
.
Mendengar itu pun, Abu Dawud berkata kepada pengemudi kapal,
"Pinggirkan perahunya sebentar."
"Tidak bisa, itu akan mengganggu perjalanan."
"Pingirkanlah, ini hanya sebentar. Sebentar saja."
"Tidak boleh. Tidak."
.
Beliau merogoh sakunya dan mengambil uang satu dirham yang menyempil sendirian disana sembari berkata, "Pinggirkanlah perahunya sebentar."
.
Sang pengemudi akhirnya mengiyakan permintaan Abu Dawud. Sesampainya di pinggiran sungai, beliau menjawab do'a orang yang bersin tersebut, 'Yarhamukallaah.' Sontak, semua terkejut. Tak terkecuali orang yang bersin, 'ada orang turun dari perahu hanya untuk mendo'akanku?', barangkali itu yang terlintas dalam fikirannya. Karena mendengar ada yang mendo'akan, ia pun menjawab; 'Yahdikumullaah wa yuslihu baalakum.'
.
Abu Dawud kembali naik ke perahu, semua berkata,
"Kamu turun? Kamu rela bayar 1 dirham hanya untuk menjawab orang yang bersin?"
"Yaa.." Jawab Sang Imam.
"Mengapa? Kenapa kamu melakukan itu?"
"La Allaahu ayakunna min mujabidda'wah, Moga-moga, dia adalah orang yang didengarkan do'a nya oleh Allaah, dan do'a nga dikabulkan ketika mendo'akan balik kepadaku."
...
(more via comment)

Mencegah atau mengobati?
Kebanyakan orang, khususnya diri saya pribadi pasti akan menjawab,
.
'Hmm, Mencegah dong!'
.
Jelas~~
Tapi sadarkah kita, bahwa action seringkali berkata lain daripada ucapan kita(?) As simple as me, saya suka sekali makan mie (huhu jangan ditiru ya, ndak baik) tapi saya seringkali abai dan 'ah gakpapa lah, besok nggak lagi ini' ketika dikasih tau buat jangan banyak-banyak makan mie
.
Ya iya sih, benar tahu bahayanya, benar tau nggak baiknya buat kesehatan, tapi masih aja bandel dan ngeyel. Bilangnya mah, 'mencegah dong dari pada mengobati', Tapi kenyataannya, 'yaah kalaupun nanti sakit, masih ada kesempatan mengobati' *hiks*
.
Ada sebuah analogi yang diberikan oleh Pak Lik saya, kurang lebih begini;
.
Anggaplah ada sebuah Kebun Binatang, dalam papan gerbang tertulis jelas bahwa tiket masuk terbilang, Rp 50.000,-/orang. Karena tak ada satu pun pengunjung yang datang, harga tiket diturunkan. Rp 25.000,-/orang. Keadaan masih sama, tidak ada tanda-tanda pengunjung yang akan datang. Tiket kembali diturunkan hingga sampailah tertulis 'TIKET MASUK GRATIS'
.
Serempak, pengunjung berdatangan. Mereka berbondong-bondong membawa sanak-saudaranya. Menikmati wisata gratis tanpa keluar modal barang seribu rupiah. Mereka begitu asik, cekrek sana cekrek sini, lari ke sebelah kanan, terus pindah kekiri. Tapi tatkala sedang asik-asiknya bergembira, ternyata sang Petugas Kebun Binatang mengunci semua pintu keluar. Kandang-kandang binatang buas dibuka lebar. Pengunjung bubar, berlarian kesana kemari, mereka berebut ingin segera keluar agar bisa selamat dan lolos dari terkaman singa, macan dan puluhan ular
.
'KELUAR BAYAR RP 500.000,-' Tertulis jelas pada papan
.
Tidak pikir panjang, semua pengunjung pun mengeluarkan uang dengan cuma-cuma. Tidak perduli lagi seberapa pun banyaknya, sudah pasti, akan mereka bayar tanpa mau berlama-lama.
.
'alaah yang penting awakku ndak modyar' barangkali begitu pikirnya
.
Taukah kita? Apa pesan moralnya? Kebanyakan orang, dan khusus..khusus saya pribadi, ketika dianjurkan hidup sehat, pola makan yang teratur, istirahat yang cukup. Saya malah santai saja, memandang sebelah mata
...
✌︎more via comment✌︎

Repost,
Author : Choqi Isyraqi
...
HARGA KESABARAN
___
“Sabar itu mahal ya?”
“Ah, kata siapa? Emang ada harganya?”
.
Ada barang yang tidak nampak bentuknya, tapi bisa memiliki harga. Namanya kesabaran.
Baru kemarin sore saya mendengar sebuah aplikasi pemutar musik online. Begitu senangnya kita bisa memutar lagu secara gratis dan mudah. Namun, setiap kali beberapa lagu selesai, selalu saja ada jeda beberapa detik berupa iklan dari aplikasi tersebut.
“Ah, sudah tunggu saja, cuman beberapa detik”. Beberapa kali, saya berpikir seperti itu. Tapi lama-lama, saya cukup jengah mendengar iklan ketika kita sedang menikmati alunan musik tersebut. Tidak hanya saya, sebagian teman di kantor pun merasakan hal itu, hingga akhirnya, beberapa dari mereka membeli aplikasi tersebut
.
Namun sebenarnya, apa yang kita beli? Apakah aplikasinya? Bukan, toh lagunya tetap bisa kita nikmati, tetap bisa kita putar. Ternyata, kita itu sedang membeli waktu. Membeli waktu yang tidak ingin kita sia-siakan untuk menunggu sesuatu yang kita inginkan, membeli waktu yang tidak bisa dihapadi oleh kesabaran kita
.
Uang yang kita keluarkan, adalah harga kesabaran kita

Tak hanya itu, dulu pun saya pernah bermain sebuah permainan di Handphone. Permainan itu sungguh menarik. Hingga akhirnya saya berada di sebuah kondisi dimana saya harus mengalahkan lawan yang kuat, namun skill saya stuck pada level tersebut. Di satu sisi, meningkatkan level agar bisa melawan musuh yang kuat itu memakan waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, saya membeli barang-barang yang dijual di game tersebut dengan uang sungguhan. Karena ketidak sabaran saya, maka saya harus mengeluarkan dana hanya untuk sebuah hal yang sebenarnya bisa dilewati dengan kesabaran
.
Jika merenungi hal ini, tanpa disadari, seringkali kita harus mengeluarkan sejumlah biaya hanya karena ketidaksabaran kita
.
Seperti para pembuat SIM yang tidak sabar untuk belajar motor namun ingin segera berkendara sehingga harus bayar kepada “oknum”.
Seperti para “Penjilat” yang tidak sabar menanti admininstrasi namun ingin segera selesai sehingga harus bayar kepada “petugas nakal”
...
lanjut comment

Saya pernah mendapatkan sebuah pertanyaan, ‘semudah apakah memaafkan?’
.
Saya terdiam beberapa saat. Semudah apa? semudah apa, yaa? hmm, batin saya

Memaafkan, adalah sebuah kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. karena pastinya, setiap anak telah mendapatkan sebuah pelajaran tentang bagaimana kita harus meminta maaf dan memaafkan. Bagaimana ketika dahulu ibu saya berkata, ‘Nak, ibu minta maaf ya, blablabla.’ atau, ‘Nak, tadi bikin Ganjar (anak budeh saya) nangis ya? sudah minta maaf?’ dan beberapa kalimat senada yang lainnya
.
Tanpa disadari, kalimat maaf sudah begitu melekat didalam tumbuh kembang kita sebagai anak-anak. Namun, saya rasa, oh atau apakah ini perasaan saya saja? Semakin dewasa justru penerapan kalimat maaf itu sendiri menjadi semakin (di-)susah(-kan) saja. Tidak seperti sewaktu saya duduk di bangku SD dulu, saya nakal, teman saya timpuk, nangis, saya minta maaf, terus habis itu.. Udah. Baikan. Bel pulang sekolah gandengan lagi, main petak umpet bareng lagi, main layang-layang disawah bareng lagi. Tapi sekarang, ketika saya minta maaf, ada saja rasa nggak enak didalam hati. Atau ketika saya memaafkan, ada saja rasa masih susah melupakan
.
“Ya dia mah kalau minta maaf dimulut aja, actionnya en-o-l”
“Ya gimana gak kesel, minta maaf, diulang lagi. Diulang lagi.”
Atau kalau dari pihak yang meminta maaf,
“Yaa. aku kan udah minta maaf.”
“Mau dimaafin atau enggak itu terseah dia kok.”
*tepuk-jidat*
.
Wahai diri, memaafkan itu tidak mengenal batas kesabaran, sabarmu tidak boleh ada garis perbatasan. Maka, jika masih ada, hapus lah garis itu dengan perlahan. Dengan istighfar dan kalimat-kalimat dizikir mengingat kebesaran Allahul Kariim.
Dan, diriku, pahamilah, bahwa kalimat maaf itu bukan sebuah senandung yang bisa kapan saja kau dendangkan. Ia memiliki tanggung jawab, memiliki perhitungan dan kehormatan dimata manusia apalagi Allaah yang disisi-Nya ada timbangan. Jadi, jagalah permintaan maafmu, jagalah kepercayaan orang lain yang telah diberikan kepadamu. Dan jagalah dirimu, dari mengecewakan orang lain, apalagi Rabb-mu
...
lanjut via comment

Most Popular Instagram Hashtags