[PR] Gain and Get More Likes and Followers on Instagram.

abjadevolusi abjadevolusi

557 posts   11145 followers   87 followings

ABJAD EVOLUSI 🌀  ¬ Moderat Egaliterian ¬ Anti Diskriminasi ¬ Menolak Kebenaran Absolut ¬ Sejarah adalah Senjata Damai Tanpa Darah ➖➖ ©AKSARA | ILMU ALAM SEMESTA

http://abjadevolusi.com/

.
**
Abdurrahman Wahid, sebagai orang yang bisa dianggap pertama kali mengangkat tema ini pasca-1965, melalui tulisannya pada 1982, “Pandangan Islam Tentang Marxisme-Leninisme”, sebenarnya sudah dengan baik  menjelaskan bagaimana seharusnya, atau sebaiknya, sikap dan pandangan muslim Indonesia terhadap komunisme atau Marxisme-Leninisme—terlepas dari beberapa kritik terhadap pemahaman Gus Dur sendiri terkait Marxisme.

Ia menyadari, persepsi yang buruk di kalangan muslim Indonesia akan komunisme, tak bisa dilepaskan dari memori kolektif dan kejadian tak mengenakkan di masa lalu terkait hubungan keduanya. Contoh utama yang bisa disebut, misalnya, adalah pembunuhan yang dilakukan kelompok-kelompok yang mengaku komunis terhadap umat Islam, bahkan tokoh-tokohnya, dalam peristiwa Madiun 1948. Namun, alih-alih disebabkan perbedaan ideologis yang fundamental, menurut Gus Dur, konflik keduanya dalam berbagai peristiwa lebih dikarenakan faktor politik kekuasaan yang dibarengi politik identitas. Karenanya, baginya, sudah saatnya muslim Indonesia bisa memisahkan antara Marxisme sebagai ide dengan kelompok-kelompok dan tindakan-tindakan yang mengatasnamakan Marxisme-Leninisme.

Apa yang menyebabkan Gus Dur merasa tertarik untuk mengangkat kembali Marxisme yang dipariahkan sejak 17 tahun sebelumnya, dan perlu untuk “membersihkannya” dari noda-noda, padahal—sebagaimana ditulikannya—ketika itu Uni Soviet yang dianggap sebagai kekuatan utama Marxisme-Leninisme justru sedang menginvasi Afghanistan yang berpenduduk mayoritas muslim?

Selain karena ia melihat “adanya titik-titik persamaan yang dapat digali antara Islam sebagai ajaran kemasyarakatan dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi politik”, saya kira, karena ia juga menyadari betul bahwa Marxisme berpengaruh besar terhadap bapak-bapak bangsa dan berperan besar di era perjuangan kemerdekaan, sebagai pisau analisa terhadap kondisi kolonialisme yang dialami bangsa Indonesia ketika itu. (Islam Bergerak. Red)

Kontributor Gambar : @cantique_wenz

#abjadevolusi #SabdaPerubahan #GusDur #Marxisme #Komunisme

.
**
Ralat teks "BERBUAT BAIK ITU TAK PERLU BERHARAP PAHALA, PAHALA ITU BONUS. ITU MAKNA HUMANISME". .
.
Humanisme lebih mulia dari kehendah spiritualmu atas kebaikan.

#abjadevolusi #indonesia

.
**
-----------------
Menandai peringatan dari suatu pertempuran menentukan tahun 1958 dalam Revolusi Kuba, yang dimenangkan oleh pasukan revolusioner dari gerakan 26 Juli, yang menyematkan kepada Che Guevara reputasi revolusioner-nya, serta yang memaksa diktator Jendral Fulgencio Batista melarikan diri.
_
Guevara memimpin para pasukan bersama Jaime Vega dan Camilo Cienfuegos, bersama Fidel berjuang untuk mengambil kendali atas titik-titik pulau yang berbeda. Rakyat Santa Clara, yang kebanyakan adalah para petani pendukung revolusi, menggunakan bom molotov untuk membantu para pemberontak.
_
Che berhasil mengambil alih sebuah kereta bersenjata yang memuat sejumlah besar persenjaaan untuk membantu kemenangan pasukan-pasukan revolusioner. Hal ini nantinya memberikan para pejuang revolusioner kekuatan yang mereka perlukan untuk melaju menuju Havana dan mengambil-alih ibukota. Kereta bersenjata atau "Tren Blindado" berdiri sebagai sebuah monumen nasional dan taman sejarah di kota Santa Clara. Kota ini masih disebut sebagai "kota para pahlawan gerilya."
_
diterjemahkan dari @telesurenglish
•••
Content by @jurnalsosialis
#abjadevolusi #jurnalsosialis #che #cheguevara #kuba #nkri #pancasila #indonesia

.
**
Di muka Bumi ini tidak ada satupun yang menimpa orang-orang tak berdosa separah sekolah. Sekolah adalah penjara. Tapi dalam beberapa hal sekolah lebih kejam ketimbang penjara. Di penjara, misalnya, Anda tidak dipaksa membeli dan membaca buku-buku karangan para sipir atau kepala penjara.

Maka, sadarkah bahwa anda adalah bagian dari penghuni nerakanya para NAPI?
😪😪
.
.
.
Bernard Shaw

#abjadevolusi #sekolah #sekolahadalahpenjara #bernartshaw #bumimanusia #nkri #pancasila #indonesia

.
**
Agama di ciptakan untuk meredam kekacauan, dan mewujudkan kesejahteraan, kedamaian dan ketenteraman.
Maka, jika ada yg memakain dalih agama dengan menebar kebencian dan mengajak perang dan tetek bengeknyaa. Mungkin bukan agama yg sedang ia pakai, tapi..... (jawab di komentar) 😂😂 #abjadevolusi #agama #nkri #pancasila #indonesia

Seorang yg terpelajar itu harus adil sejak dalam pikiran. Jika tidak, lenyaplah kemanusiaanya!

#abjadevolusi #pram #PramoedyaAnantaToer #bumimanusia #nkri #pancasila #indonesia

.
**
Setiap kekurangan dan kelebihan adalah keabsolutan yg setiap makhluk miliki.
Maka, pahamilah kekurangan dan kelebihanmu dan cobalah sejenak memahami itu pada orang lain, jika kamu bisa maka kamu manusia yg sadar kemanusiaanmu.
.

Gus Mus
@s.kakung

.
**
Sulit untuk tidak mengatakan bahwa fenomena kegilaan dalam beragama belakangan ini telah menciptakan nuansa teror dalam masyarakat. Bukan saja kasus kekerasan terhadap para pemuka agama, namun lebih jauh telah mengusik kehidupan antarumat beragama. Bukan suatu kebetulan bahwa serangkaian aksi kekerasan terhadap para tokoh agama jelas dilakukan oleh mereka yang melampaui batas atau kegilaan.

Saya berasumsi, karena teror ini terkait dengan agama dan para tokohnya, maka para peneror itu adalah “orang gila” yang melampaui batas keagamaannya. Mereka berpikir, bertindak, dan melakukan aksi kekerasan atas dasar kegilaan terkait dengan persepsi keagamaan yang mereka yakini sendiri.

Kegilaan sebagaimana disebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “kegemaran (keasyikan, kesukaan) yang berlebih-lebihan; sesuatu yang melampaui batas” yang tentu saja menciptakan kekacauan situasi sosial. Dalam bahasa agama, sikap ini disebut “ghuluw” (melampaui batas). Jika dikaitkan dengan keagamaan, kata “ghuluw” mengandung pengertian yang “menguatkan” (mubalaghah) terhadap sikap berlebihan dan melampaui batas dalam konteks beragama.

Bahkan istilah ini memiliki konotasi luas, baik dalam hal berpikir atau bertindak yang melebihi batas, sehingga seseorang yang sudah “ghuluw” dapat sangat mudah diarahkan kepada hal-hal yang bersifat merusak. Oleh karena itu, sikap ekstrem dalam beragama disebut “maghaalaat” yang cenderung menyulitkan (masyaqqah) dirinya sendiri, sehingga membawa seseorang kepada hal-hal yang selalu bertentangan dengan prinsip keagamaannya.
Apalagi isu teror terhadap pemuka agama belakangan ini, konon, dilakukan oleh orang gila. Ya, karena orang-orang waras tak mungkin melakukan aksi kekerasan, terlebih mereka memiliki kewarasan berpikir yang dibimbing nilai-nilai keagamaan. Kegilaan tentu saja menutup daya akal sehat untuk berpikir waras, sehingga memicu aktivitas yang melampaui batas.

Lanjut komentar ⤵️⤵️⤵️
#abjadevolusi #geotimes #nkri #pancasila #indonesia

.
**
Di Istana Bogor, Sabtu, 10 Februari 2018, Presiden Joko Widodo memberikan pesan penting kepada Peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa. Selain menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Afghanistan yang mengalami konflik tidak berkesudahan, ia mengingatkan kembali mengenai Indonesia sebagai negara majemuk, memiliki rasa toleransi, dan kebersamaan yang kuat.

Di sini, para pemuka agama menjadi medium penyampai yang kuat untuk mengingatkan masyarakat terkait nikmatnya perdamaian dan persatuan. “Jangan sampai lupa tentang anugerah dari Tuhan mengenai ini. Jangan sampai kita lupa nikmatnya kerukunan, karena kita selama ini selalu rukun,” ujar Presiden.

Lebih jauh, ia kemudian mengatakan, “saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Din Syamsuddin, kepada seluruh pemuka agama, peserta musyawarah atas komitmennya untuk memperkuat kerukunan bangsa, serta atas komitmennya memperkokoh NKRI, memperkokoh Pancasila, serta memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika.” Karena komitmen ini dan peran para pemuka agama tersebut, Indonesia dikenal dunia internasional sebagai negara penuh keragaman yang menjunjung tinggi toleransi. Indonesia juga menjadi “contoh masyarakat Muslim yang mengedepankan Islam moderat, contoh keberhasilan menjaga Bhinneka Tunggal Ika”. (www.presidenri.go.id, 11 Februari 2018)

Namun, ucapan Presiden dan pertemuan tokoh agama itu menjadi tamparan keras saat dihadapkan pada peristiwa pembacokan yang terjadi di pagi hari, tepatnya Minggu (11 Februari 2018). Saat jemaat sedang menjalankan ibadah misa di Gereja Santa Lidwina Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping Sleman, Yogyakarta, seorang pemuda masuk membawa pedang. Dengan pedangnya, ia menyerang umat dan pastor dengan membabi buta.

Akibat penyerangan tersebut, ada tiga umat dan Pastor Karl-Edmund Prier SJ, biasa dipanggil Romo Prier, serta satu orang petugas kepolisian yang berusaha menenangkan pelaku, mengalami luka sabetan pedang dan harus dilarikan ke rumah sakit (www.kompas.com 11 Februari 2018). Sampai saat ini pihak kepolisian sedang menyelidiki motif tindakan teror tersebut.

Lanjut komentar ⤵️⤵️⤵️
#abjadevolusi #geotimes #nkri #pancasila #indonesia

.
**
Memasukkan elite militer ke dalam sektor pemerintahan merupakan pola kepemimpinan di masa Orde Baru. Tujuannya sederhana, yaitu untuk menjaga stabilitas nasional dan menstabilkan sistem politik yang diselenggarakan pemerintahan Orde Baru. Secara tidak langsung, pola demikian membuat militer memiliki andil dalam menjaga kelanggengan rezim penguasa ketika itu, karena menjadi pilar penopang pemerintahan.

Imbasnya, terjadi perubahan relasi antara militer dengan pemerintah yang semula sebagai alat negara, menjadi alat kekuasaan. Tidak heran jika kemudian mantan Pangkopkamtib Soemitro mengatakan, kondisi demikian mencerminkan militer (ABRI) mengalami proses down graded (penurunan derajat), dari alat negara menjadi alat kekuasaan politik (Salim Said, 2006). Militerisme semakin menguat diberi jalan dan akses di pemerintahan. Selain Idrus Marham ada nama Moeldoko, jenderal TNI yang diangkat menjadi Kepala Staf Presiden menggantikan Teten Masduki. Penggantian ini kontras. Yang satu (Teten Masduki) adalah nama yang identik dengan hak asasi manusia dan masyarakat sipil, sementara yang satu lagi (Moeldoko) adalah nama militer. Militer yang notabene sering jadi pelaku kekerasan dan pelanggaran HAM oleh negara.

Peran tentara dalam meredam hak politik masyarakat tidak asing bagi para keluarga korban pelanggaran HAM yang saban Kamis berdiri dengan payung hitam di seberang Istana Negara. Aksi Kamisan, begitu disebutnya, menuntut penuntasan kasus dari kejadian yang menghilangkan nyawa orang terkasih. Begitu banyak memori buruk dampak dari adanya akses militer yang offside mencampuri urusan sipil. Kesan Orde Baru bangkit lagi di era Jokowi semakin kuat.

Belum lagi keputusan kontroversial Menteri Dalam Negeri yang mengangkat pejabat dari kalangan kepolisian untuk jadi pelaksana tugas gubernur (pengganti gubernur) di daerah yang melangsungkan Pilkada. Ini sarat akan konflik kepentingan, karena pelaksana tugas bisa menggerakan aparat negara untuk memenangkan calon tertentu. Apalagi ada jendral polisi yang maju jadi calon kepala daerah. Presiden kita sebagai lambang supremasi politik dan sipil belum menunjukkan kepekaannya untuk urusan serius ini.
Lanjut komentar ⤵️⤵️⤵️

.
MENOLAK TUNDUK
~~~~~~~~~~~~~~~~
Pasuruan darurat Agraria, kemana perhatian pemerintah atas kebobrokan hukum dan keadilan ini?
.

#abjadevolusi #agraria

.
**
#Refleksi_26_2007
Setiap orang yang tidak_mentaati
Dan atau melakukan kegiatan" yang mengakibatkan perubahan terhadap #Fungsi_ruang
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda baling banyak 500.juta

Pertanyaan yg muncul kemudian, bagaimana jika ke tidak taatan itu justru dilakukan oleh #pengusaha dan dibekingi oleh #penguasa
Beranikah #Bupati bertindak tegas.. Oleh : Cak Lasminto (Sekjen Papanjati)

#abjadevolusi #agraria #alastelogo

Most Popular Instagram Hashtags